Humaniora

Semua Karena Ahok

 

Semua itu tak lepas dari satu nama; AHOK. Ya, karena Ahok lah dua tahun belakangan ini, hampir semua media massa baik televisi, cetak, online, radio, dan medsos begitu gegap gempita mewartakan peristiwa demi peristiwa yang ditimbulkan. 
 Di kantor, beranda rumah, kampus, sekolah, warung makan, taman, tempat arisan, pangkalan ojek, angkot, tempat nongkrong, cafe, pos ronda, hingga masjid, orang membicarakan Ahok. Ada yang mengidolakan, ada yang menentang habis-habisan. Ada yang sepakat, ada yang melaknat. 

Dipaksa Menerima [Vonis Ahok], Sungguh, Hati ini Tak Bisa

Bakat politik Ahok, bakat kejujurannya, bakatnya yang menghibur banyak orang, bakatnya yang ingin disalurkan ketika tidak menjadi gubernur lagi, harus diasahnya lebih giat. Tentu bukan di rumah, bukan di perpustakaan, melainkan di penjara. Ahok harus berdaya, seperti yang dilakukan Pramoedya, Sukarno, juga tokoh bangsa lainnya yang menikmati penjara sebagai pendaman cita-cita.

Pahlawan Indonesia Keturunan Cina

 

John Lie Tjeng Tjoan alias Jahja Daniel Dharma. Lelaki kelahiran Manado 9 Maret 1911 ini diberi gelar pahlawan nasional atas jasanya dalam perang kemerdekaan,dan mendapat Bintang Mahaputra Adipradana (2009). Besarnya jasa John Lie, sampai-sampai pemerintah memakai namanya sebagai nama salah satu kapal perang RI, yaitu KRI John Lie (358) pada akhir 2014.

Saudara dalam Kemanusiaan

Saya duduk dan mengamati lalu lalangnya manusia. Merinding dibuatnya. Mereka datang dari jauh - tanpa dibayar - dan berkumpul di titik yang sama.

Keindahan tampak dari begitu banyak ras dan suku yang berbeda dalam satu wadah. Seperti pelangi, tidak pernah bosan melihatnya. Karya agung Tuhan dalam penciptaan manusia dengan berbagai golongan dan warna kulit yang tidak sama.

Mengapa Saya Bela Ahok (Catatan Eks Santri Muallimin Muhammadiyah)

 
Di Madrasah Muallimin Muhammadiyah menjadi santri selama 6 tahun saya ditanamkan bahwa amar ma'ruf nahi munkar (memerintahkan yang baik dan mencegah kemungkaran) merupakan doktrin narasi yang dipegang. Melihat kinerja Ahok, ia memiliki kesamaan dengan itu. Meskipun tidak mendapatkan dukungan, buya Syafi'i merupakan orang yang lantang membela kinerja Ahok dan meyakini ia tidak menista agama. 

Antara Ahok dan Momon

Maka, jika Ahok kalian tuduh telah melecehkan agama, maka Momon adalah "mbahnya atau dedengkotnya" melecehkan agama.

Ahok sudah berbuat banyak sekali untuk pembangunan dan kemajuan Jakarta serta menciptakan pemerintahan yang bersih dan tidak korup, semua demi kemakmuran warga Jakarta, tapi masih saja kalian tidak menghargainya. Sementara si Momon kerjaannya cuma bikin ribut dan bikin onar, malah dibiarkan meraja-lela.

"Habaib"

Menurut Muhammad Asad, penulis lebih dari 20 buku yang terbit di Timur Tengah dan yang puluhan tahun mengenal Habib Ali Alhabsyi Kwitang, bahwa majelis taklim Habib Ali dapat bertahan selama lebih dari satu abad karena inti ajaran Islam yang disuguhkannya berlandaskan tauhid, kemurnian iman, solidaritas sosial, serta akhlakul karimah. Dia juga menjelaskan bahwa ajaran dakwah Habib Ali berupa pelatihan kebersihan jiwa, tasauf mu’tabarah dan dialog antara makhluk dengan al-Khalik serta antara sesama mahluk.

Dosen Sosiologi FISIP-UI Bagi Pengalaman Interaksi dengan Kelompok Islam di Kampus

Sebagai maba tentu berkegiatan dengan senior menjadi kebutuhan, apalagi iklim kuliah beda dg era SMA. Dalam klmpk pengajian tsb, saya dikondisikan untuk: bisa hijrah pakai jubah (jilbab syar'i di era kini), meski saat itu saya sudah berjilbab; KTP dianggap thagut, bhkn diminta dibakar; Orangtua yang keislamannya diragukan tidak sah menikahkan anaknya sehingga sbaiknya imam mrk yg menikahkan; saya ditanya bersedia dicarikan jodoh n segera menikah lbh baik?

Pages