74 Tahun Menerjemah Pancasila

ilustrasi

Oleh : Abdul Munib

Pancasila memiliki lima pase era mulai Era Penggalian di Ende oleh Bung Karno, Era merumuskan di BPUPK , Era Mistisisme oleh KH Hasyim Asyari, era mufakat bangsa dan era menerjemahkan.

Pace Yaklep : Kang Bung Karno dulu melihat daun sukun di Ende lalu terinspirasi begitu. Intuisi Pancasila muncul. Bisa Kang Jelaskan.

Kang Mat :
Dalam tadabur perenungannya Bung Karno menelisik kedalam bangsanya. Bangsa Indian habis oleh penjajahan bangsa Barat. Bangsa Aborigin juga habis. Tapi Bangsa Nuasntara terus melakukan posos perlawanan tak pernah padam. Bung Karno heran dengan realitas sejarah ini. Nilai apa yang dimiliki Bangsa Nusantara sehingga mereka memiliki daya tahan yang luar biasa, meski dijajah Eropa ratusan tahun. Nilai itu kemudian ia namakan Gotong royong. Makanya Bung Karno tak merasa menemukan nilai itu. Karena nilai itu sudah ada dan tersimpan dalam budaya manusia nusantara. Sampai gagasan itu Bung Karno pidatokan pada rapat persiapan kemerdekaan Indonesia.

Santri Kalong :
Pada saat berlangsungnya perumusan Pancasila di persiapan kemerdekaan, apa saja yang dibahas.

Kang Mat :
Dari satu Juni 1945 sampai 18 Agustus 1945 dialektika pandangan dunia Bangsa Indonesia berlangsung alot. Karena mayoritas bangsa Indonesia muslim dan kerajaan yang ada di Nusantara juga kerajaan Islam, banyak yang menawarkan agar Indonesia berdasarkan agama Islam. Pilihan yang tersedia dasar itu berupa falsafah atau agama. Di draf piagam Jakarta sempat muncul ketuhanan dengan menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya, namun untuk memberi tenggang rasa pada pemeluk agama lain maka jadi lah Ketuhanan yang maha esa. Identik dengan bineka tunggal ika. Dan tauhid Kapitayan : Tan keno kiniyo ngopo ning ono. Bangsa nusantara jauh sebelum agama benua (Hindu, Budha, Islam dan Kristen) datang telah memiliki kepercayaan kepada Tuhan yang maha esa. Tarik menarik antara dasar falsafah dan dasar agama (Islam) terus mewarnai perjalanan ideologi bangsa ini. Bahkan jadi celah bagi musuh ideologis untuk melemahkan ideologi yang sudah jadi mufakat ini.

Dul Kampret :
Setelah draf manifesto filosofis itu ada, tahap berikutnya adalah proses mistisisme. Naskah yang telah disepakati itu di bawa ke Mbah Hasyim Asyari di Tebu Ireng, Jombang. Ini tahap era mistisisme Kang ?

Kang Mat :
Betul Dul, ini era mistisisme. KH Hasyim Asyari sholat istiharah, memohon penunjuk kepada Allah apakah manifesto filosofis ini mendapat ridhonnya. Setelah puasa tiga hari dan sholat hajat tiga malam, diperoleh petunjuk bahwa frasa hasil Panitia Sembilan ini sudah menjadi manifesto filosofis yang diridhai Allah. Nidhom Al falsafah al mutafaq al mardliyah. Manifesto filosofis yang disepakati bangsa Indonesia dan diridhoi Allah. Meskipun Pancasila pada perumusannya adalah manifesto filosofis, ia telah jadi kesepakatan bangsa dan diperkuat dengan mistisisme Islam/tashowuf. Bagi Nahdliyin mengingkari Pancasila sama dengan mengingkari Mbah Hasyim.

Bung Cebong :
Ini juga yang oleh Gus Dur dan Buya Syafii Maarif sering diingatkan bahwa model hubungan agama dan negara menjadi pekerjaan rumah (PR) besar bagi bangsa Indonesia. Agar kedepan persoalan tarik menarik antara dasar falsafah dan agama sudah selesai. Apa yang perlu kita Lakukan Kang.

Kang Mat :
Telah lewat era empat episode : penggalian, perumusan, pemupakatan dan mistisisme Pancasila.

Kini kita ada di era menterjemah sudah berlangsung 74 tahun. Namun belum menaruh Pancasila secara layak. Akar ilmu pengetahuan yang merujuk ke Barat tak mungkin dapat membedah kedalaman Gotong royong, manifesto filosofis karena Barat mengakar pada filsafat materialisme.

Ilmu dari Barat yang memenuhi pendidikan nasional kita hanya bermanfaat untuk bidang kehidupan partikular yang detail, yakni ipteknya. Adapun ideologi dan politiknya pasti beda karena akar fiksafat Barat menolak metafisika dan metode mantiqi/rasionalitas.
Barat hanya menggunakan metode eksperimen empiris. Kita dan Barat memang beda pada hulu, yakin pandangan dunia. Tentu kita tak boleh menolak hasil yang benar dari Barat yakni kemajuan ilmu partikular : teknologi. Mahatma Ghandi bilang : Hari ini Barat pemilik pesta tapi mereka tak mengenal dirinya siapa. Pemegan gudang logistik yang sedang mabuk.

Bangsa kita masih dihadapkan pada pekerjaan rumah (PR) besar menerjemah Pancasila. Membangun konstruksinya yang kokoh sehingga tiap rumah di NKRI menghasilkan manusia Indonesia : manusia delapan sisi dalam kesamaan keesaan (dengan seluruh yang ada) , kesamaan peradaban (dengan seluruh manusia, bukan kebiadaban) kesamaan kebangsaan (dengan seluruh rakyat Indonesia) kesamaan sebagai rakyat, kesamaan sebagai roin/pemimpin (sesuai wilayah dan kadar) kesamaan pemilik daulat atas NKRI (sebagai raja-rakyat) kesamaan sebagai pemilik suara (distributor kekuasaan) dan kesamaan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Delapan kesadaran ini harus terbangun dalam jiwa manusia Indonesia. Sementara agama adalah pilihan jalan bagi setiap manusia berasal dari kemerdekaannya yang diberi oleh Tuhan mengiringi akal dan pertanghung-jawaban.

Sejarah akan menuliskan perjalanan kita, apakah seseorang hanya ikut makan siang gratis di negeri ini atau terus berjuang menggapai tujuan yang sudah dipacak oleh para pendiri bangsa. Para elit negeri itu bukan siapa-siapa kecuali ia berjiwa Pancasila yang sejatinya. Bukan koar-koar dimulut doang.

Angkringan filsafat pancasila

Sumber : Status Facebook Abdul Munib

Thursday, November 14, 2019 - 10:15
Kategori Rubrik: