Humaniora

Demam Naik Nggak Naik-Naik

Bagi kaum awam, model-model dakwah ala evangelis ini (Kristen maupun Muslim) jauh lebih mengena dan gampang dicerna karena disampaikan dengan logika-logika sederhana plus retorika yang memukau, ketimbang para ilmuwan atau ulama yang selalu "njlimet" dan "ndakik-ndakik" (detail, teliti, rumit sampai ke akar-akarnya) dalam menyampaikan sebuah persoalan sehingga sering kali susah untuk dicerna dan dipahami oleh masyarakat luas. 

Sejarah Tak Mengajarkan untuk Membenci

Agama Islam ketika pertama kali diperkenalkan pada masyarakat Mekkah dan Madinah dulunya pernah mengalami penindasan yang luar biasa kejam. Umatnya disiksa, ditindas, dibunuh, diusir dari rumah mereka, diperangi, dan lain sebagainya. Apa yang dialami umat Islam pada saat itu sangatlah mengerikan. Saya tidak yakin bisa bertahan dalam kondisi yang demikian buruknya. Umat Islam juga dimusuhi dan dikhianati oleh umat beragama lain pada waktu itu, yaitu umat Yahudi dan Nasrani. Hal ini membuat umat Islam berperang melawan mereka.

Kritik Terhadap Pemahaman Hadis “Membunuh Orang Kafir”

Hadis di atas jika dipahami secara buru-buru akan berakibat fatal. Sebab, kesan pertama dari hadis di atas bermakna bahwa Nabi diperintah untuk memerangi umat manusia sampai ia masuk Islam. Namun, jika diteliti lebih hati-hati, maka pemahaman atas hadis tersebut tidaklah demikian. Hal ini disebabkan oleh beberapa hal:

Lain di Arab, Lain di Indonesia

Yang lebih tahu tentang "jeroan" masyarakat Arab itu bukan para ustad dan dai (atau jamaah haji/umroh yang hanya tahu sekilas sekitar Masjid Nabawi dan Masjid Haram) tapi justru para TKI/W karena mereka punya "pengalaman langsung di lapangan" yang melihat, merasakan, mengamati, dan mengalami secara langsung pernak-pernik kehidupan masyarakat di kawasan Arab.

Mengajarkan Kebencian Sejak Dini

Kita ini sibuk mengurus hal sepele dan melupakan bahaya yang lebih besar. Keliru bersikap, keliru pula dalam memproteksi.

Saya melihat KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia) misalnya, absen dalam memberikan teguran pada aksi memalukan 313. Orang-orang itu mendandani anak-anak mereka layaknya teroris, menempelkan tulisan idiot di punggung mereka, "Kami kebal peluru." Padahal doktrin kekerasan (dan pembodohan) semacam itu jauh lebih berbahaya daripada memblur dada perempuan dan aksi kekerasan di televisi.

Apa Artinya, Pak Ustadz?

Dan benar saja, pada rakaat pertama Ustad Chalid membaca 30 ayat pertama surat al-Baqarah. Baozhai capek berdiri lama. Pada rakaat kedua, Baozhai lebih lama lagi berdiri karena ustad Chalid membaca 50 ayat berikutnya.

Baozhai pulang dengan kaki yang pegal. Istrinya mengurut kaki suaminya sambil berusaha menyabarkan.

Keesokan harinya, Baozhai memberanikan diri shalat lagi ke Masjid. Di pintu Masjid dia berpapasan dengan ustad Chalid. Langsung Baozhai bertanya:

Anies yang Takut dengan Kata-Kata

Tapi, ketika orang tampil di acara TV yang dapat direkam dan dianalisa omongannya, sekadar kelincahan retorika tidak lagi mencukupi. Apalagi dalam sebuah acara debat kampanye Pemilihan Gubernur yang memperbincangkan program kerja.

Inilah masalahnya. Kelincahan olah kata tidak cukup memadai jika harus menjelaskan program yang detil, terukur, dan komprehensif. Sebab dia harus memahami target dan tujuan program. Juga bagaimana cara melaksanakannya, berapa biayanya, apa dampaknya, serta siapa yang disasar.

Strategi Tidak Hadirnya Anies

Mereka berhitung, paling bulli-an tidak menghadiri debat hanya berlangsung sehari. Sedangkan jika hadir di debat, bisa berhari2.

Dari situ kita bisa melihat bahwa secara program dan kemampuan memaparkannya, Anies kalah jauh dibandingkan Ahok. Anies lebih mengandalkan kemampuan retorikanya daripada program. Ia dulu berharap bahwa pembawaannya yang tenang dan santun bisa menjadi jualan yang efektif.

Tapi sayang, Anies salah berhitung.

Pages