Abdul Somad Tak Menjawab Masalah Pokok Polemik Netizen

Ilustrasi

Oleh : Iik Fikri Mubarok

Membaca klarifikasi Abdul Shomad tentang Pidatonya di Acara HTI Riau membuat saya makin yakin bahwa perkataan Shomad yg penuh syubhat berisi penghinahan terhadap Kanjeng Nabi Muhanmad Saw dalam pidatonya tersebut adalah Faktor kesengajaan yang sudah disiapkan jauh-jauh hari sebelumnya, bukan karena faktor kesleonya lisan (Sabqul-lisan). Karena klarifikasi tersebut bukan berisi penejelasan tantang masalah hal yang sedang menjadi polemik namun justru klarifikasi tersebut berisi perkataan ngeles sambil dibarengi tidak merasa bersalah sedikitpun.

Dalam klarifikasinya Shomad juga hanya menjelaskan sesuatu pengetahuan yang umum yg sudah diketahui oleh halayak kaum muslim khususnya para Orang Pesantren. 
Dia menjelaskan bahwa Kehidupan Nabi Saw di bagi tiga Frase. 
1. Sebelum Diangkat Jadi Nabi ( Dari Lahir sampe umur 40 tahun)
2. Memasuki masa kenabian, 13 tahun dari mulai Wahyu Turun kepadanya ( dari mulai Genap umur 40 tahun hingga umur 53 tahun )
3. Masa khilafatun Nubuwah ( umur 53 sampai dengan Wafatnya ).

Penjelasan Shomad diatas itu merupakan pengetahuan yg sudah umum diketahui oleh kaum muslim khususnya kaum Pesantren. Karena keterangan tersebut sudah banyak disebut diberbagai Kitab-kitab para Ulama. 
Jadi klarifikasi Shomad itu belum bisa disebut klarifikasi sebab Shomad sama sekali tidak menjelaskan pokok yang menjadi masalah munculnya Polemik yg dikeluarkan dari Lisan Syubhatnya, namun justru malah menjelaskan tentang ilmu yg sudah umum diketahui yg sama sekali tidak memberikan pengaruh terhadap syubhat dirinya.

Dan anehnya dengan Congkak Shomad tidak mengakui bahwa dirinya telah menghina Kajeng Nabi Saw dengan alasan Bahwa dirinya merupakan Alumnus Ilmu Hadits di Mesir. Sedangkan Protes dari Umat islam Khsusnya Para Kaum Pesantren yg paham akan Kesyubhatan Shomad sampai tidak terhitung.

Tak satupun Ulama dari Mulai Zaman sahabat Kanjeng Nabi Saw hingga sekarang yang mengatakan bahwa selama dua frase Kehidupan Kanjeng Nabi, beliau tidak bisa mewujudkan Islam Rahmatan Lil'alamien. Namun orang yg telah mengaku sebagai Alumnus Fakultas Ilmu Hadits di Mesir itu dengan entengnya mengatakan bahwa dua Frase kehidupan Nabi Saw tidak bisa mewujudkan Islam Rahmatan Lil'alamien. Astaghfirullahal'adziem.

Apakah Shomad yg telah mengaku Alumnus Ilmu Hadits tidak paham bahwa Islam dengan Rahmatan Lil'alamien tidak bisa dipsahkan?. 
Apakah Alumnus Fakultas ilmu Hadits itu gagal paham bahwa Rahmatan Lil'alamien itu adalah Merupakan Fithrah dari islam itu sendiri?. 

Oleh karena antara Rahmatan Lil'alamien tidak bisa pisahkan dengan Islam, maka ketika Shomad mengatakan Bahwa Kanjeng dalam dua Frase Kehidupannya tidak bisa mewujudkan Islam Rahmatan Lil'alamien, maka itu sama halnya dengan Shomad mengatakan bahwa islamnya Kanjeng Nabi saw Dalam dua Frase tertolak.
Sebegitu menggebunya kah dia untuk mendapat sanjungan dari HTI sehingga ia sampai rela meceburkan dirinya dalam kubangan syubhat yang sedemikian besar?.

Sumber : Status Facebook Iik Fikri Mubarok

Tuesday, January 9, 2018 - 13:15
Kategori Rubrik: