Gaya Hidup

Penganut "Agama" Ambyar

ilustrasi

dan gak usah baper nemen2 jika ada satu dua "pemain bola" kena tekel "pemain bola" yang lain, karena tugas mereka memang saling tackling sementara bola di kuasai "bandar"nya toh skor sudah diatur oleh bandar, mirip hubungan jaman now yang penuh tikungan ...pokoke anggep wae mirip adegan semua dapat jatah kursi ketua dan wakil ketua... roto ! blas gak nyisa... sanga pas sepukuh jangkep...

Dasar Bocah

ilustrasi

Sementara tapi tiap hari dipompa terus tanpa henti dengan semangat hijrah, jihad, dakwah, dan pembelaan Islam sampai mendidih. Namun sisi tsaqafah, wa'yu serta nazhar masih terlalu mentah.

Akibatnya semua orang dibikin repot. Kurang lebih begitulah dulu saya, ketika masih duduk di SMA. Galak, sok paling Islami, sok furqan, sok anti riba, sok anti liberal, dan sok-sok yang lain.

Gara-gara Kritik Lulusan LPDP Tak Mau Salaman Beda Muhrim

ilustrasi

 Aneh jika anak-anak yang tidak mencintai negaranya tapi dapat beasiswa dari uang negara. Kabarnya banyak yang kategori begini menerima beasiswa LPDP tapi setengah mati benci pemerintah.
Kami malah pernah betempat dengan dosen Unpad, IPB dan dekan fakultas hukum UGM jadi narasumber LPDP untuk menberi masukan soal lulusan LPDP. Saya usul lulusab LPDP tidak perlu langsung pulang , biarkan menimba pengalaman dulu di LN agar punya pengalaman di luar studi. Seperti orang China dan India.

Karena Ulah Mahasiswa Jumawa, Indonesia Membara

ilustrasi

Pada saat mereka dengan arogan menolak undangan Presiden Jokowi untuk berdialog, mereka tidak sadar bahwa mereka sedang membuka topeng kemunafikan yang selama ini mereka sembunyikan. Momentum emas telah mereka sia-siakan dengan sukses. Menurut saya mengapa mereka menolak bertemu Presiden karena sejatinya mereka tidak punya lagi argumen yang mampu mereka sajikan di hadapan Presiden.

Sang Buzzer

ilustrasi

Tapi dari beberapa orang yang menuduh, tidak ada satupun yang berani atau bisa membuktikan. Semua hanya asal jeplak, karena mereka tidak punya data dan argumentasi yang logis untuk membantah postingan saya. Biasanya sih tidak saya tanggapi, saya anggap laler nempel saja. Tapi laler nempel boleh khan sesekali di tepok. Gak kena paling terbang, kalau kena khan matek.

Risma dan Demonstran

ilustrasi

Ya. Para demonstran memang jauh lebih takut 'disemprot' Bu Risma, dari pada disemprot 'water canon' polisi . . .

Tapi penghargaan mereka pada 'Ibu-nya' itu memang layak diberikan. Risma sebelumnya berpesan, pada aparat, yang sedianya mau jaga.

Menghadapi Kelompok Terpapar Radikal dan Kapital

ilustrasi

Itulah skenario yang telah berhasil digagalkan oleh pemerintah. Ditangkapnya Dosen IPB sebagai tersangka menjadi bukti bahwa rencana itu benar-benar ada. Jokowi yang membaca skenario itu segera mengeluarkan pernyataan untuk pertimbangan keluarnya Perppu. Jika tidak, gelombang massa dari mahasiswa akan menjadi berkesinambungan dan ditunggangi oleh kelompok perusuh.

Pak Yulianto Polisi Humanis dari Jogjakarta

ilustrasi

Ketika demo Gejayan berlangsung dua kali, ada timbal balik kepercayaan antara mahasiswa dan pendemo, masyarakat, dan kepolisian, sehingga tidak ada satu konflik pun yang terjadi. Pendemo puas bisa menyampaikan uneg-unegnya. Mereka pulang sebelum matahari sempat terbenam, dan polisi pun bisa langsung pulang beristirahat kembali kepada keluarganya. Masyarakat Jogja pun tidak tampak terganggu dengan demo dua kali ini, bahkan sebagian mereka ikut menyumbangkan makanan dan minuman.

Pages