Politik

Peserta Aksi 212 Hanya 750 Ribu, Ini Hitungannya

Oleh : Robbi Baskoro

Banyak perkiraan yang muncul terkait berapa jumlah jemaah yang ikut shalat jumat di monas kemarin. Ada yang bilang hanya di bilangan ratusan ribu, ada pula yang bilang sampai jutaan bahkan 7 juta sekalipun.

Karena ini merupakan domain ilmu pasti, untuk mengetahui jawabannya memang harus ada studi tersendiri yang sahih, namun perkiraan kasar juga rasanya bisa memberikan gambaran yang cukup mendekati.

Setelah 212 Lalu Apa?

Oleh: Anca Ursitadinata
 

Dirikan daulah Islam? Hukum minoritas dgn hukum Islam? Ga ada jelas cerita macam itu. Karena apa yg tampak dari 212 bukanlah perserikatan yg kokoh. Dilandasi tujuan masa depan lebih baik.. Atau itu tadi, mengupayakan daulah Islam.

Dilihat dari motif kumpul, yg sekedar ego dan emosi politis dadakan.. konklusi dari aksi juga malah disumbat oleh jokowi.

Jalan ummat Islam muncul sebagai kekuatan besar hanya sampai di titik menuntut tumbal, bukan membawa kesatuan islam politik yg lebih strategis menuju arah negara islam.

Mereka yang Merasa di Atas Angin

Oleh: Kajitow Elkayeni

 

Di balik gegap-gempita aksi damai 212, ada berita penangkapan 10 orang. Konon ada dugaan makar ditujukan terhadap mereka. Seperti yang pernah saya singgung sebelumnya, ancaman makar ini bukan persoalan sepele. Orang-orang boleh tertawa begitu mendengar ancaman makar. Mereka boleh menganggapnya lelucon aparat, pengalihan isu. Apalagi selama ini presiden diam saja dimaki-maki.

Makar

Oleh: Tomi Lebang
 

Delapan tokoh ditangkap polisi, Jumat pagi, menjelang unjuk rasa super damai di ibukota. Belum terang benar masalahnya, tapi dari kepingan-kepingan kabar yang berseliweran, kita menangkap satu benang merahnya: tudingan rencana makar dan permufakatan jahat. Sudah berhari-hari kata ini mendengung di kuping, seperti lalat yang mengendus aroma upil dan tak pergi-pergi.

SBY dan Paradoks "In Crucial Thing Unity"

Oleh : Made Bungloen

SBY mungkin lupa, kalau di Indonesia ini pernah ada upaya dari kelompok radikal yang menggunakan foto dirinya sebagai sasaran untuk latihan menembak. Dalam pidatonya tersebut juga SBY menyinggung soal “ada target SBY tidak dilantik”. SBY juga mengungkapkan “Berdasarkan laporan intelijen, ada upaya yang sistematis menggagalkan kelangsungan pemerintahan yang demokratis ini”. saya jadi bertanya pada diri saya sendiri, bukankah gerakan yang dilakukan oleh kelompok ini termasuk gerakan makar?

Tags: 

Negarawan Tak Seharusnya Menyulut Konflik

Oleh : Budiman Sudjatmiko

Ketika negara dalam situasi sosial yang bergolak, apa yang harus dilakukan seorang negarawan?

Tentu pertanyaan itu hanya bisa dijawab dengan persis oleh seorang negarawan. Meski begitu, bukan berarti rakyat biasa tidak boleh berandai-andai jika dirinya menjadi negarawan lalu menjawab pertanyaan itu.

Pikiran rakyat itu sederhana, ketika ada kegaduhan, orang menginginkan ketenangan. Ketika ada konflik, orang ingin meredakan. Bukan sebaliknya, menambah gaduh dan membakar konflik.

Aksi 212 : Unjuk Rasa, Unjuk Soliditas, dan Unjuk Kelemahan

 
Oleh : Zulfikar Akbar
 
Demonstrasi kembali akan dilakukan 2 Desember 2016 meski tidak lagi mengusung "Aksi Bela Islam". Apa makna unjukrasa jilid berikutnya setelah 411 ini?

Berdiri berseberangan dengan yang seagama memang lebih berat dibandingkan berdiri berseberangan dengan yang berbeda agama. Setidaknya itulah yang sangat terasakan di Indonesia.

Klarifikasi Barokah

Oleh: Kajitow Elkayeni
 

Ahlan! Ane pikir, komentar tentang foto Bibib sudah mulai kelewatan. Ada klarifikasi dari Ustad Solmed, tapi tidak membantu. Mohon perhatian ahokers, cebongers, haters, JRXers, kalian jangan senang dulu. Selaku jubir tak resmi FPI, ane pikir perlu menjelaskan perihal foto ini. Supaya tidak ada patonah di antara kita. Fustun yess, patonah no.

Pertama, ini foto lama.

Pages