Humaniora

Jenggot Yahudi

 

Ada sejumlah "tafsir jenggot" dalam tradisi Yahudi. Maimonides atau Rabbi Moses bin Maimon, seorang filsuf dan pendeta Yahudi Sephardik di abad pertengahan yang sangat berpengaruh, misalnya, mengatakan bahwa memanjangkan jenggot bagi Yahudi merupakan sebuah "protes budaya" terhadap kaum penyembah berhala yang gemar mencukur jenggot.

Yang lain (lihat misalnya Louis Jacobs dalam "The Jewish Religion") menganggap jenggot sebagai pembeda antara laki-laki dan perempuan.

NU Mendayung antara Masyumi dan PKI

Ilustrasi

Tepat tengah malam pada 15 Februari 1958, Kiai Wahab terkejut bukan main mendengar Masyumi bergabung dengan pemberontak Dewan Banteng dan Dawan Gajah yang memproklamirkan Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI). Tanpa menunggu waktu lama, Rais Aam PBNU itu segera mengutus santrinya untuk memanggi Ketua Umum PBNU KH. Idham Cholid dan yang lainnya untuk melakukan koordinasi.

Seorang Muslim tak akan Hina Pemimpinnya, Ini Dalilnya

Ilustrasi

1. Wajib Taat Pemimpin KECUALI Pemimpin Menyuruh Berbuat Maksiat
ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﻤَﺮْﺀِ ﺍﻟْﻤُﺴْﻠِﻢِ ﺍﻟﺴَّﻤْﻊُ ﻭَﺍﻟﻄَّﺎﻋَﺔُ ﻓِﻴْﻤَﺎ ﺃَﺣَﺐَّ ﻭَﻛﺮَﻩَ ﺇِﻻ ﺃَﻥْ ﻳُﺆْﻣَﺮَ ﺑِﻤَﻌْﺼِﻴَّﺔٍ ﻓَﺈِﻥْ ﺃَﻣَﺮَ ﺑِﻤَﻌْﺼِﻴَّﺔٍ ﻓَﻼ ﺳَﻤْﻊَ ﻭَﻻ ﻃَﺎﻋَﺔَ
Rosulullah SAW bersabda, “Wajib atas seorang muslim untuk MENDENGAR & TAAT (kepada Pemimpin) pada apa-apa yang ia sukai atau ia benci, KECUALI bila Pemimpin itu menyuruh untuk berbuat maksiat." (HADITS SAHIH HR.Bukhari no.2955, no.7144)

Yang Tak Sempat Disaksikan Marx

 

Hanya beberapa langkah dari situ, berserakan makam-makam para tokoh partai komunis dari berbagai negeri. Saya sempat mencatat nama-nama di batu nisan, di antaranya Saad Saadi Ali pemimpin Partai Komunis Irak, Dr. Yusuf Mohamed Dadoo yang pemimpin Partai Komunis Afrika Selatan, tokoh sosialis dari Trinidad, Claudia Vera Jones. Selebihnya adalah keheningan.

Sana Minta Sepedanya sama PKI

 

Inilah akumulasi hasil dari masyarakat penyembah berhala modern, jabatan, kekuasaan, kekayaan dan mau hidup enak2an tanpa jelas apa yg dikerjakan. Inilah konsekwensi sebuah negara bila lembaganya berisi kebanyakan preman, bisa dibayangkan bagaimana "bejadnya" sebuah institusi parlemen menyandang lembaga terkorup thn 2016 dan sepertinya thn 2017 mereka masih bisa bertahan atas piala itu.

Musibah Kebudayaan

 

Kekalahan Ahok tempo hari bukan hanya soal kekalahan politik. Selain dijegal dengan cara yang keji, patut dicurigai, proses menjalankan pemerintahan daerah nantinya juga akan dipenuhi manipulasi. Nepotisme akan marak. Markup anggaran dan pos fiktif akan banyak bermunculan. DKI Jakarta yang gemuk akan diserbu oleh para penghisap darah.

Pages