Aceh dalam Bayang-Bayang Kemerdekaan dan Keserakahan

Oleh: Iyyas Subiakto

 

Diujung pulau Sumatera, menghampar kasih Allah dlm keindahan yg dipangku oleh ketakwaan hambaNya, Aceh, ujung negeri yg di sebut serambi Makkah.

Negeri yg menghasilkan bgt banyak pejuang sekaligus ulama papan atas, seperti, H.Abdulrauf Alsyngkili atau yg lbh di kenal dgn sebutan Syiah Kuala, hidup pd thn 1600an, beliaulah yg memfatwakan bhw perempuan Aceh blh menjadi pemimpin. Kemudian lahir para pahlawan seperti Cut Nyak Dien, Teuku Umar, dst. Aceh jg wilayah Indonesia yg tdk pernah dijajah Belanda krn sikap pantang menyerahnya memenuhi darah masyarakat Aceh.

 

 

Rakyat yg bgt cinta kpd negeri dan pemimpinnya, mengumpukan emas utk membeli pswt kepresidenan pertama stlh merdeka. Stlh itu entah apa yg salah sampai kemudian Daud Breueh menentang Jakarta, sejak itu pula hubungan Jakarta dan Aceh menjadi tdk harmonis. Sampai menjadi DOM pd zaman Soeharto. Barulah perjanjian Helsinky menyudahi konflik berkepanjangan setelah ribuan nyawa dikorbankan, menghilangkan nilai pengorbanan utk kemerdekaan, Aceh punya kontribusi atas Indonesia, bkn Indonesia yg berbelas kasihan utk Aceh.

Konflik puluhan tahun, rasa permusuhan, dikejar2 tentara, dicurigai, GAM menjadi musuh abadi. Akibatnya rakyat menderita, pendidikan berantakan, rasa curiga yg ditinggikan. Mindset tdk aman itu akhirnya menciptakan kewaspadaan berlebihan sampai belajar kpd orang lain ditabukan. Dan maaf hal itu menimbulkan kebodohan berkepanjangan.

Otonomi khusus utk Aceh dan Papua hasilnya sama, uang yg konon sejak perjanjian damai Helsynki telah mengucur ke Aceh sebesar Rp.64,7 T tidak jelas hasilnya. Kesenjangan ekonomi masih sama, yg miskin makin ada, pejabatnya kaya2, keluyuran di Jakarta, kota Medan menjadi tempat poya2, nyaris setiap jumat malam kamar hotel bisa penuh diisi oleh mereka yg punya duit khususnya pejabat Aceh yg sukanya berleha2.

Mengambil sikap berbeda dgn Jakarta, nama serambi makkah menjadi beban tersendiri. Menerapkan syariah islam dalam hukum2 yg dijalankan. Hukum cambuk utk pelanggaran sosial. Rakyat sdh menjalaninya dan pejabatnya seolah bak malaikat, menjadi orang suci mengamati rakyatnya seoalah semua tdk berakal budi.

Tertangkapnya Gubernur Aceh, sebenarnya tdk mengherankan krn kelakuan seperti kebanyakan pejabat lainnya sama saja. Dia suka hura2, pakai pesawat sendiri, foto2 di eropa. Rakyatnya terima apa, ntar aja kl ada malaikat yg bertanya, tp yg pasti skrg dia di OTT KPK. Rakyat yg setia padanya baca yassin dirumahnya, sy tdk faham maknanya, apakah surat yassin bisa membuat yg buruk menjadi baik, atau menutupi mata Tuhan biar yg buruk tak kelihatan. Wallahu a'lam.

Sy ada famili di Aceh yg kbtln anggota DPR, dia bercerita bgmn rasa mau merdeka itu msh ada. Hanya saja dia berkata kpd kawan2nya. Bagaimana mau merdeka kalau kita masih bodoh semua, ngurus diri saja kt tak bisa, jgn2 kl merdeka kita bakal perang saudara.

Nyaris semua provinsi di Indonesia sebenarnya sama, keserakahan pejabatnya merata, hanya tdk ada yg berpikir mau merdeka. Tapi kita sdh lama terbelah khususnya soal nafkah, rakyatnya dibiarkan tanpa harapan pejabatnya yg enak2an. Kesenjangan dan kemiskinan masih terus dirasakan.

Aceh, serambi makkah yg sdg susah, rakyatnya cuma bisa mendesah krn pejabatnya serakah, dimana amanah..ah entahlah krn dia cuma ada di hati orang yg mengerti kesusahan orang lain, orang yg mengerti dia hrs bermanfaat kpd orang lain. Bukan memanfaatkan orang lain, krn dia dan rakyatnya sama, baik dalam hak maupun hidup layak bersama.

Pertanyaannya, akankah Gubernur tercyduk dihukum cambuk. Entahlah kalau kejujuran saja mereka jual belikan, apalah arti sebuah cambukan.

Serambi makkah..semoga tdk tercemari oleh keserakahan berkepanjangan. KEJUJURAN ADALAH HADIAH YG PALING MAHAL. JANGAN HARAPKAN IA DATANG DARI ORANG MURAHAN.

Pisa Italia, 6.7.18.

 

(Sumber: Facebook Iyyas Subiakto)

Friday, July 6, 2018 - 20:30
Kategori Rubrik: