Artikel Pilihan

Mengulik Sertifikasi Ulama

Krisis ulama dan cendekiawan muslim harus diakui tengah melanda di dunia Islam, bukan hanya di Indonesia tetapi juga dunia. Sementara ulama yang ada memilih untuk diam tak bersuara, lalu banyak kalangan politik yang menggunakan momentum ini untuk menciptakan ulama-ulama yang sesuai dengan tujuan politiknya. Akibatnya, adalah kekacauan luar biasa dan kekerasan atas nama agama terjadi di mana-mana.

Kampanye Rasis Anti Kebhinekaan Anies

Ilustrasi

Dan lagi-lagi, kampanye diskriminatif berbasis SARA keluar dari paslon Gubernur DKI no-3 ini. Menjadikan isu beda agama adalah penggiringan (pembodohan?) publik menjadi irrasional-emosional dan makna demokrasi direduksi dan tunduk pada pemikiran-pemikiran primordial dan otoriter. Dan pada akhirnya akan melahirkan pemimpin yang rasis.

Tentu mempertimbangkan agama dalam memilih pemimpin bukan hal yang salah. Namun, jika pertimbangan agama menggeser ukuran-ukuran rasional secara menyeluruh, demokrasi akan gagal menghasilkan pemimpin yang berkualitas.

Berebut Franchise Tuhan dalam Pilkada

Berbeda dengan Anies. Dia terang-terangan mendatangi markas FPI dan semakin menunjukan keberpihakkan pada kelompok ini. Dalam wawancara di acara Mata Najwa, Anies juga terang-terangan mengharamkan memilih pemimpin non-muslim. Sebuah sikap yang bertolak belakang dengan idenya merajut tenun kebangsaan. Rupanya, dia masa bodo dengan tenun kebangsaan, yang penting menang Pilkada.

Jadi statemen keluar karena momen Pilkada saja. Anies sedang berusaha mendapatkan lisensi Tuhan untuk kampanyenya.

Pesan Gus Mus...

Kita sering lupa bahwa masing-masing calon itu sama-sama orang Indonesianya. Ndak ada orang Yahudinya, ndak ada orang Amerikannya, tidak ada orang Arab atau orang yg lainnya. Orang Indonesia semua. Prabowo sama Jokowi sama-sama Indonesia. Kedua-duanya pasti mempunyai program untuk kebaikan Indonesia, tapi ketika pendukung ini selalu berlebih-lebihan di dalam mendukung calonnya, selalu tidak hanya memuji calonnya saja.

Hantu PKI di Pendataan Kyai

Ilustrasi

Adu Domba Data
Catatan Fealy, McGregor maupun Hermawan Sulistyo (Palu Arit di Ladang Tebu: 2000) menunjukkan eskalasi pembantaian tertuduh komunis dimulai minggu kedua Oktober 1965. Sangat mungkin amuk tersebut berlangsung setelah puluhan kiai berpengaruh dikumpulkan Basuki Rahmat, Pangdam Jawa Timur.

Pages