50 Tahun Adian Napitupulu

ilustrasi
Oleh :

(Presidum Nasional PENA '98)

TELAH banyak peristiwa dilewati. Zaman bergerak ditelusuri. Keadaan menempa menjadi aktivis, politisi, sekaligus singa podium yang memukau dalam forum debat.
Kehidupan sejak jadi yatim, menjadi buruh di Marunda, kondektur bus PPD, hingga kuliah dan terlibat dalam banyak aksi dan pengorganisasian rakyat di masa rezim Suharto, dan beberapa tahun setelahnya, telah menempanya menjadi: sosok yang keras, konsisten, sekaligus mudah berempati pada keadan kaum miskin dan teraniaya.
Juga pada nasib kawan sejuangnya, aktivis eksponen 98.
***
ADIAN Yunus Yusak Napitupulu atau biasa dikenal dengan Adian Napitupulu adalah seorang anggota DPR dari PDI Perjuangan.
Sebelum menjadi politisi, Adian lebih dulu dikenal sebagai seorang aktivis politik dan pergerakan mahasiswa dengan sebutan parlemen jalanan yang digagasnya.
Lahir di Manado, 9 Januari 1971 dari pasangan Ishak Parluhutan Napitupulu dan Soeparti Esther, pada masa kecilnya Adian sering berpindah-pindah kota untuk mengikuti dinas ayahnya yang merupakan pegawai negeri sipil dan sempat menjabat sebagai Kepala Kejaksaan Negeri di beberapa kota.
Adian menyelesaikan sekolah dasarnya di SDN 01 Ciganjur, Jakarta dari tahun 1979 sampai 1985, sekolah menengah pertama di SMP Negeri 166 Jakarta dari 1985 hingga 1988, dan terakhir bersekolah di SMA Negeri 55 Jakarta dan tamat pada tahun 1991.
Ketika Adian masih berumur 10 tahun, sang ayah meninggal dunia ketika menjabat di Kejaksaan Agung RI dan membuat Adian akhirnya tinggal di Jakarta untuk selanjutnya.
Sebagai seorang aktivis, Adian memiliki rekam jejak yang cukup panjang dalam keterlibatannya dengan berbagai aksi.
Pada tahun 1991, Adian sempat ditangkap dan ditahan ketika menjadi buruh di sebuah pabrik kayu karena keterlibatannya dalam 5 kali demontrasi dan pemogokan di pabrik.
Adian kemudian diberhentikan dengan tidak hormat.
Sebelumnya profesi sebagai kondektur bus PPD dari Depo H Simpang Hek Jakarta Timur dijalaninya.
Adian Napitupulu berkuliah di Universitas Kristen Indonesia (UKI) di Cawang, Jakarta dan mengambil jurusan hukum. Pada tahun 1992 dia mendaftarkan diri sebagai anggota Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) di kampus tersebut dan kemudian mendirikan kelompok diskusi ProDeo pada tahun 1994.
Pada tahun 1995, Adian terpilih menjadi senat mahasiswa UKI dan melibatkan diri dalam berbagai pergerakan mahasiswa yang dilakukan pada masa itu.
Tercatat, Adian mengikuti demonstrasi solidaritas terhadap Sri Bintang Pamungkas yang membuatnya ditangkap dan diinterogasi oleh polisi.
 
Keterlibatan Adian dengan PDI dan Megawati mulai terjadi pada tahun 1996. Pada saat itu, dia mendirikan posko Pemuda Mahasiswa Pro Megawati. Yang merupakan satu-satunya organisasi non PDI yang memberikan dukungannya pada Megawati Soekarno Putri. Usai kejadian penyerbuan kantor DPP PDI pada tanggal 27 Juli 1996.
Dukungan yang diberikan Adian ini diwujudkan dengan mengumpulkan sejumlah kawan-kawan sesama aktivis untuk menggalang demonstrasi solidaritas.
Demonstrasi pertama dilakukannya pada 28 Oktober 1996 di Gedung Sumpah Pemuda yang kemudian menyebabkan Adian ditangkap dan diinterogasi kembali oleh kepolisian.
Akhir tahun 1996, Adian bersama kawan-kawannya membentuk Lembaga Bantuan Hukum Nusantara (LBHN) Jakarta. Salah satu bantuan yang diberikan oleh lembaga ini adalah pengorganisasian terhadap Korban SUTET di desa Cibentang, Parung Jawa Barat.
Pada tahun 1997, akibat aksi bantuannya ini, Adian mendapat penganiayaan dari aparat.
Pada Pemilu 1997, Adian kembali mengalami penganiayaan akibat menolak paksaan massa Golkar untuk menunjukkan jari tengah dan telunjuk yang merupakan lambang Golkar pada masa itu.
Beberapa minggu kemudian, Adian mulai berpindah-pindah dan tidak berkantor tetap di LBHN sebab kondisi politik yang tidak stabil kala itu.
Tahun 1998, Adian mulai semakin diperhitungkan karena terlibat pada pendirian Komunitas Mahasiswa Se-Jabodetabek bernama: Forum Kota (FORKOT).
Organisasi ini berisi 16 kampus dan merupakan dua organisasi mahasiswa pertama yang menduduki gedung DPR/MPR senayan pada tanggal 18 Mei 1998.
Usai tumbangnya Orde Baru, Adian terus terlibat dalam berbagai gerakan, serta aktivitas yang pro rakyat.
Pada tahun 2009, Adian mendirikan organisasi Bendera (Benteng Demokrasi Rakyat). Bendera dikenal sebagai organisasi yang melakukan protes dan mogok makan sebagai bentuk solidaritas atas nasib kaum buruh pada tahun 2012.
Pada tahun 2009, Adian sempat mendaftar menjadi calon anggota DPR melalui PDI Perjuangan namun ternyata dia belum lolos ke Senayan pada waktu itu.
Akhirnya pada Pemilu tahun 2014, Adian Napitupulu berhasil duduk menjadi anggota DPR dari PDI Perjuangan dari Dapil Jabar V/Kabupaten Bogor.
Lalu, karir politiknya berlanjut lolos lagi di DPR RI di dapil yang sama pada Pemilu 2019.
Pada tahun 2012, Adian membidani berdirinya Ormas nasional Posko Perjuangan Rakyat (POSPERA. Ini adalah organisasi massa bagian dari organisasi Persatuan Nasional Aktivis 98 (PENA 98) yang telah berdiri sejak tahun 2007 --yang Adian menjabat Sekjen.
***
TIDAK terasa hari ini, usiamu 50 tahun. Semakin senja, kawan. Selamat ulang tahun kawan Adian. Jaga kesehatan, Bung. Dan teruslah menginspirasi Indonesia.
Seperti katamu, usia kita boleh terus menua, tapi jiwa dan tindakan kita mesti terus segar, muda, berbeda, dan mengikuti gerak zaman.
Di luar sana, saya tau banyak yang senang denganmu, tapi tak kurang banyak yang benci, kesal, dendam. Biarlah. Dunia memang selalu begitu: dinamik dan pro-kontra.
Tugas kita berbuat yang terbaik. Telah banyak hal baik dan berkembang terjadi setelah 1998. Namun juga, masih panjang pekerjaan rumah sebagai amanat reformasi '98. Sebagai tanggung jawab kita bersama; generasi yang rindu pada keadilan dan kesejahteraan massa rakyat.
Masih banyak hal di negeri yang sama kita cintai ini, yang mesti terus dibenahi, diperbaiki, dijaga, dan terus dikritisi. Supaya cita-cita Indonesia yang adil, demokratis, maju, dan berkedaulatan bisa terwujud.[]
Jakarta, 09 Januari 2021.
Sumber : Status Facebook Erwin Usman
Sumber bacaan:
Rizky Wahyu Permana, Profil Adian Yunus Yusak Napitupulu, Merdeka.com
Sunday, January 10, 2021 - 11:00
Kategori Rubrik: