212: Mengapa Jokowi Tak Pernah Kalah

Oleh : Rudi S Kamri

Formula 212 rasanya cocok untuk memotret perjalanan hidup seorang Jokowi saat ikut kontestasi pejabat publik. 2 KALI mengikuti pilkada Kota Solo dan menang. Bahkan pada pilkada kedua di Kota Solo, Jokowi mendapat suara lebih dari 90%. Kemudian 1 KALI ditarik ikut Pilkada DKI Jakarta tahun 2012 juga menang. Lalu secara nasional 2 KALI ikut kontestasi Pilpres 2014 dan 2019, hasilnya seperti kita tahu juga selalu menang.

Terlepas bahwa semua kemenangan yang didapat Jokowi adalah kehendak Tuhan. Perlu kita telisik mengapa jalan hidup si tukang kayu itu begitu mulus saat ikut kontestasi pejabat publik :

 

PERTAMA : NIAT TULUS UNTUK MENGABDI
Dari pancaran wajah Jokowi terlihat jelas seorang yang tidak punya ambisi kekuasaan. Yang menonjol adalah aura untuk secara total mengabdi kepada negeri. Lihat bagaimana beliau begitu enteng melangkah menghadapi setiap kali Pilkada dan Pilpres. Tidak ada beban kengototan yang terlalu. Dan ini secara psiko-science hasil survey Lembaga Psikologi UI beberapa waktu lalu, terbukti Jokowi memiliki ambisi kekuasaan yang jauh lebih rendah dibanding lawannya.

KEDUA : CARA YANG BERMARTABAT
Dalam kontestasi Pilpres yang berlangsung dua kali, Jokowi selalu menggunakan strategi pemenangan yang santun dan elegan. Tidak pernah sekalipun dia menyerang lawannya apalagi membuat fitnah kepada lawannya. Yang terjadi beliau selalu menjadi KORBAN. Korban fitnah, korban hoax dan sasaran ujaran kebencian. Menyikapi serangan yang sebrutal apapun Jokowi tidak pernah goyah melangkah. Dan ternyata terbukti cara yang bermartabat membuat beliau kuat dan liat.

KETIGA : KUALIFIKASI YANG MUMPUNI
Dari ketiga jabatan yang telah diembannya yaitu walikota, gubernur dan presiden, Jokowi selalu menunjukkan performa kerja yang jauh di atas rata-rata. Selalu ada pembaharuan yang dibawa dalam perjalanan kepemimpinannya. Selalu ada pembeda yang ditorehkan dalam setiap perjalanan pengabdiannya.

Lalu bagaimana dengan rivalnya dalam dua kali kontestasi Pilpres ini ?

Formulanya juga 212. Di karier kemiliterannya beliau mengalami 2 KALI kegagalan, pertama gagal lulus pada waktu yang seharusnya alias tertunda setahun dan kedua gagal menuntaskan pengabdiannya di dinas kemiliteran alias dipecat karena kasus penculikan dan pembunuhan aktivis 1998.
Beliau juga 1 KALI gagal menjadi Cawapres pada tahun 2009 saat mendampingi Megawati dengan jargon MegaPro. Pasangan tidak punya chemistry ini harus takluk di tangan SBY dan Boediono. Dan yang terakhir beliau 2 KALI gagal total mendapat suara terbanyak dalam kontestasi Pilpres tahun 2014 dan 2019. 

Mengapa beliau selalu gagal ? 

Terlepas memang Tuhan tidak pernah merestui beliau jadi pemimpin negara, namun bisa juga kita analisa kegagalannya sebagai berikut :

Untuk menghemat waktu saya menulis dan Anda dalam membaca, analisa PERTAMA, KEDUA dan KETIGA adalah berbanding terbalik dengan analisa tentang Jokowi. Tidak ada niat yang tulus untuk mengabdi bahkan cenderung haus kekuasaan. Akhirnya beliau menghalalkan segala cara dengan cara kasar, brutal dan tidak bermartabat. Dan terlepas dari dua hal di atas, kalau boleh jujur beliau sejatinya memang tidak mempunyai kualitas sebagai seorang pemimpin negara yang baik. Mulai dari pengendalian diri yang sering jebol sampai tidak memiliki kualifikasi pemimpin di era milenial alias memang tidak sesuai dengan jamannya. Ingat "onlen-onlen" ? 

Akhirnya saya tahu, mengapa Jokowi selalu MENANG, karena dia terlahir bukan menjadi seorang pecundang. Dan mengapa si dia selalu KALAH, karena aura mukanya selalu terlihat marah. Dan alam semesta rupanya tidak suka orang serakah yang selalu gundah.

Jadi 212 bisa jadi apa saja. Tergantung mood dan intens penulisnya. Anda mau saya analisa 212-kan ? Harga cocok ....tariiik mang !!!

Salam SATU Indonesia,
30062019

Sunday, June 30, 2019 - 09:30
Kategori Rubrik: