Politik

Sesat Pikir Felix Siauw Terkait Nasionalisme

Dari pernyataan di atas, Felix membuat definisi secara keliru bahwa nasionalisme adalah persatuan maya yang dibangun atas kesamaan suku bangsa. Secara keliru, Felix menyamakan nasionalisme dengan tribalisme atau kesukuan. Felix gagal paham bahwa Indonesia bukan satu suku bangsa melainkan banyak suku bangsa yang mengikatkan diri pada satu nasionalisme bernama bangsa Indonesia.

Setelah Ahok, Jokowi Target Berikutnya

Meskipun manusia seperti Ahmad Dhani, Ratna Sarumpaet, Rhoma Irama melakukan kampanye atas nama agama. Bahkan tambah bonus fatwa MUI DKI dan kampanye di tempat ibadah. Kegagalan menghambat laju Jokowi-Ahok ini membuat kalangan Islam radikal makin kesetanan – ditambah dengan keterlibatan para koruptor campur tangan dalam gerakan. Gayung bersambut di 2014 ketika Gubernur DKI Jakarta menjadi kontender terdepan sebagai capres.

Habib Rizieq dan Zakir Naik Enggan Pulang ke Negaranya

Zakir Naik juga enggan Pulang

Dr Zakir Naik yang dikenal sebagai pendakwah kontroversial enggan kembali ke India untuk menjalani penyelidikan terkait dugaan terorisme. Bahkan ia terang-terangan mengakui, dirinya takut disiksa jika balik ke sana. Demikian seperti diwartakan kembali dari Tempo, Kamis (2/4/2017).

Matinya Keadilan di Indonesia

Kebetulan ke-3 orang yang saya kagumi ini punya kesamaan. Mereka adalah orang yang apa adanya, lebih memikirkan orang lain daripada dirinya sendiri, lurus, dan bersih dari korupsi, dan sangat cinta kepada negerinya. Ketiganya adalah orang-orang baik, yang tidak pernah mengambil keuntungan untuk dirinya sendiri. Ketiganya adalah pribadi yang cenderung hitam putih, tidak bisa kompromi pada hal-hal yang prinsip, dan lurus ikut aturan, tetapi selalu mencari terobosan atas kesulitan yang ada.

Khilafah adalah Sebuah Kekhilafan

Itulah beberapa kekhilafan yang dilakukan oleh penganut khilafah dalam memahami dan mengamati realitas sejarah sosial pergumulan khilafah pada masa lalu. Di luar itu, tentu masih banyak lagi bagaimana dokumen sejarah yang menjelaskan perihal khilafah yang tidak memiliki basis epistemologi yang kuat, terutama yang berakar pada wilayah teologis.

Pages