Politik

Bangun Tidur Lagi

Iwan Fals juga tiru-tiru, “Mentari pagi sudah membumbung tinggi. Bangunlah putra putri ibu pertiwi. Mari mandi dan gosok gigi,...” Tapi Iwan Fals dalam lagu ‘Bangunlah Putera-Puteri Ibu Pertiwi, setelah itu bukan menolong Ibunya. Iwan malah ngomyang, “Setelah itu kita berjanji. Tadi pagi, esok hari, atau lusa nanti. Garuda bukan burung perkutut. Sang Saka bukan sandang pembalut. Dan coba kau dengarkan. Pancasila itu bukanlah rumus kode buntut!”

Prabowo Sudah Bubarkan BPN, Jangan Ada yang Macam-Macam

Pertemuan dihadiri seluruh sekjen partai koalisi di antaranya Sekjen Partai Gerindra Ahmad Muzani, Sekjen PAN, Eddy Soeparno, Sekjen PKS, Mustafa Kamal, Sekjen Partai Demokrat Hinca.

Prabowo dalam kesempatan itu juga menyampaikan terima kasih kepada partai koalisi yang telah memberikan kepercayaan kepada dirinya dan Sandiaga dalam kontestasi Pilpres 2019 ini. 

CATATAN :

Bahasa Inggris Jokowi

Para alumni AKI tidak mau tahu bagaimana Presiden Jokowi guyon gayeng ketawa-ketiwi dengan beberapa pemimpin negara terkuat di dunia. Mereka sirik mengakui bagaimana Jokowi bisa asyik bercanda ria dengan Ivanka Trump putri Presiden Donald Trump. Mereka juga ogah mengakui bagaimana PM Kanada Justin Trudeau dan Presiden Perancis Emmanuel Macron tertawa terbahak-bahak mendengar guyonan dari Jokowi. Mungkin mereka pikir semua itu dilakukan Jokowi dengan menggunakan bahasa Jawa atau bahasa Indonesia.

Desakralisasi Purnawirawan TNI

ilustrasi

Akan tetapi, yang menarik di Pilpres 2019 ini adalah munculnya gerakan kolektif purnawirawan TNI dan Polri yang masih memakai identitas militer dan polri sebagai basis dari wajah politik mereka di publik. Karena wajah militer/polisi yang dikedepankan dan mengerucut menjadi identitas dari gerakan kolektif ini maka suka atau tidak, gerakan kolektif ini menarik institusi TNI dan Polri untuk secara tidak langsung, ikut 'bermain politik' juga.

Melihat Semut Item

Begitulah, dan wajarlah, jika ada yang mengatakan politik memang bajingan. Nggak tahu diri. Rakyat hanya dipakai pendorong kendaraan mogok. Hanya diperbudak sebagai alamat palsu. Begitu kursi kekuasaan didapat atas nama rakyat, mereka sama sekali abai. Menang tak siap, kalah apalagi! Mangkanya yang tampak lebih banyak sikap-sikap konyol. Tak ada kegelisahan bagaimana peradaban harus dibangun bersama.

Dekati, Bukan Dibenci

Saya jawab, “tidak ..... tidak sama sekali. Dari kecil saya dikondisikan oleh orang tua saya mencintai PPP. PPP partai Islam. Golkar partai yang tidak memperjuagkan Islam. Orang Islam mayoritas di Indonesia, maka sudah sepantasnya kita memperjuangkan partai Islam”.

“Memangnya Golkar tidak memperjuangkan Islam”, kata dosen senior ini, yang waktu itu belum Profesor.

Pages