Politik

Jurus Dewa Mabuk Prabowo

Ilustrasi

Potret ini menggambarkan bahwa ajang Pilpres sebagai perwujudan demokrasi Indonesia bukan semakin maju. Selain kabar bohong, fitnah, hoax, ternyata ada capres dan parpol yang tidak benar-benar ingin mendewasakan demokrasi kita. Sebagian kecil elit partai ada yang memang tidak serius memberikan pendidikan politik yang makin dewasa. Sungguh upaya yang menyedihkan melihat perkembangan demokrasi yang selayaknya kita menjadi Negara yang elegan dalam penyelenggaraan demokrasi.

Bangke Beraroma Cendana

 

Pikiran bahwa bapaknya adalah idaman bangsa Indonesia tak bisa disalahkan, karena anak-anaknya hidup dalam buaian kenikmatan dan kemudahan tanpa keringat. Bahkan masih banyak politisi, angkatan yg begitu mencintai dan rindu zaman itu. Pikirannya cuma satu, semua bisa didapat asal bisa merapat ditempat sarang maksiat dgn payung Cendana, berbau dupa, siapkan saja upeti, semua bisa diatur dan terukur.

Agar Tak Kembali ke Orde Bau Busuk

 

Dan ketika Ahmad Taufik kemudian mengalah, dan Prabowo memberi sinyal pada PKS sebagai pengganti Sandi, masalah selesai? Tidak. Gerindra memberikan ketentuan, meski dari PKS syarat dan ketentuan tetap berlaku. Pakai fit and proper dulu. Meski semua dipilih dari kader PKS, hal itu membuat kubu PKS terbelah. Ada yang setuju karena toh semuanya (cawagub pengganti) adalah kader PKS. Tapi yang tak setuju, ini pelecehan bagi PKS. Sementara, aturan dasarnya bagaimana?

Jualan Politik Orde Baru

Dengan riang, saya pulang ke rumah. Sekitar 1 kilometer jarak kedai tempat ayah saya menjahit dengan gubuk kami.

Umak kemudian mengambil "kambuik". Tas dari daun rumbia. Pergi ke pasar dengan ditemani adik-adik saya. Beberapa jam kemudian, Umak pulang. Saya yang menunggu di dekat jenjang rumah, bergegas membantu menurunkan belanjaan dari becak.

Pages