6 Pertanyaan Seputar Kereta Cepat Bandung-Jakarta

Sejumlah kalangan mengemukakan pertanyaan tentang proyek kereta cepat Bandung-Jakarta. Sejumlah pertanyaan itu bermuara pada enak hal. Berikut Penjelasan Dasar mengenai Kereta Api Cepat yang ground breaking-nya dilakukan Kamis (21/1/2016):

1. Apakah urgent membangun kereta api cepat yngg menghubungkan Bandung-Jakarta?

Kereta Cepat Jakarta Bandung adalah infrastruktur yang dibutuhkan untuk mempercepat pertumbuhan sentra ekonomi baru di koridor Jakarta Bandung, seperti Cikarang, Karawang, Bandung Barat (Walini), Bandung (Gedebage). Jadi kereta cepat Jakarta – Bandung tidak dapat dipandang sebagai moda transportasi yang membawa penumpang dari Jakarta ke Bandung, tetap sebagai sarana mendorong pertumbuhan ekonomi koridor Jakarta Bandung, karena terintegrasi dengan pembangunan kawasan. Proyek kereta cepat Jakarta – Bandung adalah fase pertama dan akan diteruskan sampai Semarang, Surabaya, dan bila mungkin sampai Denpasar
Selain memanfaatkan lahan sebagai bagian dari optimalisasi aset BUMN, proyek ini akan menciptakan lapangan kerja baru pada masa konstruksi dan masa operasional.

2. Apakah dengan jalan tol cipularang, kereta api yang ada sekarang dan pesawat yang terbang Jkt-Bdg pp msh blm cukup dan blm memuaskan?

Saat ini, jalan Tol Cipularang dalam kondisi normal (bukan liburan) sudah mengalami kepadatan tinggi, sehingga jarak Jakarta – Bandung 150 Km yang seharusnya dapat ditempuh 1,5 Jam – 2 Jam, saat ini mencapai 3 – 4 Jam. Kepadatan volume kendaraan rute Jakarta-Bandung menimbulkan kemacetan dan antrian kendaraan yang panjang. Walaupun saat ini tersedia juga moda transportasi udara dan kereta api kecepatan rendah.

Kondisi ini juga berdampak pada terhambatnya angkutan barang dari Jakarta ke wilayah lain di pulau Jawa. Kepadatan volume kendaraan ini akan terus meningkat dalam 5 – 10 tahun ke depan. Hasil survey demand forecast (LAPI ITB) menyebutkan bila kereta cepat Jakarta – Bandung tersedia, sebagai besar (60%) pengguna transportasi kereta api konvensional, pengendara mobil pribadi, penumpang travel, dan penumpang bus mau beralih menggunakan kereta cepat.

3. Biaya pembangunan kereta cepat 5,5 milyar dolar AS atau 78 trilun cukup besar?

Biaya pembangunan kereta cepat US$ 5,5 Miliar sangat besar bila dibiayahi oleh APBN, namun jika dibiayai dengan skema B to B biaya ini tidak terlalu besar, apalagi jika Interal Rate Return (IRR) tinggi.

Biaya itu bukan berasal dari pengalihan subsidi bbm melainkan setoran equity 25% konsorsium 4 BUMN senilai hampir 19 trilyun
Pemilik proyek Kereta Cepat Jakarta Bandung adalah perusahaan patungan (JVC) Konsorsium Indonesia (60%) dan China (40) dengan nama PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC). Untuk Pembiayaan proyek 25% (KCIC) dan 75% (China Development Bank). Dari 25% pembiayaan proyek, konsorsium Indonesia menyetor equity :

Wika 38% _ 38% x 25% x 60% x 78 T = 4,446 T
KAI 25% _ 25% x 25% x 60% x 78 T = 2,925 T
N8 25% _ 25% x 25% x 60% x 78 T = 2,925 T
JM 12% _ 12% x 25% x 60% x 78 T =1,404 T
Totalnya Konsorsium Indonesia : 11,7 T (60% dari 25% pembiayaan proyek)
Angka tersebut sudah termasuk penggunaan aset dari masing-masing BUMN dalam bentuk sewa lahan dalam jangka waktu 40 tahun. Proyeksi yang akan dibayarkan oleh konsorsium BUMN Indonesia dalam bentuk uang cash adalah sebesar Rp 4 T.

Sisanya adalah adalah setoran konsorsium China : 40% x 25% x 78 T = 7,800 T 
Pinjaman China Development Bank _ 75% x 78 T = 58,500 T 
Pinjaman USD _ 63% (bunga 2%)
Pinjaman RMD _ 37% (bunga 3,46%)

Sementara sisanya 75 persen berasal pinjaman dari China kepada 4 BUMN tsb yang harus dilunasi selama 60 tahun.

Pembiayaan 75% proyek kereta cepat Jakarta Bandung dari CDB adalah pinjaman dari perusahaan patungan (KCIC) dengan 10 tahun grace period 10 tahun (tidak bayar utang). Masa pengembalian pinjaman adalah 40 tahun.

Berdasarkan demand forecast dalam 10 tahun dengan skenario penumpang per hari mencapai 60.000, harga tiket Rp 200.000, maka pendapatan per hari Rp 12 M, sehingga dalam setahun mencapai sekitar Rp 3,6 T (pendapatan dari tiket penumpang).

Selain pendapatan dari tiket penumpang, proyek kereta cepat Jakarta Bandung mendapatkan pendapatan lain dari operasional transit oriented development melalui pembayaran up from fee pemberiaan konsesi 20% dari potensi kenaikan nilai property setelah proyek kereta cepat selesai, tahun pertama 355 M dan terus meningkat pada 2024 pendapat per tahun mencapai Rp 6 T. Sehingga pada akhir periode kontrak pendapatan tiket dan TOD, KCIC optimis dapat mengembalikan pinjaman dan bunga.

Kontraktor pembangunan kereta cepat itu adalah pihak China sendiri yg mungkin nanti akan bawa tenaga kerja dari China pula
Kontraktor pelaksana proyek melibatkan BUMN Indonesia khususnya di bidang konstruksi. Jumlah tenaga kerja langsung dari kereta cepat pada masa konstruksi sekitar 39.000 per tahun dan kesepakatan tenaga kerja China yang masuk hanya masuk pada tataran manajemen, supervisi dan expert.

4. Kalau kontraktor itu lalai atau wanprestasi mengerjakan proyek kereta cepat itu, apa yang akan terjadi dengan pinjaman kepada konsorsium 4 BUMN itu?

Bila kontraktor lalai dalam pengerjaan proyek kereta cepat, maka yang mengambil alih tanggung jawab adalah PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) sebagai perusahaan patungan konsorsium BUMN Indonesia dan Konsorsium BUMN China. Tidak ada garansi atau jaminan aset dari perusahaan induk BUMN, sehingga tidak beralasan bila aset BUMN diakuisisi.

Yang namanya utang ya tetap utang yang harus dicicil utang pokok plus bunganya jika telah jatuh tempo
Dengan proyeksi pendapat dari tiket penumpang Rp 3,6 T pertahun dan pendapatan TOD rata rata Rp 5 T per tahun, maka KCIC dapat melunasi pinjaman plus bunga kepada China Development Bank secara bertahap hingga akhir periode pinjaman.

China tidak akan mau pusing dengan kelalaian kontraktornya sendiri, sengaja atau tidak sengaja, yg namanya utang ya harus bayar.

KCIC adalah perusahaan patungan yang sahamnya juga dimiliki konsorsium China, sehingga China turut bertanggung jawab atas tindakan lalai (wanprestasi) kontraktor.

5. Kalau tak mampu bayar bukan mustahil China akan akuisisi saham ke 4 konsorsium BUMN tersebut. Maka China mulai kuasai BUMN kita?

Walaupun terjadi wanprestasi kontraktor, China tidak dapat mengakuisisi saham BUMN secara langsung. Yang mungkin terjadi adalah pengambil alihan saham BUMN yang ada pada perusahaan patungan (KCIC) dan kemungkinannya melalui restrukturisasi hutang.

6. Layakkah mereka disebut sebagai investor?

Konsorsium BUMN (China Railway International) adalah investor yang menawarkan kerjasama business to business dengan konsorsium BUMN Indonesia, selain menyetor modal dari equitas-nya sebesar 40% dari 25% modal yang harus disetor pada perusahaan patungan, konsorsium BUMN China juga menghadirkan China Development Bank untuk mendanai proyek kereta cepat Jakarta -Bandung. Sebagai investor konsorsium BUMN China menanamkan modalnya dalam bentuk uang cash bukan investasi dalam bentuk Portofolio.

 

(Sumber: Kantor Staf Presiden)

Friday, January 22, 2016 - 17:45
Kategori Rubrik: