20 Tahun Lalu

Oleh: Sunardian Wirodono

 

Pada 12 Mei 1998, terjadi peristiwa mencekam dan berdarah di kampus Universitas Trisakti, Grogol, Jakarta Barat. Saat itu mahasiswa melakukan demonstrasi menentang pemerintahan Soeharto. Empat mahasiswa tewas dalam penembakan terhadap peserta demonstrasi yang melakukan aksi damai. 

Dokumentasi Kontras mencatat korban luka 681 orang, dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Tragedi Trisakti menjadi simbol perlawanan mahasiswa terhadap pemerintahan Orde Baru. Setelah tragedi itu, perlawanan mahasiswa menuntut reformasi, semakin besar. 

 

Fadli Zon, dan kebanyakan responden sebuah lembaga survey mengatakan, Soeharto presiden paling berhasil (dibanding semua presiden Indonesia). Tak usah baper, karena Anda bukan Fadli Zon, dan mungkin bukan pula responden survey itu. Sama tak perlu bapernya ketika dulu ada kuis di mana Arswendo Atmowiloto lebih terkenal dibanding siapa, atau ketika John Lennon merasa lebih popular dibanding Tuhan Yesus bukan? 

Setelah Tragedi Trisaksi, kerusuhan rasial terjadi pada 13-15 Mei. Namun, kerusuhan itu tak mengalihkan mahasiswa untuk tetap bergerak dan menuntut perubahan. Hingga 18 Mei 1998 mahasiswa menguasai kompleks gedung MPR/DPR, dan beberapa hari kemudian pemerintahan jatuh, 21 Mei 1998, setelah berkuasa 32 tahun. 

Sebelum dan sesudah 1998, ada fakta lain, tentang ekonomi yang jatuh. Tingginya angka stunting dalam data ibu hamil. Itu berkaitan kualitas sumber daya manusia kita, 20 tahun kemudian. Sampai di situ, saya ragu statemen Jokowi, bahwa kita akan mendapat booming generasi emas pada 2045. Kualitas demokrasi dan kepolitikan kita, sampai hari ini, blum menjadikan hukum sebagai panglima, dan kedisiplinan warga tak punya keteladanan.

Saya lebih percaya Soeharto bukan hanya penjahat ekonomi, atau presiden korup terbesar seperti catatan TIME. Melainkan ia juga penjahat kebudayaan atau kemanusiaan terbesar. 

Di tengah pandemi coronavirus kini, masih saja kita dengar berbagai sas-sus politik yang tak relevan. Bagaimana omongan parlemen. Omongan para veteran yang terus saja ingin tampil. Sampai-sampai kita mendengar konon Susilo Bambang Yudhoyono, Jusuf Kalla, dan Surya Paloh, kini berhimpun entah untuk apa. Benarkah berita itu? Benarkah isu lain tentang orang-orang JK, yang menguasai ring satu? Hingga Jokowi seperti orang yang terikat kaki dan tangannya, di tengah ring tinju? Darimana isu itu? Lantas apa arti reformasi 20 tahun lampau, ketika lebih banyak pernyataan di media daripada kenyataan di tengah masyarakat, yang terdampak WFH, sementara di rumah tak ada yang dikerjakan, dimainkan, apalagi dimakan?

Sejarah juga tak ada artinya, jika kita tak bisa mengambil hikmah. “Sejarah adalah suatu perjanjian di antara orang yang sudah meninggal,” tulis Edmund Burke, politikus dan filsuf Inggris abad 18, “dengan mereka yang masih hidup, dan mereka yang belum dilahirkan.” Karenanya, yang terpenting adalah hari ini. Di sini. Ngapain. | 

(Sumber: Facebook @sunardianwirodono)

Wednesday, May 13, 2020 - 21:15
Kategori Rubrik: