Humaniora

Membuntuti Ahok, Melihat Ahok Yang Sebenarnya

Ahok dari Ruang ke Ruang, Dari Meeting ke Makan, Dari Pagi Sampai Malam

Mengikuti Ahok bekerja seharian di Balaikota artinya mengikutinya berpindah-pindah dari ruang meeting ke ruang meeting yang lain. Saat saya tiba, Ahok sedang di mejanya menandatangi berbagai dokumen dibantu oleh ajudannya, Mas Pri. Saya sempat merekamnya melalui Facebook live.

Bela Imanmu, Son?

Dia membai'at semua orang bahwa dia Imam Besar Umat Islam. Padahal banyak ulama ulama yang lebih wara, zuhud, alim, berilmu yang diikuti puluhan juta manusia, mereka tidak berani menyebutnya dirinya Imam besar. Apa kurangnya kezuhudan K.H Hasyim Azhari dengan puluhan juta pengikutnya, apakah beliau menyebut dirinya Imam Besar Nahdatul Ulama ?, Apa kurangnya keilmuan K.H Ahmad Dahlan dengan puluhan juta juga pengikutnya, apakah beliau menyebut dirinya Imam Besar Muhammadiyah ?

Hoax di GA 697

Ilustrasi

Spekulasi itu makin berkembang jadi lebih serius dan menular ke beberapa penumpang lain. Tapi pengendali percakapannya tetap yang itu-itu saja. Sementara ibu di sebelah saya hanya sesekali menimpali sambil asyik main HP.
.
"Cuacanya cerah kok!"
"Sudah pasti rusak pesawat ini."
"Tidak usah dipaksakan terbang kalau memang rusak."
"Jangan membahayakan penumpang."
"Kalau cancel, mereka harus sediakan hotel buat kita malam ini."
Spekulasi, tuduhan dan tuntutan bersahut-sahutan.
.

Mengulik Sertifikasi Ulama

Krisis ulama dan cendekiawan muslim harus diakui tengah melanda di dunia Islam, bukan hanya di Indonesia tetapi juga dunia. Sementara ulama yang ada memilih untuk diam tak bersuara, lalu banyak kalangan politik yang menggunakan momentum ini untuk menciptakan ulama-ulama yang sesuai dengan tujuan politiknya. Akibatnya, adalah kekacauan luar biasa dan kekerasan atas nama agama terjadi di mana-mana.

Hantu Komunisme, Doktrin dan Akal Sehat

Ilustrasi

Saat ini kita bisa merasakan sendiri bagaimana ada kelompok-kelompok masyarakat yang secara terorganisir, massif dan sistematis memberikan stigma pki, komunis, pro china dan pro asing-aseng kepada pemerintahan Joko Widodo. Mereka tidak segan-segan menyebarkan informasi bohong, fitnah dan menyesatkan ( hoax ) serta tidak henti-hentinya memprovokasi massa dengan memanfaatkan panggung-panggung ibadah keagamaan untuk melawan, melawan dan melawan pemerintahan yang sah dan demokratis.

Dan Tuhan pun Ikut Pilkada

Ilustrasi

Saya perhatikan memang hanya sejumlah (ingat: SEJUMLAH) "ustad ngeles", serta tokoh agama yang nyambi jadi politisi dan politisi yang berlagak seperti agamawan di Jakarta (dan sekitarnya) saja yang hobi gembar-gembor melarang kaum Muslim memilih paslon non-Muslim (Ahok) sambil menakut-nakuti dengan dalil ini-itu, fatwa ini-itu. Karena Jakarta, mereka jadi berisik.

Agama dan Pembelaan

Tetapi semangat membela kaum lemah tertindas seperti itu kini tak lagi terliyak, setidaknya dalam gerakan-gerakan mengatasnamakan membela Islam di negara ini. Membela Islam dewasa ini justru membela orang-orang yg kuat berkuasa seperti membela calon gubernur, membela pemimpin berdaster yang tunggangannya rubicon, membela egonya sendiri yang merasa dizalimi padahal ngakunya mayoritas, membela mantan presiden yg ngeluh meski punya istana dan misih dikawal paspampres, membela jendral kuat dari persoalan HAM.

Pages