Ada Apa Dengan Miras?

ilustrasi
Oleh : Mamang Haerudin
Perlu saya kemukakan di awal. Jangankan minuman keras, merokok dan minum kopi yang rutin atau sengaja punya waktu khusus saja tidak. Lalu tiba-tiba kita (di) ribut (kan) dengan Miras. Ada apa dengan Miras? Konon Pak Jokowi selaku Presiden telah menyetujui beberapa daerah yang sengaja menjadi tempat produksi Miras. Saya sendiri saja belum tahu kebenaran informasi utuhnya seperti apa. Hanya membaca dari seliweran status di media sosial dan grup-grup WA. Responnya beragam, ada yang menyikapinya biasa saja, ada yang proporsional, ada juga yang emosional dan tidak ketinggalan ada yang aji mumpung untuk memojokkan Pak Presiden Jokowi.
Sedikitnya saya tahu siapa yang meramaikan informasi ini. Dan seperti biasa, saya tidak mau terprovokasi, sekadar ikut-ikutan emosional dan apalagi sambil memojokkan Pak Jokowi. Bagi saya, Miras itu bagian dari realitas. Bagi kita yang beragama Islam hukumnya jelas haram. Namun, dalam realitasnya, dalam kehidupan ini tidak bijak kalau segala sesuatunya hanya dipukul habis dengan label halal-haram. Sama seperti misalnya ketika bulan Ramadan tiba, bagi sebagian Muslim, membuka warung atau rumah makan itu haram karena dianggap akan mengganggu orang yang sedang berpuasa. Dituntut paksa untuk menghormati yang berpuasa. Termasuk juga kasus-kasus pelecehan seksual atau serupanya yang dapat dipastikan yang disalahkan perempuan.
Saya menjalankan ibadah puasa karena keyakinan iman saya. Adapun jika ada orang yang berjualan makanan dan minuman di siang hari bolong, sama sekali saya tidak terganggu, saya juga tidak memerlukan penghormatan hanya karena saya puasa. Tak terkecuali Miras. Saya tahu haram, tetapi dikasih gratis pun saya tidak mau. Iman saya menolak. Termasuk, saya bukan polisi syariat yang berhak "ngamuk" dan mengadili perempuan-perempuan yang belum berjilbab dan berpakaian tertutup. Oleh karena itu, saya ingin menegaskan, dalam mengatasi masalah, tidak perlulah kita emosional, seolah-olah paling peduli sendiri.
Tak boleh kita menelan informasi mentah-mentah. Kurang apa kita di Indonesia ini. Ada Majelis Ulama Indonesia (MUI), Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, Pengurus Pusat Muhammadiyah dan masih banyak lagi. Dan saya mencium ketidakobjektifan warganet dalam menyikapi masalah Miras. Benar-benar aji mumpung untuk menjatuhkan Presiden Jokowi. Lihat PBNU melalui Ketua Umumnya, Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj, sama menolak, tetapi menolaknya dengan cara elegan dan tetap proporsional. Lagi pula sejak lama di Jakarta dan di hampir semua daerah peredaran Miras itu sulit dikendalikan.
Wallaahu a'lam
Sumber : Status Facebook Mamang M Haerudin (Aa)
Wednesday, March 3, 2021 - 08:45
Kategori Rubrik: