Gaya Hidup

Belajarlah dari Banjir Praha

ilustrasi

Sampai kemudian tahun 1957, seorang insinyur Austria bernama August Zottl menyusun strategi mitigasi yang amat massif. Yaitu membuat kanal baru di sebelah Sungai Donau, kanal raksasa yang dibuka ketika ada ancaman banjir datang. Usulan ini butuh waktu cukup lama, 15 tahun, untuk bisa disetujui oleh pemerintah kota, dan setelah melalui perdebatan yang amat sengit, tahun 1972 dimulailah pengerukan kanal raksasa, yang saat ini disebut dengan Neue Donau (Donau Baru).

Respek Untukmu Koh Ahok

ilustrasi

Air hujan tuh harus masuk ketanah, jadi kalo sekarang banjir ya sabar, airnya masih ngantri.. Sungai mah gak perlu dinormalisasi, katanya mending dinaturalisasi. Gak tahu juga deh.. Definisi natural ala gubernur seiman itu yang gimana, mungkin yang dibiarin aja tanpa sentuhan pembangunan, alhasil airnya meluber kemana2.

Bisnis Akun Buzzer

ilustrasi

Selama ini saya hanya dengar-dengar, like memang diperjualbelikan. Tapi baru kali ini dekat sekali dengan bisnis akun ini. Otomatis saya membayangkan para pengguna medsos. Ya teman-teman FB saya sih rata2 orang melek. Masalahnya, yang nggak melek soal beginian di luar sana banyak banget, dan mereka sangat rentan kena hoaks. Bahkan saya menyaksikan sendiri bagaimana seorang profesor doktor termakan dan sharing hoaks yang banyak disebarkan oleh akun-akun bodong ini.

Orang Ikhlas Itu Malati

ilustrasi

Sebenarnya kita bisa belajar dari apa yang terjadi kepada para pemfitnah Gus Dur. Meskipun mungkin maqam (tingkatan) Jokowi dan Ahok tidak seperti Gus Dur, setidaknya kita bisa belajar bahwa orang-orang yang ikhlas bekerja untuk negaranya adalah orang-orang yang bisa "malati". Karena ikhlas adalah Ilmu yang paling tinggi dalam capaian manusia. Apalagi jika ia sampai didzalimi, maka tak ada lagi hijab (penghalang) antara ia dengan Tuhan tanpa peduli apapun Agamanya.

Kalo Inget Cara Anies Kampanye, Pedih

ilustrasi

Model gitu kira2 kelompok apa ya? Gubernur sudah ganti sejak kapan tapi masih bawa2 presiden. Lalu gubernurnya ngapain?
Kemarin Anies bilang bahwa Kampung Pulo masih banjir walaupun sudah dilakukan normalisasi sungai.
Nah ini lagi2 nyalahin pihak lain. Seakan-akan dia bilang "buat apa repot2 normalisasi, kan tetep banjir."
Model orang nggak mau kerja, main kata2 terus. Sungguh mahal ongkos memilih orang yang salah.

Para Pejuang Khilafah, Selesaikan Dulu Khilafiyah Antara Kalian

ilustrasi

Belum lagi soal siapa yang layak menjadi khalifah, Amir Al-Qaeda-kah? Khalifah Khilafatul Muslimin? Imam NII-kah? Khalifah ISIS-kah? Amir Hizbut Tahrir-kah? Atau Mursyid ‘Am Ikhwanul Muslimin-kah? Soal lainnya, masalah Undang-undang Dasar (dustur) yang mau diterapkan: Versi Al-Qaeda-kah? Khilafatul Muslimin-kah? NII-kah? ISIS-kah? Hizbut Tahrir-kah? Ikhwanul Muslimin-kah? Belum lagi soal bendera khilafah, bendera versi siapa yang mau digunakan? Al-Qaeda-kah? Khilafatul Muslimin-kah? NII-kah? ISIS-kah?

Awal Tahun yang Kelabu

Kawasan rumah kami, sejak dulu, sudah terkenal sebagai kawasan banjir. Sering masuk TV pula. Sering ortu saya di Padang khawatir kalau nonton berita TV soal banjir; selalu saja kawasan kami disebut. Tentu kami membeli rumah di blok yang dulu kabarnya tidak kena banjir. Tapi seiring waktu, ya akhirnya kebanjiran juga. Memang sih, banjir belum pernah masuk rumah, meski jalanan sudah menggenang seperti sungai dan rumah di kiri kanan tergenang beberapa senti (tapi pernah terjadi, air meluap dari saluran kamar mandi). 

Kado Tahun Baru Jakarta yang Jancuk-An

ilustrasi

Cobak kalau sudetan Kampung Melayu segera dituntaskan. Dana untuk 'sumur resapan' ndak dihamburkan untuk 'berhala' bambu atau batu.
Jalan komplek saya ndak usah di cor jalan-nya, duitnya buat bikin 'rumah pompa'. Dan lain-lain . . .

Duit anggaran cuma buat 'tebar pesona'. Banjir tinggal nunggu hasil kerja Presiden Jokowi, bikin dan tuntaskan 2 bendungan di hulu sungai yang mengarah Jakarta . . .

Pages