74 Tahun Indonesia Merdeka, Kitab Suci Yang Paling Banyak Dibaca Masyarakat

ilustrasi

Oleh : Budi Santoso Purwokartiko

Jika setiap penduduk Indonesia yang berusia minimal lima tahun ditelusuri kegiatan membacanya dalam seminggu terakhir, terungkap bahwa kitab suci menjadi mayoritas dibaca penduduk. Membaca kitab suci menduduki urutan pertama dari jenis buku yang dibaca, jauh mengalahkan buku pelajaran, buku pengetahuan, buku cerita, ataupun surat kabar dan majalah.

Hasil survei ini menunjukkan bahwa kitab suci menjadi yang paling banyak dibaca masyarakat. Dari semua responden survei, sekitar dua pertiga bagiannya (66,34 persen) menyatakan membaca kita suci dalam kurun seminggu terakhir.

Proporsi penduduk yang membaca kita suci jauh lebih besar jika dibandingkan dengan kategori penduduk yang membaca jenis-jenis buku lainnya. Buku pelajaran sekolah, misalnya, hanya dibaca 25,74 persen dari total penduduk. Menyusul selanjutnya, sebanyak 21,59 persen membaca buku pengetahuan; dan 10,85 persen membaca buku cerita.

Dengan trend semacam ini akankah bangsa kita bisa bersaing dalam ilmu pengetahuan, teknologi? Di saat yang lain kita sering ribut gara2 pakai barang impor. Tapi usaha-usaha ke arah kemajuan tidak dilakukan. Paradox. Agama tentu penting sebagai landasan moral. Tetapi beragama hanya dengan menghafal kitab suci atau membaca hal-hal yang tidak solutif untuk permasalahan aktual yang dihadapi, tentu tidak banyak membantu. Jika mau jujur, terlepas dari imbalan pahala, tentu kita bisa merasakan. Kapan kita butuh ilmu dan teknologi, kapan kita butuh petunjuk hidup, harusnya ada porsinya.

Sayang banyak pengajar agama yang tidak bijaksana. Umat digiring untuk mendapat iming2 surga di alam lain sementara di dunia tempat kita hidup, umat tidak diajari berkompetisi, berlomba-lomba dalam kebaikan.
Umat pun mestinya kritis menangkap ajaran gurunya. Guru-guru itu tidak semua qualified bicara segala ilmu. Agama mestinya bukan sebagai senjata sapu jagat untuk menghakimi ilmu2 lain di luar kompetensi para guru agama. Guru agama tidak perlu bicara hukum imunisasi, sistem perbankan, sistem keuangan, sistem asuransi kesehatan kecuali para guru agama itu punya jalan keluar yang lebih baik. Tapi kalau cuma melarang tanpa solusi, para guru itu telah menyiksa kehidupan banyak orang. Apakah itu misi seorang pendakwah?

Ok selamat merenungi fakta bahwa 66,34 % penduduk kita lebih banyak baca kitab suci, mungkin semua akan jadi ahli ilmu agama. Semakin banyak ahli ilmu agama semakin tinggi tingkat perdebatan dan mengarah ke perpecahan. Karena dalam agama orang bebas bicara tanpa data dan fakta, hanya modal keyakinan. Sementara kita butuh tenaga terampil untuk membangun, memperbaiki sistem, mengolah hasil bumi kita.

Sumber : Status Facebook Budi Santoso Purwokartiko

Wednesday, August 14, 2019 - 10:15
Kategori Rubrik: