Humaniora

Kita Putuskan Mata Rantai Itu

Rakyat Jakarta 'pernah' merasakan bagaimana keberadaanya direken oleh pemerintah. Kita berharap kata 'pernah' tidak pernah terjadi. Artinya, siapapun yang akan memimpin Jakarta nanti rakyat tidak lagi cuma dihitung sebagai obyek. Tetapi justru dianggap sebahai subyek yang nyata.

Kita tahu bahwa Pemilu seringkali meninggalkan bekas yang panjang. Pilpres yang baru lalu membuktikan ada orang-orang yang tidak mau move on menghadapi kenyataan. Ada yang tidak bisa beranjak menerima hasil dari proses elektoral.

Memahami Kebablasan Demokrasi

5. Demokrasi adalah sebuah ruang yang menjadikan pejabat publik sebagai penyelenggaran negara dipilih, diawasi dan dikontrol oleh rakyat. Karena itu nilai ideal yang diterima secara universal. Presiden Jokowi sepakat 100 persen soal itu. Namun nilai ideal ini dalam prakteknya terjadi tarik menarik antara kekuatan yang ingin menegakan demokrasi substansial dengan yang sekedar puas dengan demokrasi formal. Di Indonesia, oligarki demokrasi formal yang berkuasa.

Kerancauan Pemikiran, Aqidah dan Syariat HTI

Ketiga, Ahlussunnah Wal-Jama’ah meyakini dan mengikuti metodologi ta’wil terhadap ayat-ayat al-Qur’an yang dianggap mutasyabihat. Penakwilan terhadap ayat-ayat mutasyabihat ini telah diajarkan oleh sahabat dan ulama salaf yang saleh seperti Ibn Abbas, Sufyan al-Tsauri, al-Bukhari, Ahmad bin Hanbal, al-Thabari, Ibn Hibban dan lain-lain.

Fenomena Hater di Jagat Medsos

1. Sabar menanti kabar buruk yang menimpa orang yang dibenci (patient hater/ pembenci sabar menanti...sabar menanti??? koyo warung bakmi etan bangjo purwosari wae... 
2. Berharap orang yang dibenci membuat kesalahan fatal sehingga ada momen untuk menjatuhkan
3. Dengan senang hati menyebarkan kesalahan orang yang dibenci
4. Senang dan antusias bergunjing dengan sesama pembenci (true hater/ pembenci sejati...dadi kelingan apotek jaman awal-awal praktek...Apotek Sehat Sejati... 

Saya dan Tionghoa

Sempat beberapa waktu tidak saling sapa, namun justru setelah itu kami jadi lebih akrab, dan sering berkomunikasi. Baik lingkungan saya yang Jawa ataupun keluarganya yang Tionghoa, sama-sama saling menjaga jarak. Seolah kalau berteman antara Jawa dan Tionghoa itu adalah sesuatu yang tabu. Namun akhirnya dengan komunikasi yang baik, kami akhirnya bisa sama-sama lebih paham budaya masing-masing.

Jenggot Sekedar Aksesoris Tapi Akhlaknya Jauh dari Akhlak Rasulullah

Kiai asal Cirebon ini menegaskan, percuma saja jika jenggot sekadar asesoris, tapi akhlaknya jauh dari akhlak Islam, tidak mengikuti akhlak Rasul. Karena misi yang paling subtansi dari Rasulullah adalah membangun akhlak.

Jika berjenggot malah menjadikan sombong, merasa paling benar, paling Islam, paling mengikuti sunnah Rasul, itu berarti bertolak belakang dengan sifat Rasululllah.

Pages