Humaniora

Anak Tangga Terorisme

 

Pertama adalah perasaan bahwa cara beragamanyalah yang paling benar. Perasaan ini melahirkan pandangan bahwa yang berbeda cara dengannya jelas salah. Lahirlah sikap beragana yang tinggi hati.

Ini adalah step paling awal menuju pemahaman radikal. Baginya dunia cuma terbagi menjadi dua : muslim atau kafir. Pada sesama muslim, juga dibelah lagi muslim yang sama atau yang berbeda pandangan. Jika berbeda dianggap musuh. Jadi dia cuma memandang dirinya benar yang lain salah.

Gak Dijamin Masuk Surga

 

Dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim ada dinyatakan sejatinya bukan amal yang memasukkan seseorang ke surga. Hal itu berlaku pula pada Nabi. Hanya saja karunia dan rahmat-Nya meliputi beliau. Karunia dan rahmat inilah yang menjamin beliau masuk surga.

Membaca hadis ini kita gak boleh berpikir bahwa amal gak penting! Bukan gitu maksudnya. Baik di bumi bulat maupun di bumi datar, penjelasannya kurang-lebih begini:

Mereka yang Dikafirkan

 

Gus Dur, yang di hina buta mata buta hati, liberal, bahkan kafir oleh sekelompok orang yang tidak suka dirinya. Padahal, Gus Dur ahli kitab kuning, cucu dari pendiri NU dan anak dari KH. Wahid Hasyim, kurang apalagi coba? Berkat Gus Dur, Islam yang identik dengan teroris menjadi Islam yang lembut. Saat peralihan rezim Soeharto, banyak konflik agama di tiap daerah, tapi Gus Dur mampu meredamnya. Sehingga kita bisa lihat, Indonesia bersatu dan damai.

Pages