Ada Terang di Papua

ilustrasi

Oleh : Karto Bugel

Kalaulah Covid-19 membuat cahaya jagat ini seolah padam, gelap dunia yang sama terjadi pada kita. Faktanya bencana itu memang tak memilih pada siapa. Semua tiba-tiba merasakan apa itu takut.

Tak mampu melihat apapun sehingga tangan meraba mencari panduan sebagai ganti mata mencari jejak dan tumpuan bagi kaki dapat melangkah seharusnya adalah apa makna takut itu sendiri. Tak ada arah pasti kemana harus berjalan.

Mungkin, tak ada doa dan keinginan apapun selain terang diharap.

Seandainyapun tak ada muncul sinar lemah bintang, mungkin cahaya kunang-kunang reduppun cukup sudah memberi rasa nyaman. Ada terang, ada harapan.

Pandemi Covid-19 nyata-nyata adalah pelaku atas perampokan harapan umat manusia. Ada banyak nyawa saudara telah melayang dan kita tak mampu berbuat banyak.

Lebih jauh, gelap sebagai pengganti harapan yang dirampasnya adalah tentang masa depan kita yang memudar.

Tak ada satupun negara masih tegak berdiri, semua jatuh terkapar dan lemas. Ekonomi bergerak kearah yang salah. Bukan naik dia justru turun bahkan terjun bebas dimana jurang kemiskinan menanti kita disana.

Seharusnya, ketika dalam dua semester terakhir negara kita masih belum masuk pada apa itu resesi dimana para raksasa dunia justru telah terkapar pingsan, itu adalah lilin. Bukan hanya kunang-kunang.

Namun, entah dosa apa menimpa sebagian rakyat dari bangsa ini, tak ada rasa syukur disana. Goblok Presiden justru terucap.

Seharusnya, bila lilin itu masih menyala, mumpung masih ada cahaya bagi kita melihat, mengumpulkan daun kering hingga ranting kayu demi membuat api semakin besar, kita lakukan.

Ini tidak. Ada yang justru berusaha meniupnya padam. Bersiap pedang ditangan hingga panah menempel pada busur siap ditembakkan tepat saat api kecil itu padam. Kegelapan dinanti demii chaos.

Adakah mungkin menebas dan membidikkan panah pada saat mata tak mampu melihat? Tak ada musuh dapat diserang bahkan mungkin teman menjadi korban.

Serius...,ini aneh!

Ohh..,ya, mereka memang tak tak berharap teman. Bagi mereka, pendukung hanya sekedar manfaat. Mati dan kemudian masuk surga telah dipercaya para penerima manfaat itu sebagai jalan terbaik.

"Serius? Apa ga mungkin mereka dibuat sadar dan di kasih tahu kalau telah dimanfaatkan?"

Luar biasa, bukan lilin ditangan Presiden, obor besar dan terang justru telah dia nyalakan dengan tangan terangkat tinggi. Cahaya terang tampak bahkan dari kejauhan.

Api kecil kerja sama Indonesia, Malaysia, Philipina dan Thailand dalam perdagangan dengan mempergunakan uang lokal masing-masing negara yang telah dimulai beberapa tahun silam, kini membesar hingga China, Jepang dan Korea Selatanpun ikut serta.

Ini tentang mengurangi ketergantungan dolar dan ongkos tinggi. Ini juga tentang makna memberi harga yang pantas akan mata uang lokal. Ada pride sebagai bangsa terhadap mata uangnya pada kancah internasional.

Local currency settlement kini meluas hingga Asia dimana Jepang, China dan Korsel sebagai negara maju percaya pada uang kita.

Lebih luar biasa, cadangan devisa kita naik justru disaat kita sedang krisis. Ada kenaikan hampir sekitar 4 miliar dolar dari 131 miliar dolar pada Juni menjadi 135 milar dolar pada Juli dan di akhir Agustus naik kembali menjadi 137 miliar dolar.

