Politik

Di Indonesia, Tak Ada yang Pribumi!

Absurd yang terjadi, ketika label non-pribumi hanya bisa ditujukan pada kaum Timur, bukan kepada kaum Eropa. Interaksi antar-kaum etnis pun kemudian dibatasi oleh hukum “passenstelsel”. Politik adu domba (devide et impera) mulai dijalankan ketika peran para kapitan Cina perlahan disebut sebagai kaum pemeras dan penipu bagi penduduk lokal Batavia.

Mengapa Kita Harus Mempertanyakan Kredibilitas Zakir Naik

Keahlian Zakir Naik dalam memahami al-Quran juga dipertanyakan. Menurut ulama Deoband ini, ia tak memiliki syarat-syarat keilmuan untuk menjadi seorang mufassir. Pengetahuannya tentang gramatika Bahasa Arab juga diragukan. Namun, bagaimana ia bisa tampak seperti ahli tafsir? Itu tak lebih hanya karena ia memang hafal ayat al-Quran berikut artinya bahkan halamannya. Di beberapa kesempatan ia sering mengatakan bahwa terjemahan adalah hal mendasar untuk memahami kitab suci.

Masjid Itu "Rumah Tuhan" atau "Rumah Anies"?

Kemenangan FIS dalam pemilu tahun 1990an, menurut Eep, karena menggunakan masjid sebagai alat kampanye dan instrumen propaganda politik karena itu jika paslon Anies-Sandi ingin menang, maka gunakanlah masjid. Sungguh hanya orang-orang yang otaknya somplak dan kesurupan "demit politik" serta "kebelet" kekuasaan saja yang menggunakan tempat-tempat ibadah (masjid, gereja, dlsb) untuk kepentingan politik praktis kekuasaan duniawi.

Mengenal Awal Perang Suriah

Singkat kata, monopoli AS dan Eropa terhadap energi di Timur Tengah tentu akan berakhir jika kerjasama tiga negara tersebut dibiarkan tumbuh dan berkembang. Maka pilihannya Bashar Al Assad harus tumbang, untuk menggagalkan proyek pipa tersebut. Jika tidak, Amerika dan Uni Eropa, mau tak mau bakal tambah bergantung dengan pasokan energi dari Rusia yang harganya relatif tinggi.

Menyoal Kontrak Politik Anies Baswedan dengan Kelompok Radikal

Anies menganggap politisasi SARA menjadi senjata satu-satunya untuk memenangkan kontestasi Pilkada DKI. Tak heran jika menjelang Pilkada putaran kedua ini, intensitas penggunaan sentimen SARA semakin tinggi. Dimulai dari provokasi kebencian di berbagai masjid melalui khutbah Jumat, intimidasi jenazah, hingga aksi demonstrasi berjubah agama. Perkembangan ini menjadi keprihatinan kita semua sebagai bangsa yang menjunjung tinggi nilai-nilai kebhinekaan dan toleransi.

 

Pages