Humaniora

Komunikasi

Ilustrasi

Bentuk pertama adalah bungkus luar. Bungkus luar ini jangan terlalu jelas, kasih sikit sikit lah aroma multi tafsir. Jadi waktu diserang orang, mudah mengelaknya: ah kamu, baca dong dari awal, khan jelas itu konteksnya jaman Belanda. Belanda gak pernah terlihat di pelosok, cuma di Jakarta aja yang jelas kelihatan penjajahan oleh Belanda. (Lalu semua mendapati pernyataan ini membingungkan.

Pancasila, Esa dan Ketuhanan Kita

Ilustrasi

Dengan demikian, alih-alih agama Buddha bertentangan dengan sila Ketuhanan Yang Maha Esa, karena kata esa itu sendiri merupakan kosa kata Budhhisme yang tak akan dipahami tanpa memahami tradisi dan falsafah agama ini. Penafsiran seperti ini juga terdapat di agama lain, termasuk Kristen, Katolik, Hindu, Konghucu, dan Islam dengan konsep yang beragam.

Persatuan Keragaman

Pribumi

Ilustrasi

Orang pun biasa saja dengan organisasi yang sejak lama menyebut diri 'Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia'. Dalam konteks historis, istilah 'pribumi' diintroduksi penjajah Belanda. Belanda menyebutnya inlander. Dalam strata masyarakat kolonial waktu itu, pribumi masuk golongan terendah, pendatang asal Timur Asing termasuk Tiongkok dan Arab golongan tengah, penduduk asal Eropa golongan tertinggi.

Ulama Bodoh dan Santri

Ilustrasi

Mereka harus melanjutkan ke jenjang selanjutnya yang memungkinkan mereka menguasai ilmu-ilmu seperti: ilmu ushul fiqih, hadis dan ilmu hadis (ilmu riwayah, dan ilmu dirayah seperti rijāl al-hadīs, jarh wa ta’dīl, tārīkh al-ruwāt, mukhtalaf al-hadīts, ilal al-hadits, gharīb al-hadīts, tas-hīf wa tahrīf, dan asbāb al-wurūd), ilmu tafsir (tafsir bil ma’tsur dan tafsir bi al-ra’y), ilmu al-Quran (ilmu mawāthin al-nuzūl, ilmu tawārīkh al-nuzūl, ilmu asbāb al-nuzūl, ilmu qirā’at, ilmu tajwīd, ilmu gharīb al-Q

Mempertanyakan Dalil Tahlil dengan Jaminan Keperawanan, Ndeso!!

Ilustrasi

Ulama ushul membahasnya dengan pembahasan illatn menurut mereka, illatnya ibadah mahdhah itu adalah ta'abbudiyyah (maknanya tidak bisa dilogikakan jika dinisbahkan kepada para mukallafiin/orang2 mukallaf). Seperti jika dicari hikmahnya shalat subuh 2 rakaat, dzhuhur 4 rakaat, para fuqaha menjawabnya semua ketentuan itu adalah ta'abbudiyyah; kita hanya wajib menjalankannya saja. Hikmahnya tidak dapat dijangkau oleh akal.

Pages