Tahukah bahwa dampak positif langsung atas kenaikan cadangan devisa itu adalah tentang standar kecukupan kita sebagai bangsa? Yang jelas, standar internasional menetapkan minimum cadangan devisa sebuah negara, adalah setara 3 bulan belanja import.

Posisi kita dengan 137 miliar dolar seperti saat ini, adalah 9 bulan import. Kita jauh diatas batas ambang aman.

Ya...,paling tidak, angka standar kecukupan internasioanal dalam pembiayaan impor kita pada posisi 3 kali lebih besar dibanding dengan standar yang ditetapkan dalam hitung-hitungan internasional.

Tiba-tiba, entah bagaimana ceritanya, dimasa sangat sulit ini, Presiden justru menggelontorkan dana sebesar 12,8 triliun rupiah untuk pembangunan kawasan industri di Papua. Gila, Papua!!

Teluk Bintuni Papua Barat, tepatnya terletak di Desa Onar Baru Distrik Sumuri, Kabupaten Teluk Bintuni Papua Barat, kawasan industri paling timur kita sedang akan dibangun.

Presiden sengaja menggelontorkan dana sebesar itu untuk pembangunan kawasan industri Indonesia Timur, kawasan yang selama ini terkesan selalu menjadi anak tiri bagi apa itu pembangunan.

Uang sebesar itu diperuntukkan bagi pengadaan lahan seluas 1000 ha, investasi prasarana, pengadaan Power Plant 100 MW, pelabuhan untuk amonia, stockpile untuk batubara dan pelabuhan bagi container hingga perpipaan.

Start awal memang 1000 ha, namun nantinya akan menjadi 2100 ha dan lebih luas dibanding Morowali bila itu adalah tentang besaran akan ukurannya.

Zona Industri Utama yakni methanol dan urea, Zona Industri Turunan berupa polietilen dan polipropilen dan Zona Fungsi Pendukung bagi Infrastruktur menjadi arah kemana Papua akan dilibatkan.

Serius, ini bahkan akan lebih luas dibanding Morowali 1200 ha. Papua akan menjadi salah satu peserta dalam pembangunan Indonesia dalam hal industri. Bukan lagi sekedar dikeruk dan digali seperti selama ini terjadi.

Seharusnya, bukan tentang lilin ini dimaknai, namun obor besar dengan cahaya lebih terang bila harapan mampu kita bangkitkan. Ada keberanian luar biasa dari seorang Presiden menggenjot pembangunan bahkan ketika banyak bangsa masih sedang meratap.

"Masa gitu aja bangga?"

Proses restart sedang dilakukan. Bukan hanya kita, semua bangsa didunia sedang bersiap mengejar apa yang kemarin sempat terhenti.

Siapa menyala lebih cepat, lebih cepat pula dia akan melangkah. Siapa lebih dahulu bersiap, dia pula yang akan memimipin.

Triwulan ke tiga kita mungkin akan tetap minus dan mereka yang berharap buruk telah siap dengan sorak ketika makna resesi disematkan, namun infrastruktur yang telah lebih dari lima tahun dipersiapkan dan justru sempat dijadikan cemoohan, adalah tentang keunggulan kita.

Dari sana, ngebut dan langkah tanpa halangan adalah apa yang akan kita saksikan dalam waktu dekat ini. Dari sana, harapan bahwa kita memiliki jalur yang tepat adalah tentang cahaya yang tak banyak dimiliki oleh bangsa lain dimasa pandemi ini.

Apakah kita akan diam dan larut dalam takut karena gelap, saya memilih mengerjakan apapun meski kaki masih akan terantuk halangan tak terlihat. Saya memilih berjalan menuju cahaya meski itu masih terlihat remang.
.
.
.
RAHAYU
Sumber : Status Facebook Karto Bugel

 
 
Saturday, September 12, 2020 - 18:00
Kategori Rubrik: