11 Ijtihadku Memilih #2019TetapJokowi

Ilustrasi

Oleh : Awan Kurniawan

Pertama, Jokowi berprestasi. Anda dapat periksa ini baik ketika dia memimpin Solo maupun Jakarta. Saya bertanya ke Pakde saya yang cukup berwawasan dan bermukim di Solo tentang pendapat dia soal prestasi Jokowi di Solo. Pandaangannya positif semua, tidak jauh dari apa yang dikata atau dustakan Fadli Zon di layar kaca. Saya 
tidak tahu prestasi Gubernur Jakarta sebelum Jokowi, tapi dalam waktu singkat 2 tahun, di mata saya Jakarta banyak berubah. Kemacetan memang belum sirna, tapi upaya untuk mengatasinya dengan berbagai cara tampak sedang bekerja. Kebanjiran memang masih ada, tapi sungai-sungai tempat air mengadu dan berlalu pun tampak sudah 
genah. Prestasi yang lebih pasti dapat anda tanyakan kepada mereka-mereka yang tersentuh langsung oleh kebijakan Jokowi - Ahok di Jakarta.

Saat terpilih menjadi Presiden, jargon yang dipilih oleh Joko Widodo adalah Kerja, Kerja, Kerja!. Hingga 3 tahun pemerintahannya saat ini, Presiden Jokowi ternyata mampu membuktikan jargonnya tersebut. Berbagai keberhasilan telah ditorehkan pemerintahan Jokowi. Dengan fokus pada pembangunan infrastruktur untuk mengurangi ketimpangan antar wilayah dan juga pembangunan kualitas manusia, mimpi keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia sedikit demi sedikit mulai tampak.

Pencapaian terbesar yang bisa dirasakan seluruh masyarakat Indonesia adalah pembangunan infrastruktur yang masif di berbagai daerah. Pembangunan jalan tol, jalan nasional, bendungan, hingga pelabuhan bisa dirasakan manfaatnya.Selain itu, pemerintah juga berhasil menjaga stabilitas harga pangan yang juga tercermin dari tingkat inflasi yang masih terjaga di bawah 4%. Produksi beras di dalam negeri juga mampu mencukupi kebutuhan nasional. Sehingga di 2016 lalu pemerintah tidak melakukan impor beras.

Penyaluran bantuan sosial (Bansos) juga kini lebih terarah. Penyaluran bantuan sosial menggunakan kartu diharapkan bisa membuat penerima bantuan menerima manfaat yang lebih besar.

Kedua, Jokowi itu manusiawi. Jokowi tidak angker dan bukan sosok pemarah. Dia bukan tipe pemimpin yang asal sikat jika sedang merencanakan sebuah rencana kerja. Bila dia ingin merelokasi pedagang kaki lima, dia akan ajak mereka bicara. Dia siapkan alternatif-alternatif lahan penghidupan bagi mereka. Jokowi tahu, semua manusia sekecil apapun harus dimanusiakan, bukan diperlakukan dengan akal-akalan dan semena-mena. Kita sudah lama menyaksikan pemimpin arogan yang langsung kirim preman atau 
pentungan demi menggusur rakyat jelata yang ingin mereka tata. Jokowi bukan tipe pemimpin yang menang-mentang seperti itu. Dia tipe pemimpin yang mengerti betapa beratnya perjuangan hidup di kalangan rakyat jelata.

Ketiga, Jokowi tidak atau belum korupsi. Dilihat dari gaya hidup pribadinya, Jokowi tampak akan lebih tulus mengabdi dan berbakti. Dia hidup sederhana, dan tidak punya kuda yang kelak harus diurus negara. Mobil dinasnya pun cuma Innova. Apakah ongkos politik kelak mengharuskannya untuk korupsi? Mungkin saja! Tapi kemungkinan itu jauh lebih kecil pada Jokowi dibanding rivalnya

Apakah bukannya Jokowi yang sibuk mencitrakan diri dengan aksi blusukannya? Anda harus ingat, Jokowi sejak dulu dia memang kekasih media. Sebelum separtisan sekarang ini, sehari tanpa berita Jokowi bagi media kita bagaikan belum bersantap dan mandi pagi. Itu karena sang maha rating sangat berkuasa di bisnis media, terutama tivi. 
Tatkala pertarungan politik dimulai, media-media yang partisan tadi baru sadar betapa bahayanya mempromosikan Jokowi di media mereka. Kini kita melihat, beberapa media yang dulu menjual Jokowi, sedang sibuk membujuk pemirsa untuk tidak membelinya.

Keempat, Jokowi produk reformasi. Bagi pemilih pemula yang tidak mengerti pentingnya reformasi, cobalah bayangkan ini! Anda masih muda, penuh gelora, ingin bebas bersuara. Tapi saban kali menyuarakan keluhan-keluhan hidup anda, anda sangat mungkin ditangkap dan diculik oleh rezim yang berkuasa. Anda tidak bisa sebebas sekarang menyuarakan kepahitan, kegalauan, kemuakan, dan keputusasaan anda menghadapi keadaan dan sistem politik yang ada. Itulah era Orde Baru yang kini kembali dipuja rival Jokowi. Anda perlu mengerti, Jokowi bukan bagian dan produk rezim yang anti kebebasan itu.

Kelima, Jokowi tegas menjalankan Konstitusi. Ini saya saksikan tatkala dia mempertahankan kesetaraan kesempatan seluruh warga negara untuk menjadi pejabat publik. Bersama Jokowi, saya tidak kuatir akan ada warga negara yang disingkirkan dari posisi atau jabatannya karena alasan sentimen-sentimen primordial seperti kesukuan maupun Agama.

Keenam, Jokowi lebih sedikit berjanji. Saya memilih presiden yang lebih sedikit berjanji karena saya akan lebih sedikit dikecewakan. Lebih dari itu, janji-janji masa kampanye bagi saya tak lebih dari gombal-gombal saat pacaran. Saya tentu menaruh harapan agar presiden mendatang mampu membuat ekonomi kita lebih baik, keamanan 
lebih terjaga, kebebasan tetap terpelihara. Tapi jika ada yang berjanji akan mentiga kalilipatkan pendapatan saya, saya akan anggap itu angin-angin surga dan tipudaya belaka. Seingat saya, Jokowi tidak terlalu banyak menjanjikan hal yang muluk-muluk. Ini berbeda dengan rivalnya yang sangat berani berjanji agar memikat hati pemilih.

Ketujuh, Jokowi membuat anda peduli dan berpartisipasi. Jokowi tidak memberi anda instruksi, tapi anda justru peduli dan tergerak untuk berpartisipasi, bahkan dengan mengorbankan waktu dan materi. Itulah tipikal pemimpin yang mampu memberi inspirasi. Bersama Jokowi, anda peduli bahwa negeri ini perlu berbenah, perlu berubah. Anda suka rela ikut serta berkontribusi demi merawat mimpi perubahan itu. Dengan kepedulian dan partisipasi semacam ini, Jokowi akan berhutang budi kepada anda, bukan kepada penyumbang antah-berantah yang kelak akan akan menggerogoti anggaran negara demi mengembalikan investasi mereka. Jokowi lebih banyak berhutang kepada ketulusan Anda, bukan kepada uang muka proyek yang dijanjikan kepada pengusaha.

Kedelapan, Jokowi tidak sevulgar rivalnya dalam mengumbar pengkavlingan kekuasaan. Bersama Jokowi, kita mendapatkan Menteri Agama yang tidak mengorupsi dana haji, Menteri Komunikasi dan Informasi yang lebih mengerti urusan informasi teknologi, Menkoekuin yang tak membuat bocor Anggaran Pendapatan Belanja Negara sampai ribuan triliun rupiah.

Kesepuluh, Jokowi belum bernoda. Setahu saya, Jokowi belum punya rekam jejak suram di masa silam. Dia tidak pernah dipecat dari jabatan, atau melarikan diri ke luar negeri demi lepas dari jerat hukum, atau pun memperkaya diri karena berkuasa. Jokowi? Ya, Jokowi sebagaimana kita semua, mungkin saja ternoda. Dalam bahasa fikih, Jokowi mungkin saja ternodai (mutanajjas), tapi dirinya sendiri belumlah bernoda (najis). Ini lebih baik dari dia yang pada dirinya sendiri adalah noda dan dikelilingi orang- orang atau kelompok yang memang bernoda.

Kesebelas, Jokowi tidak akan merecoki. Jika anda anak muda yang kreatif dan sedikit usil, yakinlah bahwa Jokowi yang berjiwa rocker tak akan merecoki urusan anda. Sekalipun anda membuat parodi tentang dirinya, mencemooh tampang ndeso-nya, atau mungkin ingin mengumpatnya. Saya yakin, Jokowi tak akan gundah, rapopo, dan woles saja. Kebebasan dan kreativitas anda tak akan dia hambat dan halang- halangi. Karena tidak berkoalisi dengan pihak-pihak yang suka merecoki urusan orang lain, dia pun lebih mungkin tidak menggunakan pihak ketiga untuk menggebuk anda.

Inilah 11 alasan saya mendukung Jokowi. Semoga ini juga menjadi alasan anda. Pendek kata, bagi saya memberi alasan kenapa memilih ini dan bukan itu adalah hasil ijtihad saya dalam mempraktikan kaidah Fiqh " Tasaroful Imam ala raiyatahu manuutun bil Maslahah" Memilih pemimpin itu dilandaskan pada pilihan siapa yang dianggap mampu membawa pada kesejahteraan.

Sumber : Status Facebook Awan Kurniawan

Thursday, May 3, 2018 - 00:15
Kategori Rubrik: