by

2 Jenderal 2 Hukuma Mati

Oleh: Karto Bugel

Ini justru tentang makna KORSA yang sebenarnya. Bukan membabi buta karena sebab membela teman dalam satu korps yang sedang berperkara, ini tentang hal yang lebih besar, korps itu sendiri.

Seorang Jenderal Listyo Sigit Prabowo yang terkesan tidak membela Irjen Teddy Minahasa dan Irjen Ferdy Sambo dimana keduanya adalah anak buahnya dalam satu korps pada skala tertentu justru tentang korsa yang sesungguhnya.

Bukan hal mudah saat dia harus memilih antara membela anak buahnya atau korps, keduanya ada dalam satu nadi yang sama. Seperti di persimpangan jalan, Listyo sudah memilih.

Dia tidak intervensi pada persidangan dimana bahkan dua anak buahnya itu dituntut dengan hukuman PALING BERAT, Hukuman penjara SEUMUR HIDUP dan hukuman MATI.

Esprit de corps yang kini lebih kita kenal sebagai konsep jiwa korsa, pertama kali diperkenalkan oleh Napoleon Bonaparte.

Jiwa korsa adalah suatu konsep mengenai kesadaran seorang individu dalam suatu korps yang memiliki perasaan sebagai suatu kesatuan, kekitaan, kecintaan terhadap suatu perhimpunan atau lembaga.

Rasa hormat kepada korps, setia pada sumpah, janji dan tradisi, kesadaran bersama antar kawan dalam satu korps, dan kebanggaan menjadi anggota korps adalah wujud korsa itu sendiri.

Adakah dalam diri Sambo maupun Teddy tak telah ingkar pada korsa itu sendiri?

Keduanya abai, keduanya tidak memiliki jiwa korsa dan maka mereka bukan lagi bagian dari KORSA.

Bukan hanya tidak mau intervensi pada tuntutan hukuman paling berat bagi kedua Irjen itu, demi KORSA pada korps nya, bukan mustahil bila Kapolri justru berada di balik semua itu.

Dua Irjen dengan dua penantian hukuman mati, mustahil bukan karena Polri yang sedang bersih – bersih.

(Sumber: Facebook Karto Bugel)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed