3 Sisi Menarik Ustadz Abdul Somad

Oleh: Chitra Retna S

 

Kehadiran UAS dua hari di Canberra membuat saya ingin sekalian refleksi personal tentang beliau. Ustadz ini memang cukup kontroversial, tapi seperti semua hal yang dijadikan atau terjebak menjadi proxy dari keributan polarisasi ini (antara klp so called moderat vs klp so called konservatif), kita perlu menyibak kekeruhan ini dulu plus menanggalkan frame bias yang keburu muncul di kepala kita, untuk bisa melihat lebih imbang. Dengan cara: perjumpaan. Perjumpaan akan memberi kita kesempatan “merasakan”, bukan hanya “katanya begini katanya begitu”. (Ini berlaku untuk semua hal yang kena ‘label’, berjumpa-lah dengan syiah, ahmadiyah, teman-teman kristen hindu budha kepercayaan ateis, liberal dst, maka perjumpaan akan membuat Anda melihat lebih imbang).

Ada tiga sisi yang menarik dibahas dari sosok UAS ini.

 

 

Pertama, UAS sebagai individu dan jebakan ustadz seleb-instan. Ustadz kurus cungkring, penampilan ndeso (ini bukan statemen negatif nggih, saya hanya mengkontraskan dengan ustadz yang ‘dandan’), sangat-sangat humble dan sederhana, bicara blak-blakan plus humor khas Sumatra. Saat ini ada semacam ekstasi besar ummat terhadap UAS. Acara yang sama di Sydney kabarnya ludes dihadiri 1500 lebih, pun di Melbourne, apalagi di Indonesia sendiri. Terus terang banyak dari kita punya rasa alergi tertentu pada tipe ustadz seleb-instant. Arifin Ilham, Yusuf Mansyur dll. Rasanya ada sesuatu dari ke-seleb-instan-annya yang gimana gitu. Semacam flavour populis (serve for the demand of populer mass), tapi gak dalam. Flavour yang gak kita temukan dalam sosok-sosok ustadz tua-kenyang-makan-asam-garam macam quraish shihab, buya syafii, kyai-kyai pesantren di pelosok. Flavour instant-nya gak kerasa. Mereka bertumbuh lewat ilmunya yang dalam. Aa Gym juga mixed. Saya ikut ngaji di Aa Gym sejak masih di rumah Gerlong lama jaman masih ada adik beliau berkursi roda masih ngaji di ruang tamu. Tapi sejak jadi seleb berasa ada taste flavour populer yang beda (walau mungkin ini perasaan bias saya aja).

Tapi somehow saya merasa (atau berharap?) UAS akan cukup berbeda pathway-nya. Dia gak mudah dimakan gemerlap panggung seleb dan berubah menjadi ustadz populis. Entah mungkin ini penangkapan melihat dari dekat karakter humble beliau, jejak panjang menggali ilmu beliau, atau cerita perjalanan dari keluarga gak kaya yang diangkat anak oleh saudagar untuk disiapkan jadi ulama. Oh ya disini perlu disinggung satu catatan kecil: kebanyakan ustadz seleb-instan jatuh pamornya karena, selain godaan harta dan gemerlap panggung, juga godaan wanita. Sebagian besar memilih poligami, dan dengan itu pamornya jatuh. Jatuh tandanya waktu naik pamor berarti karena faktor2 instan di mata penggemar, karena klo faktornya hal yang lebih substansial, harusnya poligami gak membuat ybs jatuh.

Kedua, masalah pendekatan. UAS definitly not my type of preacher sejak awal, karena saya bukan muslim yang dominan pendekatannya “dalilnya apa ya dalilnya apa ya”. UAS sangat fasih ilmunya di bidang per-dalil-an syariat. Juga cukup ortodox dan konvensional, jadi terkesan kaku. Menarik juga menyimak sekitar 40-an pertanyaan dalam Tabligh Akbar ini, nyaris 90% terkait “gimana ustadz masalah ini” yang dijawab dengan “dalilnya begini begitu”. Lha saya pertanyaannya “kenapa muslim selalu terjebak mentalitas dimana tafsir yang benar harus satu saja, kenapa Islam tidak menurunkan satu institusi untuk membentuk hukum terkodifikasi” dsb dsb, yo gak kena dengan ustadz semacam UAS. Kenanya dengan ustadz macam yang ada dalam list favorit saya: dimulai dari al mukarrom alm Imaduddin Abdul Rahim yg penjelasan tauhidnya bahi saya works banget dan beneran mengubah cara saya memahami hidup, sampai ustadz semacam Nouman Ali Khan, buya Syafii, Haidar Baqir (yap, so called syiah so what), dst.

Tapi justru itu pembelajaran saya dari UAS ini. Setiap pejalan kaki dalam jalan Islam punya karakternya masing-masing. Punya ‘bahasa’nya sendiri. Punya frekuensi-nya sendiri. Dan seperti juga satu ayat Al Qur’an yang sama bisa menyentuh ribuan orang dalam ribuan cara berbeda, maka bagi setiap musafir ada ‘pembawa beritanya sendiri yang menyapa dalam frekuensi mereka sendiri’. Karena itu salah kalau benak kita menggoda untuk membanding-bandingkan antar mereka, menilai antar mereka, membenarkan (style saya sendiri) atau menyalahkan (semua yang bukan style saya). Thats why walau sejak awal saya sadar UAS bukan scholar dalam frekuensi saya, saya bersemangat terlibat dalam acara ini. Kenapa? Coz in most of time, the enemy is your own bias. Sebuah bias yang socialy constructed di kepala Anda selalu harus, berkali-kali, dibuka diletakkan di meja dan dichallenge. Pertanyaan (frekuensi) saya memang bukan ‘dalilnya apa dalilnya apa’, tapi menyimak pertanyaan2 ini membuat saya lebih memahami pertanyaan dan penjiwaan musafir lainnya. Percayalah, toleransi dan internal-faith-discussion di internal kelompok2 muslim sendiri saat ini jauh lebih penting, dibandingkan muslim dan inter-faith lainnya. Seperti wejangan pak Haidar Nashir terakhir saat mengunjungi kami: jangan jadi moderat tapi ekstrim, moderat tapi pendekatannya ekstrim, menyalah2kan dan maksa semua yang bukan seperti saya berarti salah.

Ketiga, godaan Islam politik. Sejak awal saya tertarik mengamati: apakah UAS akan terjun ke politik praktis? Godaan ini jelas besar sekali. Saat ini bahkan nada2 sekelompok ummat yang mencari figur ‘pemimpin’ gerakan Islam politik sudah menggadang-gadang beliau. Apakah beliau mau menerima tawaran ini, atau tidak, akan menarik. Sebagai catatan, bedakan antara politik Islam dan politisasi Islam. Politik Islam itu alami, wajar dan harus, tapi politisasi Islam itu semacam teluh yang tipis batasnya setiap kali politik Islam naik lagi, dan bentuknya (politisasi Islam) selalu amat sangat merusak.

(Politik Islam adalah bentuk2 meng-Islami-kan politik, memberi value Islam pada institusi politik atau menjual gagasan Islam pada pertarungan isu politik, ini wajar dan harus dilakukan semua kelompok entah berbasis agama, kepentingan dll. Politisasi Islam adalah menggunakan agama untuk pembenaran tujuan2 politik tertentu, semacam ‘ngibulin’ umat pakai dalil agama tapi sebenarnya untuk kepentingan aktor-aktor politik semata)

Terakhir, saya bermimpi generasi berikutnya akan berjumpa dengan UAS 20 tahun lagi setelah UAS juga menggali kitab-kitab citizenship, rational choice dan bounded rationality, humanity atau populism. Di titik itu, bayangan saya UAS akan menjelaskan riba dengan cara berbeda, bukan “dalilnya ini itu”, tapi semacam: “riba di konteks Islam saat itu bla bla prinsip dasarnya adalah bla bla kalau lihat evolusi sistem ekonomi dimana konteks berubah drastis maka riba saat ini bukan sesimple dimaknai sebagai bunga haram tetapi bla bla dan secara sistem PR besarnya adalah menaklukkan rational choice karena Islam mengajarkan behaviour manusia bersifat altruistik bla bla”. UAS yang kuat ilmu dasar Islamnya tapi juga kuat ilmu kontekstualnya.

I’ll keep that dream as a dua for ustadz cungkring very very humble yang selalu mengutamakan ibunya ini.

 

(Sumber: Facebook Chitra Retna S)

Wednesday, April 25, 2018 - 22:45
Kategori Rubrik: