Abdul Somad Ditolak di Hongkong, Cin Cun Dipersekusi

Ilustrasi

Oleh : Birgaldo Sinaga

Kontroversi deportasi Ustad Abdul Somad saat tiba di Hongkong memakan korban.

Cin Cun, pria paruh baya warga Batam digeruduk segerombolan laki-laki beringas tidak dikenal. Pasalnya gerombolan tidak dikenal ini mengaku marah pada postingan Cin Cun pada 24 Desember yang menulis biasa saja " Jangankan hongkong yang agak jauh, ke singapore juga bakalan di cekal. Mulutmu harimaumu".

Bak api kesiram bensin, kontan postingan pria Tionghoa ini dijadikan target persekusi oleh gerombolan beringas ini. Tanpa ba bi bu, mereka menggeruduk Cin Cun.

Cin Cun dipaksa menulis surat permintaan maaf dan memaksa Cin Cun mendatangi UAS di Pekanbaru untuk minta maaf.

Belum puas dengan surat bersegel, Cin Cun dipaksa membaca surat pernyataan itu lalu direkam dan disebarkan gerombolan beringas ini.

Apa yang terjadi sesungguhnya?

Mari kita runut akar masalahnya lebih dalam. Sebagai seorang Ustad yang khotbahnya jadi sumber hidup bagi jemaatnya, UAS bukanlah Ustad yang berpembawaan sejuk dan mengayomi.

Ceramahnya banyak menyerang kelompok non muslim yang disebutnya berulang-ulang si kafir. Si kafir sering menjadi topik ceramah UAS yang viral di mana-mana.

Satu contoh soal ceramahnya yang bersuara lantang jangan belanja ke si kafir. Jadi kaya nanti si kafir. Kata UAS dalam ceramahnya.

Siapa si kafir ini?

Dalam video ceramah lain UAS menyebut si kafir adalah orang yang tak bersunat, orang yang tak mandi wajib. Mereka penghuni neraka. Orang Korea, Paus Paulus, si Rajagukguk, Sinambela dll disebut sebut UAS dalam ceramahnya. Belum lagi pembelaan UAS pada tegaknya khilafah.

Tentu setiap aksi menimbulkan reaksi. Itu hukum alam. Ceramah UAS ini juga terdengar hingga ke Bali.

Di Bali sempat terjadi penolakan dari beberapa ormas. Walaupun akhirnya UAS berhasil mengisi tausiah di Bali. Tapi gesekan telah terjadi yang berujung saling lapor kedua belah pihak.

Terakhir, UAS dideportasi di Hongkong. Kita tidak tahu pasal apa pihak imigrasi Hongkong menolak UAS. Klaim UAS bahwa dirinya mungkin disangka teroris belum tentu benar.

Tapi yang jelas, setiap negara tentu punya intelijen. Tentu pihak Hongkong punya informasi intelijen atas orang2 tertentu yang berpotensi membuat kontroversi. Itu biasa dalam kebijakan otoritas sebuah negara.

Sebut saja soal Ustad Zakir Naik yang sering ditolak negara-negara lain saat masuk mengisi ceramah. Atau pemerintah Indonesia sering menolak orang asing yang ingin meliput Papua. Atau seperti Jeffrey Winters pengamat politik Indonesia asal Amerika. Tak ada yang aneh dalam tolak menolak kedatangan orang asing.

Apa yang ditulis Cin Cun sangat biasa sebenarnya. Tidak ada yang aneh dan berlebihan. Ia hanya mengekspresikan atas apa yang disuarakan UAS selama ini yang suka tidak suka menyinggung perasaannya sebagai objek si kafir yang selalu berulang disebut UAS.

Polisi harus bergerak cepat menangkap gerombolan intimidasi ini. Ini bukan soal main-main karena perilaku oknum gerombolan yang memaksa, mengintimidasi, meneror, mempermalukan Cin Cun jika dibiarkan akan meraja lela dan merusak relasi kebangsaan.

Apa yang ditulis Cin Cun itu sangat lunak dibanding apa yang sering kita baca dari gerombolan lain yang begitu kasar, sadis dan melecehkan.

Lawan persekusi dan intimidasi.

Sumber : Status Facebook Birgaldo Sinaga

Tuesday, December 26, 2017 - 22:45
Kategori Rubrik: