Artikel Pilihan

Rasionalitas Publik (Refleksi Kemenangan Ahok)

Ilustrasi

2. Benarkah di daerah Jakarta Utara dan Barat paslon 2 menang? Jika iya, ini pukulan berat untuk argumen bahwa elektabilitas Ahok turun karena kebijakan-kebijakannya yang tidak pro-miskin dan menyengsarakan rakyat kecil. Analisa2 lanjutan masih akan muncul, untuk menunjukkan apakah benar asumsi sementara (dari seorang mentor saya) ini: Ahok didukung kelas bawah/miskin dan menengah ke atas, tapi tidak didukung menengah ke (hampir) bawah.

Kado Pahit Antasari Azhar Buat SBY Jelang Pilkada

Temuan itu mengantarkan Antasari buat melakukan langkah penyelidikan awal. Pada 21 April 2009, Antasari berbicara kepada media mengenai langkah yang akan diambil KPK, “Dalam kasus ini, saya merasa bertanggung jawab sebagai Ketua KPK yang memiliki tugas untuk memonitor dan mencegah orang dan sistem menjadi korup.” Namun, belum sampai kasus itu disidik hingga tuntas, Antasari justru tersangkut kasus pidana.

Siapa Saja Ustadz yang Ikut Umroh Politik Bareng AHY?

Rombongan peserta Umroh bareng AHY

Umroh Jelas Halal Tapi…..

Kegiatan agama yang sebenarnya biasa tetapi karena waktunya berdekatan dengan Pilkada, memakai atribut calon gubernur maupun menunjuk simbol no urut sungguh sangat memprihatinkan. Apalagi umat Islam di Indonesia sedang mendapat ujian berat berupa mempertahankan toleransi, keberagamaan, menghargai umat lain yang selama ini diajarkan oleh Rasulullah.

Mengulik Sertifikasi Ulama

Krisis ulama dan cendekiawan muslim harus diakui tengah melanda di dunia Islam, bukan hanya di Indonesia tetapi juga dunia. Sementara ulama yang ada memilih untuk diam tak bersuara, lalu banyak kalangan politik yang menggunakan momentum ini untuk menciptakan ulama-ulama yang sesuai dengan tujuan politiknya. Akibatnya, adalah kekacauan luar biasa dan kekerasan atas nama agama terjadi di mana-mana.

Kampanye Rasis Anti Kebhinekaan Anies

Ilustrasi

Dan lagi-lagi, kampanye diskriminatif berbasis SARA keluar dari paslon Gubernur DKI no-3 ini. Menjadikan isu beda agama adalah penggiringan (pembodohan?) publik menjadi irrasional-emosional dan makna demokrasi direduksi dan tunduk pada pemikiran-pemikiran primordial dan otoriter. Dan pada akhirnya akan melahirkan pemimpin yang rasis.

Tentu mempertimbangkan agama dalam memilih pemimpin bukan hal yang salah. Namun, jika pertimbangan agama menggeser ukuran-ukuran rasional secara menyeluruh, demokrasi akan gagal menghasilkan pemimpin yang berkualitas.

Berebut Franchise Tuhan dalam Pilkada

Berbeda dengan Anies. Dia terang-terangan mendatangi markas FPI dan semakin menunjukan keberpihakkan pada kelompok ini. Dalam wawancara di acara Mata Najwa, Anies juga terang-terangan mengharamkan memilih pemimpin non-muslim. Sebuah sikap yang bertolak belakang dengan idenya merajut tenun kebangsaan. Rupanya, dia masa bodo dengan tenun kebangsaan, yang penting menang Pilkada.

Jadi statemen keluar karena momen Pilkada saja. Anies sedang berusaha mendapatkan lisensi Tuhan untuk kampanyenya.

Pages