14 Tahun Prabowo Pimpin IPSI, Hanya Di Era Jokowi Pencak Silat Pesta Emas

Ilustrasi

Oleh : Sahir Nopi

Tidak banyak yang tahu bahwa Prabowo Subianto sudah memimpin Ikatan Pencak Silat Indonesia selama 14 tahun, yakni dari tahun 2004 hingga saat ini. Waktu itu dia merebut pucuk pimpinan IPSI guna meraih dukungan untuk mengikuti konvensi Capres Partai Golkar. Faktanya, dia kalah dengan Wiranto sehingga gagal maju menjadi Capres. Sejak saat itu, Ketua Umum IPSI tak pernah lepas dari tangannya. Semua pesaingnya di IPSI rontok ketika pemilihan Ketua Umum, salah satunya Rahmat Gobel, pemilik Panasonic Gobel gagal menjadi Ketua IPSI.

Selama menjabat Ketua IPSI, pencak silat tak pernah moncer diajang pesta olahraga baik tingkat Asean apalagi Asia meski olahraga ini muncul dari Nusantara. Kita runut sejak Prabowo terpilih sebagai Ketua IPSI. Tahun 2005 sewaktu Sea Games di Philipina, kontingen kita hanya mampu meraih 5 medali emas. Dua tahun kemudian di Thailand, perolehan medali emas juga stagnan. Tahun 2009 sewaktu Sea Games diselenggarakan di Laos, perolehan medali emas Indonesia hanya 2 keping saja. Nah saat kita menjadi tuan rumah tahun 2009 yang diadakan di Palembang dan Jakarta, kita bisa meraih 9 emas.

Meski begitu, 3 penyelenggaraan Sea Games berikutnya perolehan keeping emas dari pesilat kita terus menurun. Tahun 2013 di Myanmar pundi emas menyusut hingga hanya 4 medali kita raih. Tahun 2015, perolehan pesilat Indonesia berkurang menjadi hanya 3 keping dan tahun lalu sewaktu Sea Games diselenggarakan di Kuala Lumpur, atlet kita hanya dapat 2 medali saja. Sebuah prestasi yang sangat menyedihkan. Apalagi setahun berikutnya kita menjadi tuan rumah Asian Games. Kita tidak pernah mendengar upaya yang dilakukan oleh Prabowo selaku Ketua IPSI. Kita lebih banyak mendengar kiprah politiknya. Di Tahun 2015 berkutat mendorong Jokowi di Pilkada Jakarta dan 2017 sibuk mempromosikan Anies Sandi menjadi Gubernur DKI Jakarta.

Hal yang aneh apabila dalam Asian Games 2018 ini pesilat-pesilat kita mampu mempersembahkan emas hingga 14 dari 16 keping yang disediakan. Tentu jika orang-orang membanggakan Prabowo, menjadi lucu. Mengapa baru kali ini dia seakan-akan sangat berjasa? Ada yang bilang factor tuan rumah sangat menentukan. Yakin? Tahun 2011 kita juga menjadi tuan rumah Asian Games, buktinya hanya mampu meraih 9 emas saja. Lalu pada Sea Games 2017 kita hanya mampu meraih 2 dan tiba-tiba menjadi 14, lonjakan yang luar biasa.

Dari 14 pesilat kita, bisa tunjukkan siapa pesilat yang mengucapkan terima kasih ke Prabowo sesaat setelah memenangkan pertandingan? Hanya Hanifan yang mengucapkannya karena sewaktu bertanding disaksikan oleh Prabowo langsung. Itupun setelah berterima kasih kepada Presiden Indonesia, Joko Widodo. Jika mau jujur sebenarnya secara teknik dan skill atlet kita tidak kalah dengan Negara lain. Kelemahannya, mereka tidak pernah dibangkitkan semangatnya meraih emas atau bertarung demi harga diri bangsa. Titik tolak semangat atlet kita berawal dari respon masyarakat, tidak hanya Indonesia namun juga Asia yang terkesan dengan pembukaan. Hal ini mendorong atlet-atlet Indonesia berjuang mati-matian.

Masih yakin faktor tuan rumah yang menentukan? Bagaimana dengan panahan yang gagal meraih emas? Bagaimana dengan All Indonesian Final di panjat tebing putri kategori cepat maupun ganda putra bulutangkis? Atau persembahan emas ganda campuran Indonesia? Bagaimana dengan raihan medali perak estafet putra 4 X 400 m yang ke 4 atletnya berusia 23 tahun, 21 tahun, 20 tahun dan 18 tahun? Panjat tebing, bulu tangkis, tenis, estafet putra merupakan olahraga terukur dan tidak berdasarkan penilaian juri. Mereka mampu mengalahkan atlet-atlet luar negeri yang biasanya menjadi kampiun di level Asia bahkan Dunia.

Jadi, masih yakin Prabowo yang membuat pesilat kita raih 14 emas?

Sunday, September 2, 2018 - 03:00
Kategori Rubrik: