Humaniora

Ketulusan Tigor Silaban

 

Bukan medannya saja yang begitu sulit, daerahnya pun dicap merah: penembakan sporadis masih marak di sana. “Tapi saya sudah berjanji kepada Tuhan. Kalau saya lulus, saya ingin bekerja di pedalaman Papua yang jauh dari Jakarta. Saya ingin menolong orang, dan tidak ingin praktik,” katanya suatu ketika.

Baru beberapa bulan bertugas di Oksibil, ada dokter yang terbunuh. Ia pun diminta pindah, tapi warga setempat marah. Maklum, di Oksibil, ia satu-satunya dokter.

Mentang Mentang Muslim

 

Saya bergumam, mentang-mentang muslim. Sampai segitunya.

Sebetulnya waktu membaca berita penghancuran susunan batu hasil karya orang iseng itu, saya teringat film The Gods Must Be Crazy. Bapak-bapak yang semangat menendang tumpukan batu di sungai Cidahu, seperti Xi, lelaki bercawat dari gurun Kalahari. Xi mengira, botol Coca-Cola bebas yang jatuh dari langit adalah akibat ulah Tuhan. Maklum, Xi belum punya HP untuk mencari tahu informasi soal botol Coca-cola.

Memimpin dengan Hati

 

Apakah mereka dibayar ? Apakah mereka penjilat ?

Tidak. Mereka berbicara dengan hati nurani mereka. Bahkan seorang dokter lulusan UI yang mengabdi disana, yang bahkan dulu tidak memilih Jokowi saat Pilpres kemarin, terpaksa harus keluar memberitakan situasi yang sebenarnya..

Saya teringat perkataan seorang teman, yang tidak pernah saya ceritakan.

Aneh Jika Anda Menempatkan Felix Siaw dan Irene Handoko Sebagai Dai

Ilustrasi

Pun tumbuhnya media social memudahkan kita mencari ulama yang punya kapasitas keilmuan mumpuni untuk belajar langsung. Sebagai awam, bukan tempat kita mencoba membaca terjemahan Al Qur;an dan kemudian berusaha menerapkannya tanpa bimbingan Ulama yang bisa dipertanggungjawabkan keilmuannya. Ada ribuan Ulama NU yang mempelajari agama belasan bahkan puluhan tahun, tidak hanya dalam negeri namun hingga keluar negeri.

Catatan Tim Kemanusiaan NU di Asmat

Ilustrasi

Selama bertugas Tim NU selalu melakukan koordinasi dengan berbagai pihak, hal-hal yang kami temukan tidak bisa diselesaikan dalam waktu yang singkat, karena pola kehidupan mereka (suku asmat) yang sangat jauh dari apa yang kita bayangkan selama ini, diantarannya persoalan air bersih hanya dari air hujan, untuk mandi dan minum tanpa dimasak terlebih dahulu, sehingga pertanyanya bagi tim bukan "berapa kali mandi? tapi kapan terakhir mandi ?".

NU Tak Ributkan Kartu, Langsung Terjun Ke Asmat

Ilustrasi

Perasaanku sedikit lega ketika speedboat sampai di distrik Agast. Di sini kami beruntung karena salah satu pengurus NU setempat adalah salah satu tetua adat di kampungnya. Beliau bernama Bapak Leo Rahamtulloh Piripas ketua Badan Musyawarah Kampung (BAMUSKAM). Kehadiran beliau membuat kami bisa disambut hangat oleh masyarakat Asmat. Hambatan komunikasi dan memahami kultur warga setempat yang dialami oleh beberapa NGO lain setidaknya tidak terlalu kami pusingkan.

Pages