Artikel Pilihan

Umat Yang Dibawa Demo Berjilid-jilid

Islam politik  (baca: Islamisme) sering menggunakan kata “umat” sebagai branding,  yang tujuannya tidak lain untuk mengaduk-aduk emosi para audience. Memainkan emosi di media sosial merupakan cara efektif untuk mendapat dukungan dari berbagai pihak. Hasilnya bisa dilihat sendiri, hanya dengan waktu singkat, mereka bisa mengumpulkan dan memobilisasi anggota, demi tujuan dan kepentingan politik mereka.

Reuni 212 Giring Umat Pilih Capres Tak Faham Islam

Ilustrasi

Menurut Inas, tujuan Reuni 212 sudah melenceng dari tujuan utama. Dia menyebut Reuni 212 tidak lagi murni membela agama.

"Reuni 212 tidak lagi murni aspirasi umat Islam dengan ketulusan membela Islam, tapi sarat dengan politik praktis untuk mengarahkan umat agar mengikuti kehendak orang-orang tertentu untuk memilih capres 02 dengan cara yang sangat tidak elegan, yakni mendeskriditkan pemerintahan yang sekarang yang bukan lain adalah capres 01," ujarnya.

Pilih Capres Karena Takut Masuk Neraka

 

Kalau melihat isi pidatonya, Tim Ahli Prabowo mungkin pusing kepala. Data yang mereka sodorkan sering tak terpakai, padahal sudah diberi petunjuk bagaimana membaca data secara terbalik. Tapi sebagai pecatan militer, Prabowo terbiasa punya cara baca sendiri. Pernyataannya jadi sering blunder. Sikap megalomanianya tidak memberi ruang empati pada liyan.

Mengingat Kembali Kekejaman Orde Baru

 
Siapapun politisi yang menginginkan kembali seperti pada zaman ORBA, berarti mereka politisi dungu tuna sejarah, atau setidaknya mereka itu berarti pernah merasakan bagaimana menikmati kemewahan di atas derita rakyatnya. Rakyat yang dipaksa hanya bekerja, namun tidak bebas menentukan masa depannya. Rakyat yang dipaksa menanam cengkeh namun kemudian dibangkrutkannya. Rakyat yang diperintahkan belajar namun setelah mengerti dan mengkritisinya diculik dan dibunuhnya.
 

Menilai Dalih Dahnil Anzar Tentang Pemeriksaan Dirinya

Ilustrasi

Saya pernah wawancara audit dengan orang yang datang baik-baik ke ruang pemeriksaan, menjawab dengan lancar dan kemudian segala sesuatu berjalan sempurna. Tapi ya pernah juga ada orang yang diwawancara dengan defensif bahkan dia jadi lebih agresif; menantang berkelahi, marah-marah dan menolak hadir bahkan ada juga yang mencoba mengaburkan barang bukti. Padahal mereka juga ya belom tentu terbukti bersalah dalam pemeriksaan.

Pages