Artikel Pilihan

Pasca Debat Calon Gubernur, Anies Layak ditinggal Pemilihnya

2. Tentang Soeharto: "Dari Soeharto, kita bisa lihat figur yang stabil dan tidak emosional termasuk dalam melakukan pendekatan." Menekan habis pers dan kebebasan berpendapat, juga membiarkan kroni dan keluarga menguasai dan merusak SDA juga membentuk kartel menguasai duit rakyat - tapi tetap kalem & tidak emosional. Hm. Anies tidak objektif, karena gaya esem bupati Soeharto juga merugikan banyak orang

Anies Jadi Gubernur, Jakarta Bubar

Berbeda dengan Anies. Dia berfikir pemerintah bisa membantu masyarakat membeli rumah. Bukan dengan membangun rumah, tapi dengan DP disubsidi. Dari mana rumahnya? Dari masyarakat yang mau menjual rumah.

Sebelumnya dia mengatakan harga properti naiknya 20% setahun. Artinya jika pemerintah mau mensubsidi DP, angkanya juga akan naik 20% setiap tahunnya.

Jangan Lupa Kalau Umat Islam Berhutang Budi Kepada Ahok

Ahok juga memberi Kartu Jakarta Pintar (KJP) untuk sekolah madrasah dan para guru dengan anggaran 2.5 trilliun. Hal ini ia lakukan agar gaji guru madrasah yang selama ini berasal dari biaya SPP murid dapat bertambah. Ahok juga bertekad menjadikan Jakarta Islamic Center (JIC) sebagai salah satu destinasi wisata religi milik Pemprov DKI Jakarta dengan harapan banyak orang yang nanti bisa belajar Islam di JIC.

Rekam Jejak Kyai Ishomuddin

Kyai Ishomuddin sudah terbiasa dengan memimpin rapat-rapat besar di dalam NU dari tingkat MUNAS sampai Muktamar. Dia adalah salah satu kunci sukses adanya perubahan sistem pemiliihan jabatan Rais Aam yang dulunya langsung dipilih oleh cabang-cabang menjadi dipilih oleh ahlul halli wa al-aqdi. Dalam Muktamar Jombang, kyai Ishomuddin juga memimpin siding besar dan saya teringat begitu riuhnya sidang pada saat itu karena kontroversi ide ahlul halli wal aqdi.

Pages