Adab dan Biadab

Oleh: Sunardian Wirodono

 

Adab, dalam KBBI diuraikan sebagai; kehalusan dan kebaikan budi pekerti; kesopanan; akhlak. Contoh: 'ayahnya terkenal sebagai orang yang tinggi adabnya'. Lawan katanya, biadab. Kita tahu artinya bukan?

Konon kabarnya yang bernama kehalusan budi pekerja, atau ketinggian akhlak, itu berkait dengan ilmu dan pengetahuannya. Demikian pula ada yang meyakini, bahwa akhlak seseorang berkorelasi dengan ketakjimannya dalam beragama. Bukankah ada seorang yang mengaku utusan Allah, dan hanya diutus Allah ke dunia ini untuk memperbaiki akhlak manusia? Kalau Tengkuzul lahir di dunia karena diutus siapa, dan untuk apa? Ngetuit mulu?

 

Mari kita lihat berbahayanya klaim antara beragama ekuivalen berakhlak. Karena bahkan Imam Ghazali pun, setelah menulis adanya ulama palsu, mengatakan bahwa belum tentu yang beragama itu berakhlak mulia. Lha kok bisa? Bisa saja! Karena agama tak perlu marah, jika disebut sebagai ‘hanya’ salah satu cara, atau metoda, untuk menuntun manusia menjadi baik adanya. Bukan satu-satunya.

Perkara berhasil atau tidak, sama persis dengan Ridwan Saidi. Konon selama 30 tahun ia belajar sejarah dan bahasa-bahasa dunia. Masalahnya, berhasil atau tkdak? Menjadi pintar atau tidak, setelah 30 tahun belajar? Karena ada yang belajar selama 50 tahun lebih, malah bener-bener makin bodoh, jika bukan otaknya majal.

Dalam dunia politik kita, makin kentara lagi. Agama dan sekolahan tidak menjadi jaminan seseorang beradab, meski belum tentu jadi biadab. Nasir Djamil dari PKS yang konon partai berazas Islam (dan bukannya Pancasila, karena PKS juga plesetan dari Pokoknya Khilafah Solusinya, mirip HTI, ormas yang sudah dilarang) itu, bisa jadi contoh bagus, tak adanya korelasi antara agama dan adab. Begitu juga Fadli Zon, atau Fahri Hamzah misalnya. Atau Tengkuzul, Rocky Gerung, Rizieq Shihab, Amien Rais, Ridwan Saidi, etc, etc. Bagaimana agama dan ilmu pengetahuan tak selalu relevan dengan pikiran serta tindak-tanduk seseorang.

Apakah bersikap kritis, atau menyampaikan kritik pada kekuasaan (sebut sajalah Jokowi), harus demikian buruknya? Tak ada beda dengan manusia-manusia yang tidak terdidik, atau dituding kafir? Apa yang selama ini berdasar atau berdalih agama, justeru hanya memunculkan paradoks. Hingga kita meragukan, benarkah agama yang mereka anut, meski tidak ada agama yang salah (kecuali yang non-Islam, celetuk temen saya. Karena agama yang selain Islam, salah semua).

Sikap-sikap semacam itu, sesungguhnya kontra-produktif. Mencelakakan atau merugikan agamanya sendiri. Kalau mau disadari sekarang. Kalau nantinya tahu-tahu nyesel, kok agamanya makin nggak laku? Meski pun kini, setelah uang, ada banyak agama baru muncul di dunia. Ada agama medsos, agama partai, agama buku, agama tongseng, agama credit card, dan lain-lain. Lebih dari enam agama yang diridloi di Indonesia ini. Dan kamu makin kalut lagi. Terus nelen bom ke mulut ndiri! Sampai ndower kayak iklan jualan pulsa.

 

(Sumber: Facebook Sunardian W)

Monday, September 9, 2019 - 17:15
Kategori Rubrik: