7 Ciri Menguatnya Dollar Berpengaruh Ke Masyarakat

Ilustrasi

Oleh : Sahir Nopi

Menguatnya nilai tukar dolar terhadap rupiah kemarin hingga Rp 15.000 dimanfaatkan oleh sekelompok orang untuk menyerang pemerintah. Lihat saja jagat medsos, rebut-ribut soal dolar yang dihubung-hubungkan dengan ancaman krisis, berpengaruh pada hutang hingga impor kedelai segala macam. Bahkan beberapa menakut-nakuti dengan krisis moneter Tahun 1997 yang menyebabkan pondasi Indonesia hancur.

Kondisi sekarang jauh berbeda dengan apa yang terjadi dengan saat itu. Sudah banyak yang menjelaskan bahwa dari sisi pergerakan rupiah saja sudah ada gap. Tahun 1997, rupiah melesat pesat dengan GDP yang sangat minim. Belum lagi intervensi pemerintah sangat luar biasa sehingga potret pondasi yang ada dalam laporan-laporan keuangan saat itu sebetulnya bohong. Akibatnya ya ambruk. Lalu jika saat ini dolar menguat, apakah tidak berpengaruh? Jelas ada namun jika masih dalam tahap kewajaran atau hingga dolar Rp 16.000 masih bisa terkendali.

Mengapa penguatan dolar saat ini ibarat ilusi jika dikaitkan dengan kondisi 1997? Ada banyak faktor serta analisis secara ilmu ekonomi. Namun setidaknya kita sebagai masyarakat awam bisa melihat ciri-cirinya secara langsung di lingkungan kita.

1. Harga-harga kebutuhan pokok naik drastis atau terus-terusan naik hingga lebih dari 100 persen. Misal harga beras Rp 12.000/kg, merambat naik tanpa terkendali hingga tembus Rp 24.000 atau lebih dan sedikitpun tidak turun. Selain beras tentu ada gula, telur, minyak goreng, cabai dan lain sebagainya.

2. Banyak orang menarik rupiah dari bank atau setidaknya banyak antrian di bank untuk menarik tabungannya. Itu menandakan pemerintah sudah tidak mendapat kepercayaan masyarakat secara luas sehingga mereka menarik uang. Takut jika penjaminan pemerintah tidak berlaku disebabkan krisis.

3. Harga emas melonjak pesat dan banyak masyarakat menukarkan emasnya. Masyarakat kita suka menyimpan emas dan ketika dolar naik maka harga emas akan ikut naik. Kondisi ini mendorong masyarakat menukarkan emas ke toko emas demi memiliki rupiah lebih banyak.

4. Harga BBM ikut terdongkrak dan masyarakat banyak mengantri untuk menyimpan BBM. Kondisi ini pada Tahun 1997 juga terjadi dan hampir kita mudah temui antrian BBM dimana-mana. Banyak yang sengaja membeli bahan bakar penuh lalu disimpan dirumah untuk kemudian dibelikan lagi.

5. Pabrik-pabrik melakukan PHK besar-besaran dan tidak mengenal wilayah. Misalnya tidak hanya terjadi di Batam namun juga di Tangerang, Sidoarjo, Sukoharjo, Polewali dan banyak kota lainnya. Meski secara perlahan dolar menguat, silahkan cek saja apakah ada PHK besar-besaran terjadi?

6. Kriminalitas marak dan menyelip diantara pemberitaan baik di media cetak atau televisi. Berita kriminalitas memang selalu ada, yang membedakan jika terjadi krisis adalah pelaku merupakan orang biasa bukan residivis. Dalam kondisi krisis biasanya pelaku adalah orang yang terancam PHK atau malah korban PHK. Atau bisa jadi tingkat bunuh diri, perceraian, kekerasan dalam rumah tangga bertambah.

7. Munculnya pedagang kaki lima baru di pusat kota pemerintahan. Biasanya efek domino dari PHK masal ya kriminalitas atau PKL. Mereka ini mau melamar pekerjaan juga tidak ada lowongan, mau berbuat jahat dilarang agama. Otomatis pilihan paling realistis ya berjualan ditepi jalan.

Itulah setidaknya 7 ciri-ciri bahwa dolar berpengaruh. Pengaruh itu bisa muncul jika pemerintah tidak melakukan tindakan-tindakan atau langkah strategis mengantisipasinya. Upaya pemerintah mengantisipasi itu bisa dilakukan dengan banyak hal, salah satunya intervensi bank sentral. Itu tindakan jangka pendek. Namun bagi Negara yang sudah membangun pondasi secara matang, jelas tidak mudah terpengaruh.

Beberapa langkah Presiden Jokowi dalam mengupayakan minimnya pengaruh menguatnya dolar misalnya pencabutan subsidi BBM, penguatan infrastruktur, pemotongan pajak UMKM, pemberian rumah subsidi, mendirikan bank mikro wakaf untuk kalangan pesantren, peningkatan dana desa dan lain sebagainya. Makanya masyarakat luas tidak terdampak dengan penguatan dolar ke Rp 15.000. Bahkan hingga artikel ini dibuat, dollar sudah terkoreksi hingga Rp 14.877,50. Jadi buat apa kita resah dengan isu dolar menguat?

#Cengiiiiiiiiiiiiiiirrr

Friday, September 7, 2018 - 01:00
Kategori Rubrik: