Humaniora

Khilafah dan Realisme Fikih Siyasah

Juwayni mengecam khalifah di Baghdad, yang nota bene keturunan Quraisy, sebagai pemimpin politik yang lembek dan inkompeten. Dalam situasi semacam itu, ketika muncul sosok di luar non-Quraisy yang lebih kompeten dan punya kekuatan politik dan militer, maka tampuk kepemimpinan harus diserahkan kepadanya. Bahkan Juwayni berkata bahwa umat Islam boleh mencabut kontrak kesetiaannya kepada pemimpin yang lemah manakala muncul pemimpin yang kuat.

Pamer Kedekatan dengan Tuhan

 

Namu relasi dengan Tuhan itu berbeda. Tidak utk diumbar apalagi dipamerkan via medsos, mengapa demikian? Karena ini soal hati yg plg dalam.

Semakin dekat anda dengan Tuhan, semakin anda hendak merahasiakannya. Semakin merunduk dan semakin merendahkan diri serendah-rendahnya.

Kalau pejabat/artis butuh dukungan anda sbg konstituten atau fans, Tuhan tdk butuh anda sbg hamba apalagi kekasih. Kitalah yg membutuhkanNya.

Tuhan terlepas dari sebab akibat. Tuhan tidak dibebani kewajiban mengabulkan pinta hanya karena kita rajin beribadah.

Poligami Bukan Perintah Tuhan

 

Pada masa itu bangsa Arab dalam kondisi yang sangat memprihatinkan, bodoh dan barbar.

Banyak sejarah yang berbicara bahwa ada ketidak-teraturan pada masa itu. Bahkan bangsa Arab pada masa itu terkenal suka menguburkan hidup-hidup anak perempuannya, karena malu sebab tidak bisa mewakili garis keturunan mereka.

Nah, turunnya Islam adalah mengatur ketidak-teraturan itu menjadi aturan..

Antara Karyawan Rasis dan Kambing

 

"Gini. Gue tahu dia benci banget sama Cina. Kalau dia punya kekuasaan mungkin gue akan diganyang. Keluarga gue dihabisin. Terus apa alasannya gue masih pertahankan dia di kantor. Itu sama aja ngasih makan anak singa yang nanti bakalan melahap gue idup-idup."

Rupanya teman saya ini benar-benar resah. Dia tidak menanggapi ledekan saya. "Kalau gue pecat dia, apakah gue salah?," tanyanya lagi.

"Tanpa ada sebab apa-apa lu langsung pecat?"

Takbir Yang Meneror Kampung

Saya ingat waktu itu, sehari setelah Idul Adha. Selepas Juhur mushola kami sepi. Saya mengajak Aa ke sana. Sengaja saya siapkan selembar kaos bersih yang saya bawa dari rumah. Saya meminta Aa untuk membersihkan tubuhnya di tempat wudhu. Mengganti pakaiannya yang dekil dengan kaos yang saya bawa. Setelah itu, kami masuk ke mushola. Saya menyalakan perangkat soundsystem yang saya ketahui caranya dari memperhatikan ketika marbot melakukannya.

Pages