Humaniora

Penghargaan Di Tengah Gangguan

 

Prestasi Jokowi ditengah tekanan orang2 yg punya kepentingan cari makan, hujatan tak sopan tanpa alasan, serta perbuatan setan tdk menyurutkannya utk terus melaju memperbaiki kebobrokan yg diterimanya dari pejabat2 sebelumnya. Dengan diamnya dia berjalan pasti, dengan tekadnya membuat Indonesia menuju kemandirian sebuah negeri bisa diwujudkan, dan insyaallah berpengharapan dimasa depan.

Merasa Paling Suci

 

"Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan". (al-An'am: 108)

Pelaku Pembacokan Gereja Badog Tetap Pelaku Kriminal

Ilustrasi

Kalau ini motif agama, jelas akan merusak hubungan antar umat beragama. Ini akan meningkatkan semangat para kriminal lain sejenis sekaligus rasa permusuhan para fundamentalis di kubu yang 'berseberangan'. Untung dari para pengurus gereja dan jemaat yang saya temui di Bedog tadi tidak nampak sikap permusuhan ataupun sekedar kemarahan. Yang diucapkan adalah rasa terima kasih karena saya yang sarungan dan istri yang berjilbab sudah datang ke situ untuk menyampaikan simpati, dan sekedar bantu bersih-bersih.

Pembacok Romo Gereja Badog, Benci Kaum Kafir

Ilustrasi

Siang tadi, setelah dari Gereja itu, Buya menjenguk pelaku di RS. Bhayangkara (dalam foto). Setengah jam lebih Buya berdialog. Head to head. Beberapa hal yang bisa saya ceritakan ulang di sini antara lain bahwa pelaku masih sangat muda, 23 tahun, kelahiran 16 Maret 1995. Pernah kuliah 2 semester dan mondok 3 tahunan di Jawa Tengah. Ia baru tinggal di area situ 5 harian. Pedang ia dapatkan dengan menjual Hpnya kemarin. Motifnya? Ia mengaku benci orang kafir. Dipenggalnya patung-patung itu agar tidak disembah.

Intoleransi, Mencoreng Muka Sendiri

Ilustrasi

Sebagai seorang muslim yg sering beribadah di rumah dan sering melihat kantor dan jalanan umum dikadikan tepat ibadah, muncul pertanyaan dalam hati; apakah org2 Islam yg mengrebeg rumah Bante Nurhalim dan bikin kesepakatan itu pernah berpikir dan membayangkan bagaimana kalau rumahnya, tamunya dan kehidupannya selalu diawasi ummat lain agar tdk dipakai ibadah?

Pages