Ada Cerita di Balik Bhinneka

Oleh : Emilia Tiurma Savira

Jauh sebelum kata “toleransi” masuk dalam kosakata resmi Bahasa Indonesia, seorang sepuh telah menerapkan gaya asyik ini pada masanya di bawah pemerintahan Rajasanagara. Adalah Mpu Tantular, seorang pujangga Jawa yang beragama Budha, yang mengekspresikan pentingnya hidup berdampingan dalam perbedaan lewat karya sastranya.

Meski sudah memantapkan hati pada satu keimanan, Mpu Tantular terbuka dengan kepercayaan-kepercayaan lain yang ada di Bumi Pertiwi pada masa itu, terutama dengan agama Hindu-Siwa.

Kitab Sutosoma yang beliau buat menceritakan tentang Budha dan Hindu-Siwa yang sepatutnya hidup berdampingan tanpa menduga hal-hal buruk rupa. Kata Bhinneka Tunggal Ika, semboyan Republik Indonesia, merupakan frasa yang diambil dari kitab Sutosoma tersebut. Ada latar belakang yang perlu dipahami dalam cerita tersebut hingga akhirnya kata-kata Bhinneka Tunggal Ika muncul dalam karya Mpu Tantular.

Dalam kitab Sutosoma, Mpu Tantular menuliskan bahwa kebenaran Budha adalah satu dan kebenaran Siwa adalah satu, dan ia melanjutkan dengan kalimat “siapa dapat mengenali?” Pada kalimat berikutnya, barulah Mpu Tantular menyatakan kalimat Bhinneka tunggal ika tan hana dharma mangrwa yang artinya “maka berbedalah itu tetapi satu juga, karena tidak ada kebenaran yang mendua”.

Walau terdengar kontradiktif, pemahaman mengenai pernyataan Mpu Tantular ini membutuhkan konteks yang holistik. Maksud kitab sastra Mpu Tantular di mana frasa bhinneka tunggal ika ini ditemukan adalah menegur bahwa tidak ada seorang manusia pun yang dapat menyatakan bahwa dirinya benar secara absolut.

Lebih lanjut, yang dimaksud dengan tidak ada kebenaran yang mendua adalah bahwa kedua agama yang disebut dalam kitab Sutosoma sama-sama berdiri dalam kebenaran dan memerangi hal yang jahat. Tetapi pertanyaannya akan berlanjut, sebenarnya di mana letak kebenaran dan kekuatan bhinneka tunggal ika?

Kekuatan dan kebenaran bhinneka tunggal ika baru bisa dirasakan ketika ada penerimaan. Bhinneka tunggal ika hanya akan menjadi semboyan bila tidak ada penerimaan dari masyrakat yang seharusnya menghidupi kata-kata tersebut. Penerimaan akan datang melalui pengertian akan fakta mengenai Indonesia. Faktanya, Indonesia adalah negara kepulauan dengan ragam etnis, ragam pemeluk agama, dan ragam budaya.

Tetapi dalam fakta yang sudah sebegitu jelasnya, pengertian dan penerimaan masih sulit untuk sebagian besar orang. Dalam hal seperti ini, sejarah memiliki peran yang kuat, untuk memperlihatkan bahwa satu sama lain—meski punya perbedaan—bukanlah orang asing yang patut dipandang curiga.

Sayangnya, sejarah masih kurang populer dalam masyarakat kita. Beberapa perlakuan terhadap sejarah yang cukup memerlukan perhatian dapat dilihat dari perlakuan terhadap tools penyampaian sejarah.

Pertama, museum kurang difungsikan sebagai medium pembelajaran yang menyenangkan. Ada beberapa kritik mengenai museum berdasarkan museum-museum yang saya kunjungi, yaitu museum di bilangan Kota Tua, Museum Nasional, Museum Sumpah Pemuda, Museum Djoeang ’45, Museum Pancasila Sakti, Museum Taman Prasasti, Museum Sangiran di Jawa Tengah, dan Museum Bukuran di Jawa Tengah.

Kritik pertama saya tujukan bagi museum yang kurang memperhatikan signifikansi menulis keterangan dengan baik. Setiap keterangan sepatutnya difungsikan sebagai medium untuk berbicara kepada pengunjung—dan bukan diperlakukan selayaknya teks membosankan.

Teks pada keterangan diorama atau benda di museum harusnya bisa menunjukan korelasi antara apa yang diabadikan di museum tersebut dengan kondisi masyarakat. Selalu ada pelajaran di setiap sejarah, mengapa mengurungnya dalam kemasan tak menarik?

Kritik kedua, museum kurang dibantu untuk hidup. Museum dapat dikembangkan dengan membuat konten pembelajaran interaktif. Selain hidup dari segi interaktif, museum juga perlu dibantu untuk dipromosikan, seperti Museum Bukuran dan Sangiran yang ada di daerah yang cukup jauh dari pusat kota namun informatif dan cara penyajiannya terbilang segar. Sungguh sangat disayangkan bila museum-museum seperti ini didiamkan.

Namun lagi-lagi, perjuangan mesti dua arah. Masyarakat tidak bisa dipaksa datang tanpa konten yang siap dipelajari, dan museum tidak bisa hidup tanpa didatangi—lebih dalam, disukai.

Hal ini juga berlaku untuk bangunan bersejarah seperti candi, patung, atau monumen. Jika memang jumlah tour guide terbatas, menuliskan keterangan pada bangunan bersejarah tersebut sungguh membantu. Candi, patung, atau monumen tersebut perlu dibantu untuk bercerita langsung dengan para pengunjung.

Kritik ketiga tak lain berkaitan dengan buku dan membaca. Saya mau menantang bahwa sejarah adalah mata pelajaran yang harus terus dibawakan secara kaku. Buku kumpulan cerita rakyat dan komik dapat membantu. Cerita mengenai tokoh-tokoh juga dapat menjadi alternatif mengenal sejarah lebih jauh. Semua argumen ini saya tumpahkan dalam satu basis, dari mana seseorang tahu kebenaran, jika ia tidak pernah mempelajarinya?

Kebhinnekaan kerap diteriakkan dengan lantang, pentingnya Pancasila kerap didiskusikan. Namun tanpa pengertian dan penerimaan oleh masyarakat yang hidup di dalamnya, bhinneka dan Pancasila akan sama-sama tidak berdaya. Keduanya hanya akan terperangkap dalam huruf-huruf ketikan dan ruh maknanya habis dimakan rasa tidak peduli.

Sejarah memainkan peran krusial untuk memperlihatkan bagaimana bangsa ini terbentuk, apa yang sudah dilalui bangsa ini bersama-sama dari zaman ke zaman, hingga pada akhirnya masyarakat sadar bahwa kita semua berdiri dalam satu lingkaran yang sama, yaitu kebenaran dan perdamaian.

Terkadang saya berpikir, jangan-jangan sejarah pun sudah menjadi hal yang eksklusif sehingga tidak semua orang merasa memilikinya, pada sejarah bangsa adalah milik semua. Dalam perenungan dalam hari-hari peringatan yang dibuat oleh negara, bahkan hingga diberi libur, kiranya ada cukup waktu bagi kita untuk merefleksikannya jauh lebih serius.**

Sumber : geotimes

 

Thursday, June 1, 2017 - 07:30
Kategori Rubrik: