Abangan, Santri, Priyayi Hari Ini

ilustrasi

Oleh : Supriyanto Martosuwito

Seberapa penting dan seberapa relevan untuk mempertentangkan dan men-dikotomi-kan antara kaum abangan - kaum santri - dan kaum priyayi di hari ini?

Pada perkembangan 20 - 30 tahun terakhir abangan - santri - priyayi sudah campur baur dan berkelindan.

Makin banyak kaum abangan 'hijroh' menjadi santri dan 'mriyayi'. Jadi kaum 'menak'. Demikian juga banyak santri 'hijroh' jadi priyayi dan banyak priyayi 'hijroh' jadi abangan dan 'nyantri'.

Abangan yang 'hijroh' adalah orang yang sebelumnya tidak taat agama jadi rajin mengaji dan pergi haji dan membangun keluarga alim, menyekolahkan anaknya di sekolah Islam atau mondok di pesantren.

Kaum abangan juga banyak yang berubah lantaran naik status jadi pejabat dan "mriyayi" atau "mriyayeni" (bertingkah laku seperti priyayi / bangsawan).

Kaum santri yang biasanya jadi guru, khatib, pendo'a, lebai dan jualan batik - 'hijroh' jadi insinyur, jadi pegawai negeri dan "mriyayi".

Sedangkan kaum priyayi terjun ke bisnis menjadi swasta dan masuk partai - meniru kaum Abangan.

Di masa lalu, kaum priyayi cenderung anti saudagar. Kalangan priyayi lebih memilih jadi "ambtenar" (pegawai pemerintah). Sedangkan kaum abangan cenderung ikut Kejawen. Dan santri tidak tertarik jadi kantoran.

Masing masingnya memiliki 'maqom' dan kolamnya sendiri sendiri.

MERUJUK pada silsilah keluarga besar, saya lahir dari - dan dibesarkan oleh - kaum Abangan. Dan saya sendiri masih jadi Abangan sampai sekarang.

Abangan berasal dari kata "aba'an" (bahasa Arab.pen) yang artinya "tidak taat". Orang Jawa Muslim, Kristen agama lain yang tidak menjalankan ibadah agamanya masing masing disebut Abangan.

Sejarawan militer Dr. Salim Siad menyebut LB Moerdani merupakan "Katolik Abangan".

Tapi bagi orang Jawa 'abang' juga berarti 'merah' sehingga abangan artinya "merahan" - lalu memberikan lawan kata yakni "putihan" untuk sebutan kaum santri.

Jadi orang Jawa menyebut "Wong Abangan" untuk kaum tidak taat ibadah / agama dan "Wong Putihan" untuk kaum santri yang taat ibadah. Rajin ibadah.

Sampai dua puluh tahun lalu mayoritas Muslim di Jawa adalah kaum Abangan. Mereka tersebar di partai partai nasionalis dan sekuler seperti Golkar dan PDI - yang selalu memenangi Pemilu.

Di Indonesia Abangan adalah "silent majority" alias mayoritas diam. Mereka kalah pengaruh dari kaum santri yang belakangan giat pakai speaker Toa dan menguasai media. Kencang suaranya.

Di zaman Orde Lama, kaum abangan ada di PNI dan PKI, Murba, IPKI, dll. Meski banyak yang alim juga. Khususnya kaum tani yang kehilangan tanahnya dan melawan pemilik tanah yang ditampung dan diperjuangkan oleh PKI lewat program "land reform"-nya.

Bapak saya PNI dan Marhaenis. Berseberangan - bahkan musuhan - sama PKI, meski sama sama pendukung Bung Karno. Kalau ada yang mencap saya abangan dan pro PKI berarti dia anak kemaren sore yang tidak paham sejarah.

DALAM budaya Jawa agama adalah pakaian yang memuliakan. Dalam surat "Wedatama" karya Mangkunegara VII dituliskan :

Kang tumrap neng tanah Jawa,
agama ageming aji.

Artinya : Bagi orang Jawa agama itu pakaian yang mulia. Karena semua ajaran agama membawa kepada kebajikan.

Dalam kajian Budaya Jawa, tidak penting agama yang Anda anut - karena ageman bermacam macam juga - yang lebih penting menjadi orang Jawa yang memuliakan ajaran Kejawaannya. Itu sebabnya di Jawa sekeluarga beragama Islam, Kristen, dan Kejawen, tinggal serumah - tak masalah. Yang penting 'nJawani". Mau pindah pindah agama, ya, karepmu.

Sudut pandang yang sama saya lihat dari warga Tionghoa. Tak penting Tionghoa Budhis, Kristen atau Muslim - mereka sama sama memuliakan dan berusaha tidak meninggalkan budaya leluhur mereka yakni budya Tionghoa atau budaya China.

Buku "Abangan, Santri, Priyayi dalam masyarakat jawa" yang merupakan terjemahan dari The Religion of java karya Clifford Gertz (1981) yang sedang saya baca ulang ini - belum ada perbaikan / revisi - meski secara lapangan sudah berubah.

Namun pemetaan yang dilakukannya di tahun 1960an di kawasn Mojokuto itu menarik dan masih relevan.

Bahkan penggolongan kaum abangan - santri - priyayi - masih digunakan dalam Pemilu 2019 lalu, sebagaimana kemenangan kombinasi Jokowi yang Abangan dan KH Maruf Amin (santri) atau SBY (abangan) dan HM Jusuf Kalla yang santri dan Ketua Dewan Masjid itu.

Juga tawaran duet Megawati dan KH Hasyim Muzadi pada pemilu sebelumnya.

Mereka pasangan itu bikin marah para elite priyayi khususnya Priyayi Cendana. ***

Sumber : Status Facebook Supriyanto Martosuwito

Friday, September 11, 2020 - 11:15
Kategori Rubrik: