8 Plus 17 Bukti Ahok memang Pengecut

Oleh: Mike Reyssent
 

Ahok memang ceplas-ceplos dan terkesan galak seperti Ali Sadikin dulu. Tapi itu semua kan demi Jakarta, dan segalak-galaknya belum pernah sampai nempeleng orang.

Saya tidak mau berpanjang kali lebar lagi mengungkapkan bukti bukti kepengecutan Ahok.

Langsung aja ya...

1. Ahok memang terbukti pengecut, dengan tega-teganya dia meninggalkan Gerindra yang sudah mengusungnya menjadi Wakil Gubernur DKI bersama Jokowi.

Ahok loncat keluar dari Gerindra karena Gerindra yang memotori RUU Pilkada tidak langsung. RUU Pilkada yang rencananya pemilihan kepala daerah dilakukan oleh DPRD, bukan lagi oleh rakyat. Seperti kita tahu, RUU Pilkada yang mencederai demokrasi dan memberangus hak rakyat memilih kepala daerah.

Ahok: Kalau Jadi Kepala Daerah Lewat DPRD, Sama Saja Melalui Calo.

Ahok pengecut tidak mau terus bergabung dalam Gerindra, yang saat itu masih menyimpan dendam membara pada KIH, dan untuk sementara Ahok memilih tidak masuk dalam partai apapun, supaya bisa fokus membangun DKI Jakarta.

Andai saja Ahok tidak pengecut meninggalkan Gerindra, tentu M Taufik yang sering ngawur tidak akan fokus mencari-cari kesalahan Ahok.

2. Sebelumnya Ahok memang pengecut, terbukti ia menjadi kutu loncat, dengan meninggalkan kursi DPR dan Golkar, untuk maju dalam pilkada DKI ketika diusung oleh Gerindra. Dan akhirnya membawa Ahok menduduki kursi Wakil Gubernur DKI, mendampingi Jokowi. Karena Jokowi, tidak ingin hanya fokus di DKI saja, tapi demi kepentingan yang lebih besar yaitu kemajuan bangsa Indonesia. Atas dasar itu, Jokowi maju sebagai calon presiden di pilpres 2014 lalu. Yang akhirnya mengantar Jokowi ke kursi no 1 di Indonesia. Kemenangan Jokowi ini, tentu diikuti oleh naiknya Ahok menggantikan Jokowi sebagai Gubernur DKI.

Namun sungguh lucu jika cara berpolitik Ahok yang demikian justru dihujat oleh sebagian orang yang merasa mendukung Jokowi tapi anti pada Ahok. Mereka mengatakan Ahok kutu loncat yang berambisi besar. Rupanya mereka lupa bahwa politik adalah suatu rangkaian prisip, cara dan alat yang digunakan untuk mencapai cita-cita atau tujuan tertentu. Point satu dan dua adalah bukti nyata, dan sangat tepat jika mengatakan Ahok sebagai kutu loncat yang berambisi, karena ia ingin mencapai cita citanya yaitu memperbaiki kehidupan warga DKI.

Pertanyaannya: Bagaimana mungkin orang politik tapi tidak boleh punya ambisi besar? Apakah tidak punya cita cita, tidak tahu apa yang ingin dicapainya? (Uhhhuuuuyyy...Ngakak dulu ya...Wakakaka...) Apa bedanya Ahok dengan Jokowi, yang dari Solo, kemudian ke DKI dan menjadi presiden? Sekilas info : Kelicikan adalah sudut pandang lain dari kecerdikan, tergantung dimana posisi kita. Contoh : Kisah si Kancil. Dimana posisi kita berdiri? Kalau di posisi buaya, kita mengatakan kancil sangat licik. Tapi sebaliknya jika kita ada di posisi si kancil, jelas mengatakan si kancil cerdik. Atau kisah Zhuge Liang (Cukat Liang, Kong Ming atau Kong Beng) dalam kisah Sam Kok (Tiga kerajaan). Begitu juga dalam Kisah Tiga Kerajaan. Apabila kita berdiri di posisi Cao cao (Cho cho), kita serta merta akan mengatakan Zhuge Liang amat sangat licik.

Tapi jika kita ada di posisi Kerajaan Shu, kita akan memuji kecerdikan Zhuge Liang yang luar biasa. Politik jelas jelas harus punya strategi, harus punya kelicikan/kecerdikan membaca arus, bisa membaca arah angin, TIDAK PERNAH ADA KATA SETIA dalam kamus politik, semua berjuang demi kepentingan semata. Andai saja waktu itu, Ahok tidak dapat membaca arah angin dan masih menjadi DPR, bukan tidak mungkin Ahok terpilih lagi dan akan masuk dalam pusaran arus dagelan MKD kemarin.

3. Ahok memang pengecut dengan merekam semua rapatnya. Membuat rakyat, sekarang mempunyai tontonan alternatif, ketimbang terpaksa nonton tipi yang acaranya tidak mendidik. Hal yang belum pernah dilakukan seorang pemimpin manapun.

Sebagaimana kita tahu, dalam rapat rapat inilah sering terjadi transaksi, kongkalikong dengan jumlah yang menggiurkan. Ahok merekam dengan niat, agar rakyat bisa melihat dan menilai sendiri cara kerjanya. Ahok pengecut, takut jika dikatakan menyembunyikan sesuatu dibalik rapat rapatnya.

4. Ahok memang pengecut, terbukti ia tidak mau bergabung dalam komplotan begal APBD. Komplotan begal yang selalu menyelipkan dana siluman, me mark up semua harga barang dan membeli barang yang aneh aneh untuk kebutuhan anggota DPRD. Ahok pengecut tidak mau bergabung dengan para begal anggaran, lebih memilih harus kewalahan menghadapi serangan anggota DPRD yang membabi buta, demi membela hak rakyat yang telah dimutilasi oleh para begal anggaran. Seandainya Ahok mau bergabung dengan para begal APBD, Ahok bisa hidup lebih jauh tenang dari sekarang. Dia bisa kerja santai, duduk manis, ongkang ongkang kaki, makan gaji buta, main teken semua rancangan APBD, setelah itu masih juga kecipratan uang yang berlimpah ruah. (Coba saja lihat harta kekayaan sekelas mantan Kadishub Udar Pristono.)

5. Ahok terbukti pengecut karena menggusur warga Kampung Pulo.

Ahok pengecut, tidak berani membiarkan warga Kampung Pulo yang tinggal di bantaran sungai, kebanjiran setiap tahun. Seandainya saja Ahok berani membiarkan warga Kampung Pulo kebanjiran, pasti media dapat banyak berita banjir Kampung Pulo pada tahun ini. Ahok pengecut, tidak berani melihat, warga DKI hidup dalam kesengsaraan ketika banjir tiba. Seandainya Ahok berani membiarkan warga Kampung Pulo kebanjiran, pasti warga Kampung Pulo banyak yang merana menunggu bantuan yang sering terlambat disalurkan. Ahok terlalu pengecut, tidak berani melihat anak anak sekolah bukunya hilang terbawa banjir, tidak berani meilhat anak anak kena penyakit kulit akibat berenang dalam banjir. Ahok juga tidak manusiawi memindahkan warga Kampung Pulo yang tiap tahun kebanjiran, ke rusun yang lebih nyaman dan tidak pernah kebanjiran.

6. Ahok benar benar pengecut telah menggusur Kalijodo, hingga akhinya bermunculanlah para pahlawan kesiangan (atau pahlawan kebetulan?).

Kalijodo terbukti sejak berpuluh tahun lalu merupakan tempat hiburan bagi rakyat kelas bawah. Bukan hanya untuk menyalurkan syahwat saja tapi Kalijodo juga ajang perjudian yang beromzet sangat besar dan tempat transaksi narkoba. Selama ini tidak ada satupun pemimpin DKI yang pernah berhasil membongkar Kalijodo. Selain banyaknya preman nekad, Kalijodo disinyalir dibekingi oleh aparat.  Saking banyaknya aparat yang dapat jatah dari Kalijodo, Krishna Murti bahkan menyebut Kalijodo sebagai ATM nasional.

Ahok pengecut tidak berani bergabung dengan jagoan Kalijodo, si Bedul Daeng Aziz. Tidak mau nego yang akan berujung permintaan macam macam dari warga yang sudah dikoordinir oleh Daeng Aziz. Seandainya Ahok mau berbaik baik dengan Si Bedul Daeng Aziz, pasti rakyat kelas bawah masih punya tempat hiburan murah, menyalurkan syahwatnya, aparat masih tetap dapat jatah uang lendir dan PSK Kalijodo sampai sekarang tetap bisa “berjualan”. Tapi Ahok pengecut, karena menggabungkan aparat TNI dan Polisi bersama sama,  meratakan dengan tanah seluruh bangunan tempat maksiat di Kalijodo.  (Si Bedul Daeng Aziz, banyak terdapat di dalam buku “Geger Kalijodo” yang ditulis oleh Krishna Murti)

7. Ahok pengecut memilih jalur independen. Sekali lagi terbukti bahwa Ahok benar benar pengecut, tidak berani maju sebagai calon Gubernur DKI dengan diusung oleh parpol. Dengan memilih jalur Independen -jalur yang paling tidak aman (belum tentu lolos verifikasi KPU)- adalah bukti bahwa Ahok amat sangat pengecut. Seandainya Ahok memilih bergabung dengan parpol yang pasti aman dan pastinya kemenangan akan didapat lebih jauh mudah, tidak akan ada isu Deparpolisasi. Tapi Ahok memang pengecut, karena lebih memilih ikut dengan bus, tidak mau ikut dalam kendaraan mewah yang disediakan oleh parpol, asalkan bisa bersama dengan rakyat,. Seandainya Ahok berani memilih mobil mewah lewat jalur partai, bisa dipastikan akan ada transaksi politik di dalamnya. ("Saya kalah, karena tiap anggota DPRD minta dibayar Rp 250 juta. Tidak bisa membayar, saya kalah jadinya," kata Syamsu.) Lalu bagaimana dengan parpol atau yang mendukung Ahok, apakah juga melakukan transaksi politik?

Inilah kepentingan Teman Ahok...

8. Bukti yang paling nyata kepengecutan Ahok, telah terjadi polemik tentang kepimpinan Ahok, yang akhirnya membuka topeng topeng politikus yang selalu berlindung dibalik gedung mewah. Kepengecutan Ahok telah menguliti dan menunjukan pada rakyat, kebobrokan birokrasi dan legislatif, yang semuanya digaji dengan uang rakyat tapi tetap saja menggerus hak rakyat dan memperdaya rakyat. Mereka semua bersatu padu ingin membungkam Ahok... Karena Ahok memang pengecut, tidak berani dan tidak berdaya menghadapi semuanya sendirian, lalu meminta rakyat DKI mendukungnya menjadi Gubernur DKI dalam pilkada 2017 nanti.

***

Akhirnya, kepengecutan Ahok telah membuat Kompasiana semakin ramai dan membuka mata kita... Pro kontra tentang Ahok telah menjadikan Kompasiana semakin riuh. Opini keren keren dari Kompasianer berseliweran selama 24 jam, dari yang pro, netral maupun kontra, dari mulai pagi hingga pagi lagi, dari mulai yang super serius, sedih sampai yang penuh gelak tawa... Cek di sini  Namun disini kita juga bisa melihat banyak sudut pandang yang unik. Kita jadi tau siapa orang orang yang pendukung SARA, siapa yang tidak mendukung perbedaan, siapa orang yang dengan penuh kebanggaan merendahkan martabat manusia. Cek di sini Apakah pejabat bahkan presiden sekalipun, tugasnya bukan untuk melayani rakyat? Hmmm... Ini adalah sebuah pelajaran yang sangat baik -khususnya bagi saya sendiri- untuk bisa lebih dewasa dalam bepikir dan bersikap.

***

*Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.

*Sumber kekuatan dan kebesaran manusia bukan pada fisik tapi terletak pada jiwa. Karena jiwa yang menggerakan seluruh anggota tubuh.

(Sumber: Kompasiana)
 

Monday, March 28, 2016 - 11:00
Kategori Rubrik: