Artikel Pilihan

Si Bunglon Cagub DKI

Anies Baswedan

Saya fikir dia lebih kepada bunglon, menggunakan kamuflase sesuai lingkungan yang dia butuhkan. Menggunakan jargon-jargon yang disukai tergantung dari publik mana yang dia butuhkan dukungannya. Sekarang selubung itu sudah terbuka. Untuk menang dalam Pilgub Jakarta, Anies mengorbankan prinsip dan ideologi yg dia khotbahkan kepada khalayak dulunya seperti Merajut Tenun Bangsa dan merangkul jargon-jargon baru yang bertolak belakang dengan jargon sebelumnya.

Jihad Membendung Hoax Yang Meresahkan

Mengonsumsi berita juga perlu kita perhatikan. Asupan informasi yang baik tentu dapat membuat pikiran kita positif, pun sebaliknya dengan berita negatif dan provokatif, apalagi berita bohong atau informasi palsu (hoax). Berita hoax belakangan ini cukup meresahkan masyarakat. Pasalnya, tak hanya berita isu berskala lokal atau nasional, hoax bisa menyerang seluruh aspek kehidupan manusia. Isu agama, ekonomi, politik, kesehatan, dan isu lainnya tidak luput dari sasaran empuk pembuat hoax.

Ahok-Djarot Ungguli Agus dan Anis

Perlu saya kemukakan bahwa jajak pendapat ini tidak terkait dengan elektabilitas paslon-paslon tsb. Ia hanya merupakan salah satu indikator tentang bagaimana penilaian publik, yang menyaksikan debat paslon Pilkada DKI pada ronde ke 2 semalam, terhadap kualitas mereka, baik dalam hal komunikasi, substansi, dan respon mereka terhadap pertanyaan-2 yang diajukan oleh moderator.

Akbar-nya Patrialis

Benar saja. Begitu keluar dari ruang pemeriksaan dan memakai baju indah berwarna oranye sebagai yang pertama dikatakan oleh Patrialis di depan wartawan adalah, “Saya dizalimi”. Katanya, dia tidak menerima uang sesen pun dan Pak Basuki yang disangka menyuap dirinya itu bukan orang yang beperkara di MK. Lihatlah ke belakang.

"Wayang Itu Haram!" Haram Lambemu...

Pemerintah Turki Usmani dulu menggunakan seni pertunjukkan wayang di seluruh kekuasaan Ottoman termasuk Arab, Timur Tengah dan Yunani. Para elit Muslim rezim Turki Usmani menggunakan wayang sebagai medium untuk mengsosialisasikan program-program pemerintah maupun alat komunikasi dan berinteraksi dengan warga, selain sebagai "hiburan rakyat" tentunya. "Karagoz" melambangkan "kelas bawah"("wong cilik") sementara "hacivat" menggambarkan "kelas atas" dan "golongan terdidik" ("wong gede").

Ilusi Kaum Jenggoters

Kaum jenggoters memang terbiasa menghibur diri untuk hal-hal yang membuat mereka mestinya merasakan sedih perih kalau mengetahui kenyataan sebenarnya. Maka dikaranglah cerita-cerita oleh para buzzer bahwa ada konspirasi dalam penangkapan tokoh-tokoh politik yang kadung mereka kultuskan. Juga soal rencana kunjungan Raja Salman, yang katanya akan menemui Sang Imam Besar Ormas Anu karena marah mengetahui beliau dikriminalkan. Konon informasi di media-media sosial yang disebar para buzzer, mendapat share hingga puluhan ribu. Ck Ck ckkk....

Ketika Ibadah Jadi Sarang Kebencian

Sertifikasi penceramah agama adalah langkah maju dari pemerintah saat ini. Mungkin harus ada kejadian dulu baru kita tanggap akan situasi.

Selayaknya kita belajar dari negara lain yang sudah menerapkan itu jauh hari sebelumnya. Iran dan Mesir mungkin bisa jadi rujukan, karena mereka pernah mengalami situasi pahit dimana ulama dijadikan kendaraan untuk kekuasaan..

Pages