Ada Yang Menua Bersama Kudanya

ilustrasi

Oleh : Rowie Sujudi

"Saya lebih baik kehilangan nyawa dibanding kehilangan harga diri, klaim menang, taunya yg dilantik orang lain."

Benar Bang. Saya sepakat dengan yg Abang katakan. Kalah berkompetisi itu biasa, asal jangan jadi pecundang. Toh, tidak semua pertandingan harus dimenangkan kan Bang?!

Menghindarlah Bang. Jauhi kerumunan. Gak usah ikut-ikutan gila, larut dalam efouria gak jelas atau merencanakan perlawanan yg pasti akan tumpas. Lebih ciamik lagi jika Abang bikin konferensi pers, mengaharap semua pihak untuk dapat menahan diri agar suasana sedikit redam. Jika itu berat, lebih baik Abang menenangkan diri dalam diam.

Iklaskan semuanya Bang. Saya tahu kekecewaan Abang yg telah membakar 1.5 triliun - belum termasuk uang mahar. Mengunjungi ribuan titik di tanah air agar semua sorot kamera tertuju ke Abang adalah pekerjaan yg sangat berat. Apalagi bagi seorang mantan jendral tua, pasti bakal ambruk menahan beban kolesterol dan asam urat.

Istiqomah ya Bang. Abang dikenal moncer di urusan bisnis. Jangan pertaruhkan reputasi itu. Ini negara hukum Bang. Ada pemerintah dan penyelenggara negara yg sah. Menang atau kalah kata KPU, sikap diam tentu lebih bijak daripada sujud sukur atau melakukan klaim sepihak yg hanya berujung malu. Dalam diam publik mungkin akan melihat sosok negarawan muda pada diri Abang ; sabar dan legowo.

Menepilah Bang. Gak ada gunanya hidup dalam khayalan. Gak ada untungnya mengejar ilusi berkepanjangan. Biarkan dia berteriak-teriak hingga serak untuk sesuatu yg mustahil didapatkan. Abang cukup minum air hangat yg banyak biar gak cegukan.

Istirahatlah Bang. Perbanyak istighfar sambil melihat siapa yg masih setia menemani. Tengok juga siapa saja daki-daki hitam yg masih menempel sambil berharap remah-remah recehan dari tubuh tambun yg sering meracau dan sudah kehilangan akal budi.

Bersabarlah Bang. Politik hari ini memang brutal dan kejam. Dia akan menyiksa, menguliti dan mencabik-cabik sebelum membunuh lalu mencampakkan Abang dalam tumpukan sejarah dan masa silam.

Semangat ya Bang. Masih banyak cara mengabdi untuk bangsa ini. Jadilah Abangku yg dulu. Seorang pengusaha muda yg ganteng dengan segala kelucuan dan kesuksesan yg Abang miliki.

Pulanglah Bang. Peluklah anak-anak dan istri yg sudah lama Abang tinggalkan. Bagi mereka, Abang adalah pemenang sejati dari semua pertandingan. Abang tetap menjadi numero UNO bagi Ibu Nur Asia. Habiskan hari-hari Abang dengan segala cintanya. Lupakan ambisi Buto Galiyuk, gak usah hiraukan dia lagi.

Biarkan dia menua bersama kudanya...!

Peluk hangat dan salam hormat 
- Adikmu -

Sumber : Status Facebook Rowie Sujudi

Saturday, April 20, 2019 - 12:30
Kategori Rubrik: