Ada 12.282 Resep Masakan Indonesia

Ilustrasi

Oleh : Sahat Siagian

Saya sering beperjalanan dinas ke luar negeri. Banyak orang iri melihat keberuntungan tersebut. Saya tidak, karena tahu persis di kebanyakan perjalanan luar negeri bermasa lebih dari 10 hari saya tersiksa luar biasa. Rasa kangen pada istri dan anak-anak jadi penyebab utama.

Tapi penyebab yang tak kalah penting, dan makin membuat rasa rindu kian menyiksa, adalah kulinari di negeri yang saya kunjungi.

Berapa waktu yang dibutuhkan seorang pengunjung Amerika Serikat untuk menghabiskan seluruh jenis masakan yang mereka punya? Tak lebih dari 2 pekan. Di kebanyakan resto, yang terdapat di sekitar hotel, makanan yang tersedia hanya itu ke itu saja. Pengayanya resto thai, resto cina, resto Albania, resto Mexico dan beberapa yang lain. Setelah itu Anda harus mengulang. Apalagi kalau kantong Anda tidak cukup tebal untuk mencobai pilihan terbatas itu satu per satu.

Tapi berapa waktu yang harus dihabiskan turis bule untuk menikmati kulinari Indonesia?

Hokky Situngkir (fisikawan, matematikawan, complexitist, econophysicist, peneliti budaya) melaporkannya dalam acara Ngobrolin Indonesia yang dihelat PPKK (Perempuan Peduli Kebinekaan dan Keadilan) pada Sabtu, 21 April, pk 12 – pk 16 di resto Attarine, Jl. Gunawarman.

Katanya, untuk mencicip semua soto Indonesia sebagai menu makan malam, dibutuhkan waktu tak kurang dari 7 bulan. Sebagai turis bule, Anda pasti sudah dilaporkan sebagai orang hilang oleh istri atau suami Anda di rumah.

Untuk mencoba semua sate Indonesia sebagai menu makan siang, Anda memerlukan waktu 10 bulan. Yakin lu belum digugat cerai sama laki atau bini lu kelayapan segitu lama?

Untuk menikmati semua bubur Indonesia sebagai menu sarapan, Anda perlu tinggal di negeri ini selama tak kurang dari 7 bulan. Mau jajal semua minuman tradisional Indonesia, Anda perlu ngendon selama 7 tahun. Juga, kalau mau menghirup kopi se Nusantara, Anda butuh 4 bulan. Starbucks cuma warkop ecek-ecek di hadapan Indonesia.

Walhasil, untuk mengaku telah mengenal kulinari Indonesia dari ujung ke ujung, sebagai turis Anda perlu tinggal di sini selama 40 tahun. Anda pasti sudah berganti kewarganegaraan karenanya.

Nusantara membius Anda karena keragamannya. Nggak usah dulu membincang berapa jumlah bahasa, suku bangsa, agama, tarian, lagu tradisional, atau kain tenun yang dimiliki. Berhadapan dengan kulinarinya saja Anda sudah pingsan karena disuguhi ketidakberhinggaan.

Hanya 10% bahan bumbu yang umum ditemukan dalam tiap-tiap resep masakan Nusantara. 90% sisanya bersifat lokal. 5% darinya bersifat sangat unik, cuma ditemukan di daerah masakan tersebut lahir. Dari sini pola kekerabatannya bisa dipetakan, sekaligus keunikan masing-masing, juga keberpengaruhan satu sama lain.

Sobat Budaya, gerakan voluntir yang digagas Hokky (Quicchote Saavedra), telah berhasil mengumpulkan 15, 282 resep makanan tradisional Nusantara serta 8,000 warung makan tradisional yang menyuguhkannya. Menurut perkiraan, di akhir tahun ini mereka bakal telah mengumpulkan lebih dari 20 ribu resep.

Anda tidak klojotan berdiri di hadapan ketertampilan gigantik seperti itu?

Ada banyak kilasan sejarah melatarinya. Dengan menjejerkan ratusan soto Nusantara menurut urutan geographical kita akan memahami mengapa, misalnya, makin ke timur, atau makin ke selatan, rasanya semakin asam, atau semakin gurih, atau macam-macam kemungkinan lain. Dari sana kita belajar tentang kearifan nenek-moyang kita dalam menyiasati alam tempat mereka tumbuh dan berkembang. Dari sana pula rumusan budaya dan bahkan teknologi baru bisa dihasilkan.

Tak hanya nama makanan, Sobat Budaya juga menghimpun bahan-baku dan bumbu penyajian berikut cara memasak dan menghidangkan. Semua bisa Anda ikuti di www.budaya-indonesia.org. Kunjungi dan kita akan terpesona memahami kecerdasan leluhur kita. Dari sana kita juga akan mengenal watak mereka dan kenapa kemudian kita terlahir seperti ini.

Ketakberhinggaan semacam itu seharusnya menyadarkan kita betapa 6 agama tak cukup untuk mewakili Indonesia. Saya, misalnya, gemetar membayangkan bagaimana puluhan ribu jenis masakan itu bisa lestari.. Mengkurasi, memperkenalkannya, adalah salah satu cara. Tapi menyajikannya ke tengah masyarakat adalah persoalan lain.

Beberapa dari resep tersebut mengandung bahan-bahan non-halal. Sebagian bahkan sudah tergerus karena agama mendesak mereka menyembunyikan diri. Saya tak bisa membayangkan bagaimana makanan non-halal bisa bertahan di satu kawasan yang mengundangkan perda bersyariah?

Lebih lagi, saya tahu persis, ada satu data yang tidak dilaporkan Hokky Situngkir pada siang itu: 45 macam minuman keras tradisional Nusantara. Saya bertanya kepada kita semua: haruskah itu dimusnahkan? Ini bukan semata tentang Islam. Gereja di Tanah Batak pernah memusnahkan buku racik pengobatan tradisional karena kuatir itu semua bermuatan okultisme.

Paparan Hokky menunjukkan kepada kita tentang betapa agungnya peradaban Nusantara. Sialnya, seluruh peserta yang hadir dalam acara Ngobrolin Indonesia datang dengan membawa keluhan dan gerutuan di saku mereka. Semua dihambur ke tengah percakapan tanpa merujuk presentasi utama. Ada yang mengeluh soal ketidaksetaraan gender, ada yang curhat soal keragaman busana yang mulai tertindas, macam-macam. Percakapan menjadi riuh namun melenceng dari tema perbincangan.

Hadirin memang datang dari berbagai kelompok, LSM, organisasi hobby, dan banyak macam. Generasi tua duduk di sayap kiri. Saparinah Sadli, sebagai inisiator Perempuan Peduli Kebinekaan dan Keadilan, tekun mendengar percakapan, sekaligus mengeluh pada saya di ujung acara—itu akan saya tulis khusus besok.

Orang-orang muda berada di tengah arena. Saya tersenyum melihat Ivana Lie, legenda bulutangkis Indonesia, menikmati semua gerutuan, curhat, curcol, omongan lebay, dan juga sentak kemarahan. Ia tidak ikut nimbrung namun mendengar dengan seksama semua yang dibincang. Itu juga yang diingatkan Henny Supolo, pemimpin Yayasan Cahaya Guru. “Adalah penting bagi kita untuk pintar mendengar agar paham bersuara,” katanya.

Satu hal lalu terasakan: betapa miskinnya ruang percakapan lintas generasi dan lintas sektor seperti ini. Kebanyakan anak muda menghambur teriakan di ruang maya. Tak hanya miskin karena disahuti oleh mereka yang seusia, itu juga fiksi karena tak terjadi perjumpaan di sana.

Saya mengerti jika kemudian Kartini Sjahrir bergembira dengan animo peserta dan kecerewetan tak bertema yang menyembul dalam perbincangan. Sebagai penggerak PPKK, Ia melansir niat untuk memperluas percakapan semacam ini ke puluhan kota dan kampung. Sederet kota sudah ia sampaikan ke pengurus PPKK untuk dijadikan baris terdepan dalammempercakapkan Indonesia di bulan Mei dan Juni.

“Selama ini kita merasa ‘kampungan’ kalau menanggapi cibiran tolol dari mereka yang menindas Indonesia dengan ghirah keagamaan. Tapi itu tak bisa lagi dibiarkan. Kita harus menyahuti mereka,” kata Kartini di salam solidaritas yang dia sampaikan di ujung acara. “Indonesia harus bicara,” ucapnya sambil mengepalkan tangan.

Itu sekaligus menjawab pertanyaan di atas: bagaimana menjaga keragaman, ketakberhinggaan Indonesia agar terus menakjubkan? Bagaimana menyediakan ruang yang lega bagi seluruh orang dan unsur di dalamnya untuk bernapas? Serius. Itu penting.

Sznajd model, yang disodor ekonofisisis dan matematikawan Katarzyna Sznajd-Weron, memampangkan kepada kita sebuah telaah mengejutkan. Saya akan membahas ini di lain kesempatan. Intinya adalah jika ruang diberikan kepada sebuah kelompok untuk hidup dengan pikiran mereka secara patuh dan ketat, lama kelamaan ruang itu makin besar. Sebuah eksperimen sosial telah mengujinya:

Masukkan 2-3 orang ke kerumunan massa. Lalu, pada detik yang sudah ditetapkan, 2-3 orang itu tiba-tiba secara serempak memandang ke langit. Apa yang kemudian terjadi? Seluruh orang di sana satu per satu secara berurutan akan ikut memandang ke langit.

Jumlah Resto halal di London meningkat pesat oleh kekenyalan kaum Muslim. Para pemilik rumah makan kemudian berpikir: dengan memastikan resto ini halal, jumlah pengunjung bakal makin banyak. Dan kalau itu terjadi di Nusantara, dalam sekian tahun mendatang kita tak lagi menemukan lapo atau rumah makan Manado. Keunikan, keragaman, kemenakjuban Nusantara, dibunuh gairah keagamaan.

Bagaimana mengatasinya? Masih perlukah kaum toleran bersikap toleran terhadap intoleransi? Sebagai penganut pasar bebas, saya tak percaya harus mengatakan ini: buah pikiran yang bertentangan dengan Pancasila dan UUD 45 harus dibunuh sebelum ia tumbuh dan mekar.

Anda mau bicara tentang dialektika? Taik kucing. Tidak ada dialektika tertemukan di antara mereka yang mewajibkan jilbab dan cadar dengan mereka yang memandang kebebasan berbusana sebagai ekspresi manusia. Kaum modernis dan pluralis memandang jilbab sebagai kebolehjadian. Kaum intoleran memandang segala di luar jilbab sebagai keharaman, sebagai prilaku orang kafir dan karenanya tak senonoh.

Dua kelompok ini tak berdiri setara. Kelompok intoleran berdiri lebih tinggi karena ada Tuhan sebagai penyangga—Tuhan yang juga diakui sebagian besar kaum toleran. Membiarkan keadaan terus seperti itu, karena mengira dialektika akan terjadi, adalah ketololan modern. Kebaya, dan koteka bakal punah dalam puluhan tahun.

Anda mau berjilbab, sila. Tapi jangan pernah menganggap mereka yang tidak berjilbab sebagai kaum tidak senonoh, sebagai perempuan murahan.

Anda tidak mau makan babi, sila. Tapi jangan bilang mereka yang makan babi adalah calon penghuni neraka.

Kebijakan afirmatif harus diselenggarakan. Kepada siapa? Kepada mereka yang lemah, kepada mereka yang tidak menaruh Tuhan sebagai penyangga ketinggian posisi berdiri. Bagaimana mewujudkannya? Saya tidak tahu. Dan karena itu Nindi Sitepu juga bertekad menyebarkan acara ini secara meluas.

Sebuah panitia besar dan berskala nasional dibutuhkan. PPKK tak boleh lama tenggelam dalam rasa puas atas kesuksesan acara kemarin.

Anda mau terlibat? Sila nimbrung di Ngobrolin Indonesia

Sumber : Status Facebook Sahat Siagian dengan judul asli Indonesia (satu)

Tuesday, April 24, 2018 - 15:30
Kategori Rubrik: