Politik

Debat Terakhir, Anies dan Sandi Tak Memberi Jawaban

Ilustrasi

Namun keunggulan itu tak berlaku dalam perkara birokrasi. Dan ini berakhir dengan mengenaskan dalam momen ketika Djarot diberikan kesempatan bertanya pada Sandi. Djarot bisa mencium kelemahan Sandi perkara birokrasi, dan itulah yang ditanyakan: bagaimana cara membantu Gubernur dalam menyusun KUA-PPAS.

"Apa itu KUA, Pak? Supaya orang di rumah juga tahu," kata Sandi.

Islam Politik yang Tidak Islami

Ilustrasi

Sang Jenderal yang kekuasaanya menjadi sangat luas mulai menangkapi para pejabat yang dulunya setia kepada ayahnya. Ingat, ayahnya sendiri yang menjebloskan dia ke penjara. Tidak menunggu lama, lima bulan kemudian, al-Mu’tadhid berkuasa menjadi khalifah, setelah pada 14 oktober 892 Khalifah al-Mu’tamid meninggal dunia.

Empat Ilusi Pertanyaan Komunitas untuk Jegal Ahok, KPUD Bermain Lagikah?

Saya mencium bau anyir yang sangat busuk. Jangan-jangan ini semua “mainannya” KPUD DKI? Jangan-jangan ini setting dan by designed dari KPU untuk mementahkan program petahana dengan menghadapkannya dengan orang lapangan atau kondisi kontradiktif di lapangan? Jangan-jangan… Ahhhh…. Sudahlah.

Tapi saya tidak menyerah. Saya mencoba untuk menggali lagi dan memang menemukan kejanggalan pada penampilan para anggota komunitas yang seolah pertanyaanya undian tapi kok aneh sekali.

Kelompok Jakarta Bersyariah Pendukung Anies-Sandi

Ilustrasi

Dari berbagai hal yang diungkapkan diatas jelas terlihat pendukung Anies-Sandi soal Jakarta Bersyariat ini ada 3 yakni HTI, FPI serta PKS. Dan isu Jakarta Bersyariat ini bukan baru saja terjadi karena sudah sejak 2016 lalu terbentuk Majelis Tinggi Jakarta Bersyariat. Berdasarkan penelusuran, Majelis Tinggi Jakarta Bersyariat ini dibentuk pada 19 November 2015 dalam rangka menghadapi Pilkada 2017. Sejak awal mereka mendorong adanya Gubernur Muslim, urai Ketua Majelis Tinggi, Rizieq Shihab.

Anies Baswedan dan Imajinasi Persatuan tanpa Kebhinekaan

Mengutamakan persatuan dan mengesampingkan kebhinekaan sebagai fakta saja bisa dikatakan cukup berbahaya. Khususnya dalam tensi politik seperti sekarang ini. Ketika marak bermunculan kelompok yang cenderung mencoba mendominasi satu interpretasi dengan cara memaksa, termasuk pengerahan massa dengan mengusung berbagai ancaman.

Omongan Anies Lebih Cepat dari Akalnya

Anies berbusa busa ngomong soal bottom-up transportasi, Ahok enak bener nge kick nya, karena faktanya menurut Ahok dari e-ticket yang sudah berjalan itu adalah bottom up yang sesungguhnya

Anies muter muter soal reklamasi, mencla mencle, tahu tempe. Emang bisa Peraturan Gubernur membatalkan Keputusan Presiden. Ahok membongkar isi perut reklamasi untuk siapa dan siapa yang lebih diuntungkan. Yang diuntungkan Rakyat Jakarta dan Para nelayan. Itu intinya. Anies bengong sambil ngiler dengerinnya

Biar kamu Ga ikutan jadi Sumbu Pendek, ini Lho arti kata "Sunan"

Kata "sunan" berasal dari bahasa Jawa "susuhunan" yang berarti "yang terhormat" atau "yang dimuliakan". Ada juga yang menyatakan dari bahasa China Jùnnàn (cunan) yang berarti pejabat dari kasta Nan. Pada masa kerajaan Islam di Jawa kata "Sunan" digunakan sebagai bentuk pemerintahan yang posisinya sama dengan Kesultanan dan dikenal dengan "kasunanan". Jadi sebenarnya kata "sunan" lebih dekat pada pengertian posisi jabatan daripada posisi keagamaan.

Krisis Marwah DPD & DPR : Demokrasi Kebablasan?

Jadi bukan pelaksanaan demokrasi yg kebebalsan yg seharusnya dituding sebagai sebab, tetapi karena para pelaksananya yang sontoloyo dan malah melakukan distorsi thd sistem demokrasi. Lebih-lebih dengan adanya fakta krisis kepemimpinan DPD dan DPR ini, sulit utk membantah bahwa kesontoloyoan tsb dilakukan terutama pada level kepemimpinan. Rakyat bisa saja curiga apakah mereka ini sengaja utk menghancurkan sistem demokrasi secara sitematis dan struktural?

Kengerian di Balik Pendukung Anies-Sandi

Jadi, menurut almarhum Nurcholish Madjid, pluralisme tidak dapat dipahami hanya dengan mengatakan bahwa masyarakat kita majemuk, beranekaragam, atau terdiri dari berbagai suku dan agama, yang justru hanya menggambarkan kesan fragmentasi, bukan pluralisme. Pluralisme juga tidak boleh dipahami sekadar “kebaikan negative” (negative good), yang dilihat kegunaannya untuk menyingkirkan fanatisme (to keep fanaticism at bay).

Pages