Humaniora

Meutia dan Saya

Oleh : Dara Meutia Uning

Perkenalan saya dengan Cut Nyak Meutia berawal dari nama. Dari empat bersaudara, hanya nama saya yang tak menggunakan nukilan dari bahasa Arab. Saya cemburu karena nama saya terkesan amat ‘duniawi’. Seolah-olah saya kurang didoakan.

“Papa berniat, kalau punya anak perempuan akan diberi nama ‘Meutia’,” kata Mama mengutip Papa, “seperti nama nenek Papa.” Waktu itu, saya masih duduk di bangku sekolah dasar. Mama bilang, nenek Papa amat pemberani.

Fatwa Natal

Oleh : Sumanto Al Qurtuby

Setiap menjelang Natal kok mesti ribut dan sibuk soal "fatwa Natal" sampai bosan aku mengomentari. Begini, terhadap fatwa sejumlah ulama dan institusi Islam seperti MUI yang mengharamkan mengucapkan selamat Natal itu harus disikapi dengan santai dan biasa-biasa saja. Tidak perlu overdosis dalam bersikap. Tidak perlu reaksioner, dan tidak perlu "lebay-njeblay".

Nikmat Akal

Oleh : Denny Siregar

"Menariknya dunia ini ia seperti sarang laba-laba raksasa..

Lekatannya sangat kuat dan sulit untuk keluar dari perangkapnya. Sekali kita merasakan manisnya, kita terus merasa haus dan haus untuk terus mereguknya. Itulah kenapa kita selalu menemukan orang2 yang tamak dan serakah, karena rasa hausnya tidak pernah selesai.

Kelekatan jiwa kita dengan dunia menjadikan nafsu kita semakin berkuasa. Keinginan kita tinggi dan angan kita panjang. Semakin kuat nafsu berkuasa terhadap diri kita, maka kita perlahan berubah menjadi binatang.

Diam Sudah Nggak Musim

Oleh: Eko Kuntadhi
 

Banyak orang menyangka, kaum spesies dengkul pandai meributkan hal remeh temeh, disangkut pautkan dengan agama. Orang mengira itu disebabkan karena kebodohan belaka.

Bukan. Sesuatu yang tampaknya bodoh itu, menurut saya, memang sengaja disetting. Sengaja diproduksi. Tujuannya simpel. Untuk menciptakan kegaduhan terus menerus di masyarakat dan menjaring spesies dengkul lainnya. Mereka dijanjikan surga, padahal yang mau diciptakan adalah neraka.

Jilbab Cut Meutia

Oleh: Kajitow Elkayeni
 

Setelah gambar Cut Meutia muncul dalam serial uang baru, beberapa ektremis mulai menyebarkan propaganda. Dengan dalih pemurnian agama, mereka menuding Pemerintah menyembunyikan fakta sejarah. Orang islam kagetan ini jelas tidak paham sejarah. Dengan waham dunia islam versi mereka, kultur Arab dijadikan pedoman hidup. Islam memang lahir di sana, tapi islam bagaimanapun juga, bukanlah Arab seutuhnya.

Penjelasan Hadis Yang Dibajak untuk Tanggapi Tangisan Ahok

REDAKSIINDONESIA-Tulisan ini dibuat untuk membiasakan diri melakukan verifikasi dan validasi setiap informasi yang kita terima, serta semaksimal mungkin memastikan kebenaran informasi itu terlebih dahulu sebelum membaginya kepada yang lain.

Setelah melihat tayangan Ahok menangis di persidangan, tak lama kemudian (hanya hitungan menit) bertebaranlah di media sosial dan pesan (Whatsapp), kemudian menjadi viral, sebuah “hadis” berikut ini:

ﺇﺫﺍ ﺗﻢ ﻓﺠﻮﺭ ﺍﻟﻌﺒﺪ، ﻣﻠﻚ ﻋﻴﻨﻴﻪ، ﻓﺒﻜﻰ ﺑﻬﻤﺎ ﻣﺎ ﺷﺎﺀ

Kafir Ala Dwi Estiningsih

 

Oleh : Denny Siregar

Membaca bagaimana si Dwi Estiningsih ini menyebut pahlawan yang beragama lain sebagai kafir, membuat dada sesak..

Si Dwi ini contoh produk dogma, dimana konsep kafir atau kufur atau ingkar, disematkan pada mereka yang bukan muslim. Ia sama sekali tidak beragama dengan akal. Karena jika ia berakal, tentu ia akan sulit sekali berkata "kafir" pada agama lain.

Sebenarnya apa sih yang disebut kafir ?

Pages